adplus-dvertising

Mesin Finger Rusak, 113 Guru di Buton Tengah Tak Terima TPP

Mutarfin, telisik indonesia
Jumat, 07 Mei 2021
592 dilihat
Mesin Finger Rusak, 113 Guru di Buton Tengah Tak Terima TPP
Kadis Pendidikan Buteng, Abdullah. Foto: Mutarfin/Telisik

" Dari awal kami telah menyampaikan kepada guru termasuk penerima sertifikasi, walaupun ada mesin finger, tetapi dibarengi juga dengan absen manual. Sebab apabila sewaktu-waktu mesin finger ini bermasalah masih ada bukti absen manual. "

BUTON TENGAH, TELISIK.ID – Sekira 113 guru di Buton Tengah tidak bisa menerima tambahan penghasilan pegawai (TPP) dikarenakan rusaknya mesin finger.

Hal ini dijelaskan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Buton Tengah, Abdullah. Pihaknya sangat menyayangkan sejumlah guru di Buteng tak bisa menerima TPP karena mesin finger di sekolah-sekolah itu rusak. Ia pun menyarankan agar masing-masing sekolah melakukan pengadaan mesin finger baru.

“Dari awal kami telah menyampaikan kepada guru termasuk penerima sertifikasi, walaupun ada mesin finger, tetapi dibarengi juga dengan absen manual. Sebab apabila sewaktu-waktu mesin finger ini bermasalah masih ada bukti absen manual,” ungkapnya Jumat (7/5/2021).


Baca juga: Pelabuhan Panggulubelo Wakatobi Tertibkan Arus Penjemput dan Pengantar

Baca juga: Ridwan Zakariah Lantik Sejumlah Pejabat di Lingkup Pemkab Buton Utara

Ia menambahkan, mesin finger di sekolah-sekolah di Buteng diadakan oleh Dinas Pendidikan Buteng, bukan disediakan mandiri oleh sekolah. Harganya juga berbeda dengan finger yang dimiliki oleh dinas seperti BKPSDM misalnya, finger yang mereka miliki dibeli dengan harga Rp 10 jutaan. Sementara di sekolah-sekolah hanya sekitaran Rp 3 jutaan.

“Olehnya itu memang absen manual juga harus ada, tetapi kalau BKPSDM tidak mau membayarkan, maka tidak ada pilihan lain. Karena tidak bisa juga dibayarkan kalau BKPSDM tidak setuju. Persoalannya kembali kesana, tapi kasihan guru-guru tidak terima tambahan penghasilan hanya karena persoalan fingernya rusak,” ujarnya.

Atas kejadian rusaknya mesin finger di sekolah-sekolah, Abdullah menyarankan kepada kepala sekolah untuk membeli mesin finger dengan menggunakan dana BOS. Sebab pihak dinas tidak mampu membeli, terlebih yang harganya mencapai 10 jutaan rupiah. Bila dikalikan dengan jumlah sekolah yang ada di Buteng, membutuhkan dana yang sangat besar.

“Ini harus, karena kita antisipasi ke depannya jangan sampai berlaku juga kepada guru sertifikasi dan masalah ini agar tidak terulang lagi,” tutupnya. (B)

Reporter: Mutarfin

Editor: Haerani Hambali

TAG:
Artikel Terkait
Baca Juga