adplus-dvertising

Menyoal Suksesi Kepemimpinan Megawati Soekarnoputri

Efriza, telisik indonesia
Sabtu, 10 April 2021
1088 dilihat
Menyoal Suksesi Kepemimpinan Megawati Soekarnoputri
Efriza, Direktur Eksekutif Pusat Studi Kemanusiaan dan Pembangunan (PSKP). Foto: Ist.

" Selain, memang harus didorong oleh keinginan Megawati sendiri, sebab loyalitas dan rasa hormat kader PDI Perjuangan terhadap ketua umumnya begitu besar. "

Oleh: Efriza

Direktur Eksekutif Pusat Studi Kemanusiaan dan Pembangunan (PSKP)

PUBLIK mendadak ramai membicarakan siapa pengganti yang layak dari Megawati Soekarnoputri sebagai ketua umum PDI Perjuangan. Diskusi ini mencuat disebabkan oleh Megawati selaku ketua umum menyatakan, ia mengaku tidak masalah posisinya sebagai ketua umum PDI Perjuangan digantikan orang lain.


Asalkan, PDI Perjuangan harus tetap ada sebagai salah satu partai andalan di republik ini. Hal ini disampaikan Megawati dalam pidatonya di acara peluncuran buku 'Merawat Pertiwi' yang diselenggarakan secara virtual pada Rabu (24/3/2021), dilansir penulis (Sindonews.com, 04 April 2021).

Pembicaraan ini sangat menarik, sebab tentu saja PDI Perjuangan akan sangat sibuk mempersiapkan banyak hal, seperti Pilkada serentak 2024, Pemilu serentak nasional 2024, dan juga mempersiapkan Kongres PDI Perjuangan yang akan menjelaskan apakah PDI Perjuangan akan memiliki ketua umum yang baru, atau Megawati masih kembali memimpin PDI Perjuangan.

Tak dimungkiri, Megawati saat ini usianya sudah sepuh, dan sudah lima kali memimpin PDI Perjuangan. Meski PDI Perjuangan memiliki banyak kader-kader yang dapat memimpin partai ini di masa depan, tetapi membicarakan calon pengganti Megawati tidaklah mudah.

Selain, memang harus didorong oleh keinginan Megawati sendiri, sebab loyalitas dan rasa hormat kader PDI Perjuangan terhadap ketua umumnya begitu besar. Sehingga rasa hormat, santun, dan sungkan membuat serasa tabu jika berbicara mengenai siapa calon yang pantas sebagai pengganti Megawati.

Meski begitu, ada tiga kekuatan yang dapat dibicarakan sebagai calon yang kuat sebagai pengganti Megawati Soekarnoputri, yakni dari trah Soekarno melalui jalur keluarga, anggota senior PDI Perjuangan, dan nama yang terakhir adalah Joko Widodo (Jokowi) dengan tujuan memberikan ia peran setelah tak lagi menjadi presiden.

Namun, ada yang perlu dipikirkan dengan kehati-hatian dan kecermatan dalam memilih calon, sebab potensi dapat terjadinya kebisingan di partai, perhitungan terkait kemampuan dan kecepatan waktu dalam adaptasi, dan kemunduran bahkan turbulensi di PDI Perjuangan, menjadi hal yang perlu diperhatikan.

Baca juga: Upaya Penyelesaian Konflik Partai Demokrat

Prediksi Jika Jokowi

Akhir-akhir ini, nama Presiden Jokowi begitu kuat dianggap layak memimpin PDI Perjuangan ke depan. Apalagi Jokowi juga sudah tidak bisa kembali mencalonkan diri sebagai Presiden. Dengan elektabilitas yang masih relatif tinggi, juga dukungan yang besar dari pendukung fanatiknya, maka nama Jokowi setelah tak lagi menjabat Presiden dianggap layak memimpin partai ini.

Dorongan dan kans Presiden Jokowi memang besar untuk memimpin PDI Perjuangan ke depan, untuk itu tentu saja menyembulkan pertanyaan ke permukaan apakah mengajukan Jokowi merupakan pilihan yang baik bagi PDI Perjuangan?

