Oleh: Indarwati Aminuddin
Ombudsman telisik.id


Ketika melihat tulisan Asmat, Papua di kertas kontrak kerja tahun 2013, saya langsung mencontreng box “SETUJU” tanpa lagi membaca penjelasan apapun di kertas kontrak kerja ini. Kata Asmat sudah cukup menjelaskan semuanya. Ini seperti menjawab mimpi saya yang meluap luap. Setelah balik dari Belanda, saya merasakan transisi emosional, keinginan kuat untuk bekerja lebih dekat dengan masyarakat traditional. 

Dan saya memulainya, menuju Agats (ibukota Asmat) melalui Timika dengan Pelni -karena penerbangan tak tersedia—. Kapal tiba pada hari berikutnya sekitar pukul 3 dinihari. Tak ada kendaraan yang menjemput. Dengan dua koper besar untuk tinggal setahun, saya dibantu Om Max menyusuri sekilometer jalan kayu yang berdetak detak karena bunyi sepatu dan koper. Agats gelap gulita dan sepanjang jalan, bila tak berpapasan dengan orang yang tergesa menuju Pelni, hanya ada bayang bayang rumah panggung kayu dan suara beragam jenis burung dari pohon. Pemberhentian saya adalah hostel kecil dari kayu yang berbau lembab diantara pohon bakau. Saat memasuki kamar yang remang remang, saya merasakan serangan dingin lembab yang timbul akibat suhu Asmat. Di luar kamar ada seseorang yang berteriak dengan nada pilu.  Ahh, welcome to Asmat. 

Minggu pertama dan hingga berbulan bulan berikutnya di Asmat adalah hari dimana saya belajar dan bolak balik mengunjungi pasar,kampung, kantor pemerintah dan sekolah. Saya bertemu sejumlah pedagang yang berasal dari Wakatobi, yang membuka lapak alat alat rumahtangga. Jalur perdagangan terbuka berkat bantuan Pelni. Warga Wakatobi yang berdagang di Asmat pada umumnya datang karena ajakan keluarga mereka yang terlebih dahulu telah berhasil di Asmat. Hidup di daerah terisolir dan traditional lebih membuka komunikasi percakapan langsung yang intens. Dari mereka saya tahu bagaimana jalur perdagangan dibuka dan diturunkan dari generasi mereka dan apa motif di balik semua ini.

Pedagang A (untuk menghormatinya nama tak akan disebutkan) merupakan warga Tomia, Wakatobi yang telah belasan tahun menetap di Agats. Kunjungan pertamanya hanya berbekal uang Rp 1 juta. Di tahun pertama, ia bekerja pada pedagang Bugis, yang memberinya tempat untuk tidur dan memberinya makan. Di tahun kedua, dengan modal kecil ia mulai memesan barang dari Surabaya—berupa peralatan dapur plastik yang harganya terjangkau. Ia membuka lapak kecil dengan sewa murah perbulan. Bertahun tahun kemudian ia menikmati hasilnya. Lapaknya membesar, ia bahkan telah menikah dengan gadis dari Tomia, dan memboyong dua iparnya untuk membuka lapak lainnya.