Oleh: Efriza

Dosen Ilmu Politik di Beberapa Kampus dan Owner Penerbitan

PARTAI Persatuan Pembangunan (PPP) akhirnya sesuai prediksi mayoritas hasil survei terlempar dari Panggung Politik Parlemen di Senayan. PPP di tangan Ketua Umum Mardiono ternyata malah terbukti terjerembab terpuruk dalam, bukan saja terjadinya ketidaksolidan internal tetapi juga terlempar dari Senayan berdasarkan fakta Pemilihan Umum Legislatif (Pileg) yang tidak lolos ambang batas parlemen sebesar 4 persen.

Mardiono yang awalnya diharapkan dapat membangkitkan PPP setelah bersama Ketua Umum Suharso Manoarfa tak ada pergerakan yang terukur. Ternyata Mardiono gagal dalam berbagai strategi politik yang dipilihnya, seperti salah kaprah memberikan posisi jabatan penting dan strategis partai kepada Sandiaga Uno.

Kesalahan lainnya berharap ‘tuah’ dari Sandiaga Uno agar bisa diperhitungkan dalam politik dengan mengajukan Sandiaga sebagai calon wakil presiden (cawapres) dari Ganjar Pranowo serta tetap memilih berkoalisi bersama Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ketika Sandiaga tidak dipilih oleh PDIP tetapi ternyata tak memberikan efek elektoral mendukung Ganjar Pranowo dan berkoalisi bersama PDI Perjuangan.