Bagi penulis, memang kharisma Jokowi masih relatif besar dan pendukung loyalitasnya masih banyak. Tetapi kita jangan melupakan Jokowi selama ini dianggap bukanlah pengurus partai. Jokowi pun mengakui hanya “petugas partai” yang menjabat sebagai presiden.

Ini tentu saja akan menimbulkan banyak kebisingan di tubuh PDI Perjuangan. Mereka yang sudah “karatan” sebagai pengurus, tentu saja tak mudah untuk menerima Jokowi memimpin partai berlambang Banteng ini. Meski tentu saja, Jokowi mudah untuk merebut simpatik anggota PDI Perjuangan yang menunjukkan ketidaksetujuan tersebut.

Tetapi yang sebaiknya dilakukan oleh Jokowi, bagi penulis setelah tidak memimpin republik ini adalah tidak mencoba mengambil kesempatan untuk memimpin PDI Perjuangan meski besar peluangnya.

Sebab, Jokowi akan sangat direpotkan oleh berbagai isu ke depannya, bahwa ia akan membangun dinasti dengan cara memuluskan dan memajukan Gibran sebagai calon Gubernur DKI 2024.

Jika begitu, lalu apa bedanya Jokowi dengan SBY yang sama-sama berupaya memuluskan jalan anaknya memperoleh jabatan di republik ini.

Di sisi lain, Jokowi saat ini, meski menganggap dirinya memimpin republik dengan demokratis, tetapi fakta bahwa Indonesia mengalami kemunduran demokrasi juga tak bisa dilepaskan dari sepak terjang Presiden Jokowi.

Jokowi orang yang berani mengambil keputusan yang tidak populer, dan bahkan nyeleneh, seperti mengajak rivalnya di Pilpres yakni Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno untuk bergabung di kabinet.

Ia juga berani untuk menyatakan HTI dan FPI sebagai organisasi terlarang. Yang terbaru, ia berani mengeluarkan Peraturan Presiden tentang Pengelolaan TMII yang diambil alih Kementerian Sekretariat Negara dari kekuasaan Cendana selama ini.

Jadi, melihat keberanian Jokowi memang baik, tetapi jangan dilupakan pula kebisingan-kebisingan yang akan menyerang PDI Perjuangan. Konsentrasi PDI Perjuangan akan terpecah antara melakukan konsolidasi di internal dan menghadapi kebisingan di luar yang mengharapkan akan dijawab dengan manuver-manuver dari kader PDI Perjuangan.

Baca juga: Magnet Gibran dan Prediksi Langkah Politiknya ke Depan

Prediksi Jika Trah Soekarno

Tentu saja jika tak Jokowi, maka kans terbesar dimiliki oleh trah Soekarno, atau trah Megawati. Ada dua nama yang memiliki peluang, seperti Prananda Prabowo dan Puan Maharani. Kuat dugaan nama terakhir, Puan Maharani lebih dijagokan dalam bursa pada Pemilu Presiden seperti menjadi calon presiden atau calon wakil presiden di 2024 mendatang.

Memang Puan layak memimpin PDI Perjuangan, apalagi melihat perkembangan Puan Maharani yang sudah memegang jabatan penting dari menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia hingga sekarang ini sebagai ketua DPR-RI.

Namun, Puan Maharani banyak yang meragukan bahwa ia sosok yang luwes, ramah dan mudah bergaul dengan beragam orang-orang, ia lebih dianggap golongan elitis dibandingkan politisi yang merakyat selayaknya Jokowi.

Sedangkan nama terakhir adalah Prananda Prabowo, meski awalnya ia adalah sosok yang pendiam dan pemalu. Namun, Prananda telah membawa banyak perubahan dalam penguatan internal di PDI Perjuangan.

Sosok Prananda lebih dianggap mudah berbaur di internal partai, ia juga telah banyak membawa nuansa baru dalam berbagai penguatan di tubuh PDI Perjuangan.

