adplus-dvertising

Kisah Shinta Amalina Hazrati Havidz, Perempuan Indonesia Peraih Gelar Doktor Termuda di Perguruan Tinggi Tiongkok

Nina Nurrahmah, telisik indonesia
Rabu, 11 Agustus 2021
4171 dilihat
Kisah Shinta Amalina Hazrati Havidz, Perempuan Indonesia Peraih Gelar Doktor Termuda di Perguruan Tinggi Tiongkok
Shinta Amalina bersama kakak dan kedua orangtuanya saat diwisuda S3 di Wuhan University of Technology (WUT) China. Foto: Ist.

" Perempuan yang memiliki hobi sekolah ini sejak kecil sudah hidup berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain, bahkan dari satu negara ke negara lain "

JAKARTA, TELISIK.ID - Shinta Amalina Hazrati Havidz atau lebih dikenal dengan panggilan akrab Mbak Ita adalah perempuan mungil dari Tanah Pilih Pesako Betuah Jambi yang menjadi perempuan Indonesia termuda peraih gelar doktor di perguruan tinggi Tiongkok.

Ia lahir dari sepasang suami istri yang sangat mencintai pendidikan. Ayahnya bernama Prof. Ir. HM. Havidz Aima, M.Sc, Ph.D. CFRM dan Ibunya bernama R. Ngt. Hernawati W Retno Wiratih, S.Pd, M.Sc.

Perempuan yang memiliki hobi sekolah ini sejak kecil sudah hidup berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain, bahkan dari satu negara ke negara lain. Ia menghabiskan 3 tahun masa kecilnya di Filiphina karena mengikuti papi dan maminya yang sedang melanjutkan studi di salah satu kampus di Filiphina.


Anak kedua dari 3 bersaudara ini bahkan baru belajar bahasa Indonesia ketika duduk di Sekolah Dasar. Sebelumnya ia lebih sering menggunakan bahasa Inggris dibandingkan bahasa Indonesia. Masa kecilnya dipenuhi dengan kegiatan demi kegiatan.

“Sejak awal masuk sekolah dasar, aku sudah diikutkan les sana sini oleh mamiku. Mulai dari les privat bahasa Inggris, latihan seni bela diri shorinji kempo, ngaji, dan les-les tambahan di sekolahku," ujar Shinta pada Selasa (10/08/2021).

“Aku telah dibiasakan dengan jadwal padat sejak kecil. Jadwalku benar-benar penuh dari pagi sampai sore hari. Dalam sehari aku cuma punya waktu main 2 jam yaitu dari pukul 2 siang sampai pukul 4 sore. Pukul 5 sore aku sudah harus mandi. Lalu pukul 7 sampai 9 malam aku harus belajar bersama kakak dan adikku. Tidak ada satu orangpun yang diizinkan nonton TV oleh papi dan mami,” ujar Shinta.

Shinta Amalina didampingi papi, adik serta kakaknya saat menerima penghargaan dari Rekor MURI sebagai perempuan Indonesia termuda peraih gelar doktor di Perguruan Tinggi Tiongkok. Foto: Ist.

 

Tamat SD, Shinta Amalina melanjutkan pendidikan SMP-nya di SMPN 7 Kota Jambi, sekolah bertaraf internasional. Sekolah ini adalah sekolah modern yang selalu kaya akan prestasi, bernuansa IT, unggul, berwawasan lingkungan dan global serta berlandaskan iman dan taqwa. Di Sekolah ini ia masuk dalam kelas unggulan bersama teman-teman hebat lainnya.

Dengan bakat seni bela diri yang ia miliki, Shinta berhasil melanjutkan pendidikan SMA-nya di SMAN 1 Jambi yang merupakan sekolah tervaforit di Kota Jambi. Di sekolah ini Ia pun berulang kali mencetak prestasi demi prestasi dalam seni bela diri kempo.

