adplus-dvertising

Pantas China Terus Dominasi Olimpiade, Ternyata Atletnya Dipaksa Kawin Demi Dapat yang Spesial

Ibnu Sina Ali Hakim, telisik indonesia
Minggu, 08 Agustus 2021
35414 dilihat
Pantas China Terus Dominasi Olimpiade, Ternyata Atletnya Dipaksa Kawin Demi Dapat yang Spesial
Pasangan atlet Cina Lin Dan dan Xie Xingfang. Foto: Repro Indosport

" Atlet-atlet China terus mendulang medali hingga membuat negaranya kokoh di puncak klasemen Olimpiade Tokyo 2020. "

BEIJING, TELISIK.ID - Atlet-atlet China terus mendulang medali hingga membuat negaranya kokoh di puncak klasemen Olimpiade Tokyo 2020.

Dari sisi raihan medali perak dan perunggu serta total raihan medali, China memang masih di bawah Amerika Serikat.

Namun, hingga berita ini dibuat, China masih unggul 4 medali emas dengan musuh bebuyutannya tersebut.


Meski hasil akhir dari klasemen ini masih mungkin berubah, banyak pihak yang tetap takjub dengan keberhasilan atlet-atlet China.

Kemajuan ekonomi serta militer negara tersebut, ternyata memang merembet juga ke kemajuan mereka di bidang olahraga.

Hanya saja, kabar keberhasilan atlet-atlet China itu, sering kali diiringi dengan kabar tentang bagaimana atlet-atlet tersebut dilatih.

Terbaru, dilansir dari 24h.com.vn dari intisari.grid.id, pada Minggu (8/8/2021), mengungkapkan bahwa keberhasilan atlet-atlet China terjadi salah satunya berkat penggunaan teknologi roket di sebuah perusahaan antariksa terbesar di China.

China Aerospace Science and Technology Corporation (CASC) mengungkapkan, bagaimana para ilmuwan angkasa luar negara itu telah membantu para perenang memperbaiki teknik berenang mereka.

Selain itu, lewat versi ringkas dari sistem panduan rudal tersebutlah para atlet tersebut mampu mengurangi hambatan saat mereka berada di dalam air.

"Postur renang secara langsung mempengaruhi kecepatan," CASC menegaskan.

Baca juga: Lionel Messi ke PSG Pilih Nomor 19, Gajinya Paling Tinggi di Liga Prancis

Latihan keras calon atlet

Selain menggunakan teknologi, China juga diketahui melakukan latihan yang keras dan penuh disiplin pada calon-calon atlet masa depannya.

Mungkin masih terekam jelas dalam ingatan bagaimana beberapa tahun silam foto-foto dari atlet-atlet 'cilik' China tersebar.

Dalam foto-foto tersebut, terlihat bagaimana anak-anak kecil yang masih polos harus menjalani latihan yang sangat keras.

Wajah-wajah mereka secara jelas menunjukkan bagaimana mereka tersiksa dengan metode latihan yang harus mereka jalankan.

Dari mulai mengangkat beban, melenturkan tubuh, hingga menggantungkan badan dengan tangan mengarah ke belakang tubuh.

Namun, anak-anak yang diketahui berada di sebuah kamp pelatihan atlet junior di Chengdu tersebut mau tak mau tetap menjalaninya.

Sebab, disebutkan bahwa atlet-atlet China, mungkin beberapa kini berhasil mendulang medali di Olimpiade Tokyo, berasal dari sana.

Baca juga: Hari Ini Tampil, Anthony Ginting Diminta Optimis Rebut Medali Perunggu

Atlet hasil rekayasa bernama Yao Ming

Jika Anda penggemar pertandingan basket NBA pada periode 2000-an, Anda tentu tidak asing dengan Yao Ming.

Selain menjadi salah satu megabintang dari kompetisi basket paling tenar sejagat, dia juga menjadi simbol kesuksesan China.

Atlet basket yang memiliki tinggi 228 sentimeter tersebut kokoh menjadi center Houston Rockets selama 8 musim.

Hanya saja, sebuah rahasia besar tentang asal-usul Yao Ming, pada akhirnya membawa sebuah kisah yang mengejutkan.

Melalui buku berjudul Operation Yao Ming, mantan jurnalis Newsweek Brook Larmer mengungkapkan bahwa pebasket tersebut tak ubahnya seperti hasil eugenika Nazi Jerman.

Yao Ming memang terlahir dari dua "bibit unggul", yaitu ayah dan ibu yang merupakan pebasket profesional dengan tubuh yang menjulang.

Namun, satu hal yang jarang diketahui adalah bahwa pernikahan keduanya bukan murni karena urusan cinta, tapi merupakan paksaan dari para pejabat Shanghai.

"Itu bukan program pemuliaan nasional, itu adalah keinginan di antara pejabat Shanghai agar mereka berkumpul," kata Larmer seperti dilansir dari smh.com.au.

"Tapi ketika Yao lahir, semua orang di komunitas olahraga di Shanghai dan secara nasional tahu dia adalah sesuatu yang istimewa."

Bahkan, ketika akhirnya Yao Ming tumbuh luar biasa, mencapai tinggi 165 cm di usia 10 tahun, pasangan tersebut pun enggan mengizinkan anaknya berlatih di kamp basket.

Pernikahan paksa mereka telah membuat mereka merasa trauma dengan arena basket yang justru sempat mereka gemari.

Tapi apa daya, seperti umumnya terjadi di China, pemerintah setempatlah yang memutuskan segala hal dari rakyatnya.

Yao Ming pun akhirnya menjadi seorang atlet yang benar-benar dilatih dan diberi ramuan khusus agar menjadi simbol keberhasilan China di bidang olahraga, khususnya basket. (C)

Reporter: Ibnu Sina Ali Hakim

Editor: Fitrah Nugraha

Artikel Terkait
Baca Juga