Menjaga Lisan, Hindari Maksiat Lidah

Haerani Hambali, telisik indonesia
Sabtu, 01 Oktober 2022
0 dilihat
Menjaga Lisan, Hindari Maksiat Lidah
Apabila seseorang tidak menjaga lisannya dan terlalu banyak bicara, dia akan terjebak dalam gibah atau menggunjing keburukan orang lain. Foto: Repro Sindonews.com

" Lisan paling banyak menimbulkan kerusakan dan permusuhan. Oleh karena itu, umat Islam sebaiknya melakukan segala upaya untuk menjaga lisan "

KENDARI, TELISIK.ID - Menjaga lisan termasuk hal yang paling sulit dilakukan. Diketahui, lisan paling banyak menimbulkan kerusakan dan permusuhan. Oleh karena itu, umat Islam sebaiknya melakukan segala upaya untuk menjaga lisan.

Dilansir dari Ihram.co.id, Imam Al-Ghazali dalam Kitab Minhajul Abidin menjelaskan 5 prinsip pentingnya menjaga lisan.

1. Ucapan akan berpengaruh pada seluruh anggota tubuh lain terhadap diberikannya taufik, bimbingan untuk ketaatan.

Ulama Malik bin Dinar berkata “Apabila kau merasakan kerasnya hatimu dan kelemahan pada tubuhmu, serta rezekimu terhalang, ketahuilah bahwa itu karena kau telah mengucapkan perkataan yang tidak memberi manfaat padamu.”

2.  Menjaga waktu.

Karena banyak perkataan dari lisan manusia selain zikir kepada Allah, cenderung mengarah pada obrolan yang sia-sia.

3. Memelihara amalan shaleh.

Apabila seseorang tidak menjaga lisannya dan terlalu banyak bicara, dia akan terjebak dalam gibah atau menggunjing keburukan orang lain.

Baca Juga: Pahala Tanpa Batas untuk Orang yang Bersabar

Ulama mahsyur Sufyan Tsauri mengatakan “Janganlah mengeluarkan perkataan yang dapat mematahkan gigi-gigimu.”

5. Mengingat kesengsaraan dan hukuman di akhirat akibat tidak menjaga lisan.

Dalam hal ini ada satu poin penting, ada kalanya lisan seseorang mengucapkan perkataan yang diharamkan dan ada kalanya lisan seseorang mengucapkan perkataan mubah, baik berupa omong kosong dan tidak ada manfaatnya.

Allah berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 12:

Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.

Macam-Macam Maksiat Lidah

Melansir Republika.co.id, Bahjatul Wasail, Syaikh Nawawi menyebut bahwa maksiat lidah itu banyak,  jumlahnya tidak terbatas.

Berikut ini adalah maksiat lidah yang beliau identifikasi. 

1. Gibah

Syaikh Nawawi menganggap, kendati yang diceritakan itu sesuai dengan kenyataan, namanya tetap gibah. Namun dibolehkan gibah terhadap orang yang menampakkan kefasikan di muka publik seperti meninggalkan puasa, salat, dan ibadah lainnya.

2. Namimah

Namimah adalah mengadu domba dengan tujuan untuk memecah-belah mereka yang bersatu dan agar mereka yang saling mencintai jadi saling membenci.

Bersumber dari Abdullah bin Mas’ud, sesungguhnya Nabi  bersabda, “Maukah kuberitahukan kepada kalian apa itu al-'Adhhu? Itulah namimah, (yakni) perbuatan menyebarkan berita untuk merusak hubungan di antara sesama manusia." (HR  Muslim).

Pelaku namimah diancam masuk neraka, sebagaimana sabda Nabi, "Tidak masuk surga pelaku namimah.” (HR  Muslim).

3. Berdusta

Dalam keseharian, terkadang berdusta dimaksudkan untuk bercanda. Padahal bercanda tidak harus berdusta. Nabi bersabda, "Aku juga bercanda, tetapi tetap aku berkata yang benar." (HR Thabrani).

Balasan buat pelaku dusta, "Seseorang tidak dikatakan beriman seluruhnya sampai ia meninggalkan dusta saat bercanda.” (HR  Ahmad).

Allah menyatakan, "Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta." (QS al-Nahl/16: 105). Dari ayat ini dapat dipahami bahwa berdusta adalah perbuatan yang diada-adakan untuk suatu maksud tertentu. Perbuatan dusta ini ada pada diri pelaku ghibah dan namimah.

Karena begitu besar bahaya dusta, Nabi mengancam pelakunya dengan neraka,  "Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke surga. Apabila seorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai orang yang jujur. Jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke neraka. Jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai pendusta."  (HR Abu Daud).

Baca Juga: Orang Tua Akan Dimintai Pertanggungjawaban Tentang Anaknya

4. Memaki, mengumpat, dan melaknat

Menurut Syaikh Nawawi, memaki adalah menyamakan orang dengan apa saja yang memiliki nilai kurang dan hina. Sementara mengumpat berasal dari kata umpat yang berarti memburuk-burukan orang dalam keadaan marah dengan kata-kata keji dan kotor. Jadi tampaknya mengumpat lebih luas dari memaki.

Berbeda lagi dengan melaknat. Melaknat tidak ditujukan hanya kepada manusia. Menurut Syaikh Nawawi, seluruh kalimat yang dilontarkan kepada hewan dan benda mati termasuk kategori ini. Inti melaknat adalah agar yang dilaknat tidak mendapatkan rahmat Allah. Jadi melaknat bukan hak manusia.

Untuk menghindari maksiat lidah, cara yang paling mudah adalah diam. Nabi mewanti-wanti, "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR   Bukhari).

Allah SWT telah menciptakan lidah bagimu supaya engkau dapat berzikir dengannya, supaya engkau dapat membaca Al-Qur’an dan membimbing manusia ke jalan kebenaran, serta supaya engkau dapat melahirkan perasaan dan kehendakmu, baik dalam urusan dunia ataupun urusan akhiratmu. Apabila engkau menggunakan lidahmu bagi tujuan yang lain dari yang dimaksudkan oleh Allah Ta’ala, berarti engkau tidak bersyukur terhadap nikmat yang diberikan-Nya kepadamu. (C)

Penulis: Haerani Hambali

Artikel Terkait
Baca Juga