Setelah berhasil lulus dari SMA, Shinta melanjutkan pendidikan sarjananya di President University di Bekasi, Jawa Barat, dengan mengambil jurusan keuangan. Setiap liburan kuliah Shinta selalu mengisinya dengan mengikuti berbagai kegiatan seperti kepanitiaan penerimaan mahasiswa baru dan ikut kerja part time.

Ia bahkan pernah menjadi sales di Honda Motor daerah Cikarang. Shinta ikut menyebarkan brosur di jalanan, pasar, dan tempat-tempat ramai lainnya. Bahkan keliling door to door cuma untuk nyebarin brosur yang berisi penjualan sepeda motor. Di ujung rasa putus asanya, ia berhasil menjual satu sepeda motor. Lalu setelah itu Ia resign dan memutuskan untuk kembali fokus kuliah lagi.

“Setelah memperoleh gelar sarjana dari President University di Bekasi, Jawa Barat, aku langsung dikirim ke Negeri Tirai Bambu, China,” ujar Shinta.

“Jadikan traveling sebagai motivasi kamu untuk sekolah ke luar negeri. Dengan sekolah ke luar negeri, kesempatanmu untuk traveling jauh lebih banyak ketimbang kamu sekolah di Indonesia,” kata Mami Ratih, ibu dari Shinta.

Mami Ratih melanjutkan bahwa kamu pun bisa memperpanjang masa liburanmu, memperpanjang masa pencarian jati dirimu, memperpanjang proses pengembangan diri menuju lebih baik dan yang pasti belajar mandiri.

“Semakin sering kita melakukan perjalanan, maka kita akan semakin menjadi hamba Tuhan yang bersyukur dengan menyadari bahwa ciptaan Tuhan sungguh luar biasa. Dan itu hanya bisa kamu nikmati ketika kamu bepergian dari satu kota ke kota lain. Tidak cukup hanya di Indonesia. Dunia ini luas. Sekarang Tuhan memberikanmu kesempatan untuk menikmatinya," tambah Mami Ratih memberi wejangan pada putrinya.

Shinta Amalina bersama buku biografinya yang berjudul "Sekolah Itu Hobi". Foto: Ist.

 

Di China, Shinta melanjutkan gelar masternya di Wuhan University of Technology (WUT) jurusan Enterprise management dengan research orientation in Financial manaagement atau kalau di Indonesia biasa dikenal dengan jurusan manajemen keuangan.

Baca Juga: Aditya Prayoga: Pedagang Sabun Pemilik 5 Rumah Makan Gratis dan ATM Beras

Baca Juga: Profil Mendiang Wakil Bupati Konawe Gusli Topan Sabara

Gadis yang lebih sering berambut pendek ini juga jago dalam beberapa bahasa mulai dari bahasa Tagalog, Inggris, dan Korea.

Dalam perjalanan melanjutkan studi master dan doktornya di Wuhan, China, Ia tidak hanya belajar di kampus saja. Tetapi juga bisa merasakan dinginnya winter saat mendaki Great Wall China, Ikut menyaksikan festival musim dingin di Harbin, merayakan Lunar New Year di Jeju, Seoul, mengunjungi pegunungan Avatar di Zhangjiajie dan memenuhi panggilan Allah ke Mekkah di usianya yang masih sangat muda.

Kini Shinta Amalina Hazrati Havidz, SE, MBA. Ph.D sudah menjadi dosen struktural di Universitas Bina Nusantara, Jakarta, untuk program studi keuangan. Kisah hidupnya diabadikan dalam sebuah biografi berjudul “Sekolah Itu Hobi”.

“Benar kata mami. Dengan iming-iming traveling bisa mengembalikan semangat belajar. Dimanapun kita berada, kita harus selalu punya dan berani untuk bermimpi dan mewujudkan mimpi tersebut,” kata Shinta.

“You should know the feeling of when a dreams is no longer a dream,” tutupnya. (B)

Reporter: Nina Nurrahmah

Editor: Haerani Hambali

Baca Juga