adplus-dvertising

Kisah Perjuangan Karim dan Sindi, Pasangan Suami Istri Penyandang Tunanetra

Wa Ode Umratul Khazanah, telisik indonesia
Kamis, 30 September 2021
1047 dilihat
Kisah Perjuangan Karim dan Sindi, Pasangan Suami Istri Penyandang Tunanetra
Karim dan Sindi sedang mengamen di pinggir jalan Kota Kendari. Foto: Umratul Khazanah/Telisik

" Dia menciptakan manusia dengan sebaik-baik rupa, dan menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan "

KENDARI, TELISIK.ID - Tuhan memang Maha Adil. Dia tak pernah membebani hamba-hambaNya, melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

Dia menciptakan manusia dengan sebaik-baik rupa, dan menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan.

Adalah Karim (32 tahun) dan Sindi (24 tahun), pasangan suami istri penyandang tunanetra, setiap hari rela menjadi pengamen jalanan, demi keberlangsungan hidup keluarga mereka.


Sampai saat ini, sejak terlahir ke dunia, Tuhan belum mengizinkan Sindi untuk memandang dunia dengan mata yang sempurna.  Sementara itu, Karim kehilangan indera penglihatannya sejak berumur 12 tahun. Saat itu, ia duduk di bangku kelas 6 SD.  

Kepada Telisik.id, Karim mengaku sempat putus asa dan  marah pada takdir yang diberikan Tuhan untuknya. Ia merasa tidak mampu menjalani kehidupan sebagai penyandang tunanetra.

Namun lewat komunitas PERTUNI (Persatuan Tunanetra Indonesia), ia bertemu banyak saudara yang senasib dan sepenanggungan dengannya.

“Dulu saya sempat marah dan tidak terima, tapi ternyata saat saya bergabung bersama PERTUNI saya sadar bahwa ternyata masih ada lagi orang di bawah saya. Sejak saat itu saya bangkit kembali dan menjalani hidup dengan normal,” ungkapnya saat ditemui Rabu (29/9/2021).

Meski demikian, pada Karim dan Sindi,  Tuhan benar-benar menunjukkan betapa maha adilnya Dia. Meski terlahir dengan mata yang cacat, Karim dan Sindi punya bakat yang luar biasa. Mereka punya suara yang indah serta mahir bernyanyi.

Dengan kemampuan dan bakat inilah mereka mengadu nasib menjadi pengamen jalanan di pinggir jalan, di salah satu kawasan pusat perbelanjaan Kota Kendari, Lippo Plaza.

Dengan kondisi seperti ini, tidak ada upaya lain yang dapat mereka lakukan demi mendapatkan pundi-pundi rupiah.

"Alhamdulillah saya lahir dari keluarga yang hampir rata-rata tau bernyanyi, jadi saya pun belajar," tambahnya lagi.

Baca Juga: Mengidap Leukemia, Balita Alifa Butuh Uluran Tangan

Baca Juga: Tak Ingin Harap Iba, Nenek Ini Rela Jualan Sayur hingga Malam

Setiap hari, mereka duduk dan bernyanyi di pinggir jalan. Berjemur terik matahari dan menghirup debu-debu jalanan dari pukul satu siang hingga pukul 8 malam

“Alhamdulillah meski tak banyak, dengan ini kami bisa membiayai hidup kami,” ungkap Karim, tetap bersyukur di tengah kekurangannya.

Tak hanya itu, Karim dan Sindi mengaku sempat mengadu nasib dengan mengikuti ajang pencarian bakat, namun lagi-lagi Tuhan belum berkehendak.

Karim dan Sindi adalah sepasang suami istri yang dipersatukan Tuhan sejak 4 tahun silam. Saat ini, mereka telah dikaruniai seorang putra, yang beberapa hari yang lalu genap berusia 2 tahun. (C)

Reporter: Umratul Khazanah

Editor: Haerani Hambali

Baca Juga