Kedua nama ini tentu saja dianggap bahwa PDI Perjuangan membangun dinasti layaknya partai lain, sebut saja, Partai Demokrat.

Tetapi pada dasarnya, PDI Perjuangan pada tahun 2008 ketika dituduh dinasti politik melalui masuknya Puan Maharani ditubuh partai, tetapi Megawati saat itu menjawab tudingan itu dengan menjelaskan, seperti ditulis oleh Peneliti LIPI Asvi Warman Adam, “Megawati melakukan kombinasi dalam mengelola posisi partai yang memiliki massa tradisional yang masih melihat penting figur kharismatik di satu sisi, dengan tuntutan masyarakat yang lebih luas untuk menjadikan PDI Perjuangan sebagai partai modern di sisi lain.

Untuk memenuhi sumber daya manusia yang kompeten, menurut Megawati, “kader partai harus ditingkatkan kualitasnya dengan dua cara: kaderisasi dan membuka diri terhadap 'darah segar.' Nah, darah segar itu haruslah yang punya persamaan ideologi. Darah segar haruslah yang dapat memberi 'nilai tambah' bagi partai dan memperkuat barisan partai,” (Koran Tempo, 13 April 2015).

Apalagi jelas saat itu, Megawati juga mengajukan Joko Widodo sebagai calon presiden, sehingga dapat menunjukkan bahwa PDI Perjuangan juga melakukan regenerasi.

Meski Jokowi bukanlah trah Soekarno dan pengurus partai, tetapi pilihan mengajukan Jokowi yang memiliki elektabilitas tinggi saat itu, menunjukkan kemampuan Megawati dalam memilih antara ego diri dengan regenerasi dan kans menang yang lebih besar.

Baca juga: Skenario Tuhan

Membangun Kekuatan Partai

Jika mengupas dari pernyataan Megawati Soekarnoputri mengenai kemungkinan dari ia tak lagi menjabat sebagai ketua umum PDI Perjuangan. Sebenarnya, yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut.

Pertama, Megawati sebenarnya telah merestui kepada pengurus dan anggota PDI Perjuangan untuk mulai mempersiapkan memajukan nama sebagai pengganti Megawati. Jika tak didorong oleh Megawati sendiri, tentu saja karena rasa hormat yang besar, maka membincangkan pengganti Megawati serasa tabu dibicarakan oleh kader.

Kedua, Megawati menginginkan setiap kadernya untuk mempersiapkan partai ini, agar ketika melakukan suksesi tidak terjadinya kebisingan, bahkan turbulensi. Namun, PDI Perjuangan tetap sebagai salah satu partai andalan di republik ini.

Ketiga, Megawati sepertinya ingin juga memberikan pesan kepada partai-partai lain, dan pengurus partainya sendiri, untuk mulai membangun partai yang lebih baik. Dengan mengedepankan dirinya bersikap legowo, untuk tak lagi memimpin partai berlambang moncong putih ini.

Melihat perkembangan perpolitikan ke depan, sudah semestinya banyak partai memikirkan suksesi kepemimpinan, bukan lagi mengedepankan personalisasi partai politik.

Maksudnya, kondisi dengan aktor individu politik menjadi lebih utama dibandingkan partai politik atau identitas kolektif lainnya, sehingga individu ini kerap berpengaruh bahkan menjadi identitas dari partai tersebut, ini disebabkan oleh partai politik dipimpin dan dikuasai oleh satu orang elite dalam jangka waktu panjang, (Aisyah Putri Budiartri, 2018: 2).

Dan terakhir, Megawati mempertanyakan secara tidak langsung, apakah PDI Perjuangan sudah siap melakukan pergantian kepemimpinan. Inilah yang semestinya ditangkap dari pesan Megawati. Jadi, mulailah membicarakan dan mencari calon pengganti Megawati yang akan membawa PDI Perjuangan untuk tetap menjadi partai andalan bagi republik ini. (*)

TAG:
Artikel Terkait
Baca Juga