adplus-dvertising

LPPM Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan UHO Genjot Potensi Desa Tobimeita Sebagai Penghasil Aren Terbesar

Adinda Septia Putri, telisik indonesia
Minggu, 02 Oktober 2022
606 dilihat
LPPM Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan UHO Genjot Potensi Desa Tobimeita Sebagai Penghasil Aren Terbesar
Kegiatan pendampingan teknis pemanfaatan pohon aren oleh LPPM Fakultas Kehutanan UHO kepada warga pemilik kebun aren, Desa Tobimeita, Kecamatan Nambo, Kota Kendari, Minggu (2/10/2022). Foto: Adinda Septia Putri/ Telisik

" Pohon aren bukan hanya bisa dimanfaatkan dari niranya yang enak untuk dikonsumsi, nyatanya pohon yang berbentuk mirip pohon kelapa ini punya manfaat pada setiap bagian tubuhnya, salah satunya dari tulang daunnya "

KENDARI, TELISIK.ID – Pohon aren bukan hanya bisa dimanfaatkan dari niranya yang enak untuk dikonsumsi, nyatanya pohon yang berbentuk mirip pohon kelapa ini punya manfaat pada setiap bagian tubuhnya, salah satunya dari tulang daunnya.

Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan Universitas Halu Oleo (UHO), yang terdiri dari beberapa dosen tim pelaksana, antara lain Dr.Ir.Rosmarlinasiah,MP., Dr. Zakiah Uslinawaty, S.Hut, MSi., Prof.Dr.Ine Fausayana,Msi., dan Abigael Kabe, S.Hut, MP., dengan dua mahasiswanya, Reynaldi Saputra dan Marham Syam, melakukan pendampingan teknis terkait pemanfaatan tulang daun pohon aren menjadi produk komersil, kepada masyarakat Desa Tobimeita, Kecamatan Nambo, Kota Kendari, Minggu (2/10/2022).

Menurut Dr. Ir. Hj. Rosmarlinasiah, MP, selaku Dosen Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan UHO sekaligus ketua pelaksana, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut berangkat dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh segenap civitas akademi Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan.


Baca Juga: Harga Ikan Kendari Turun di Tengah Lonjakan BBM

Ia menyebutkan, Desa Tobimeita merupakan desa penghasil pohon aren terbanyak di Kota Kendari. Menurutnya, potensi ini tidak bisa hanya dibiarkan sia-sia. Selama ini, warga khususnya pemilik kebun aren, hanya memanfaatkan pohon aren dari niranya saja, padahal banyak sekali hal yang bisa dibuat dari pohon tersebut dan dapat menghasilkan nilai ekonomi.

Sebagai dosen, Rosmarlinasiah dan rekannya berperan untuk mendampingi dan mengedukasi masyarakat terkait pengenalan teknologi yang bisa digunakan untuk memaksimalkan pemanfaatan pohon aren. Hal ini juga berguna untuk menstimulus para stakeholder agar dapat melirik potensi tersebut serta ikut menyokong pengembangannya.

“Karena hanya satu saja yang menjadi fokus pemafaatan, sehingga perlu ada introduksi teknologi dari kami perguruan tinggi,” ujarnya.

Dalam kegiatannya, masyarakat diajarkan untuk membuat sapu lidi dari tulang daun aren. Bukan sapu lidi biasa, sapu lidi tersebut dibuat menggunakan lakop dan gagang kayu agar kualitas dan keindahannya meningkat, sehingga dapat menjadi nilai komersil untuk diproduksi oleh masyarakat.

Amir Rasyid selaku lurah Tobimeita, ikut mengkonfirmasi potensi desa yang ia pimpin dari pohon aren. Amir menyebutkan ada 29 kepala keluarga yang mempunyai atau mengelola kebun aren. Dari jumlah tersebut, banyak dari mereka yang menggantungkan mata pencahariannya dengan menjual nira aren.

“Dengan pelatihan begini, masyarakat diberi pengetahuan bahwa ada bagian di pohon aren yang bisa di manfaatkan dan dapat menghasilkan nilai ekonomis dan menopang kehidupan sehari-hari,” ucap Amir.

Baca Juga: Ribuan Warga Rela Berdesakan Saksikan Konser Tipe-X

Selaku perangkat desa, ia akan mengkoordinasi terkait pemasaran produk sapu lidi yang nantinya akan dihasilkan, dengan Dinas Lingkungan Hidup yang biasa membutuhkan sapu lidi untuk membersihkan fasilitas publik.

Seorang warga Desa Tobimeita, Hanasah ikut merespon positif terhadap pendampingan teknis yang dilakukan. Menurutnya, dari kegiatan tersebut ia dapat belajar bagaimana caranya agar membuat sapu lidi yang bernilai ekonomi. Hanasah sendiri memiliki lebih dari 2000 meter persegi kebun aren, ia biasa menjual nira aren dengan penghasilan Rp 150.000 sampai Rp 200.000 perharinya.

“Kita belajar begini supaya kita lihat caranya buat sapu lidi untuk bisa dijual,” katanya.

Kedepannya, LPPM Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan UHO akan terus melakukan pendampingan dan pengenalan teknologi terkait pemanfaatan bagian pohon aren lainnya secara step by step, diharapkan nantinya akan tercipta pasar apabila masyarakat sudah bisa memproduksi secara mandiri. (A)

Penulis: Adinda Septia Putri

Editor: Kardin

Artikel Terkait
Baca Juga