adplus-dvertising

Politik Tak Hanya Pukul, Rangkul tapi Tafakur

Heri Budianto, telisik indonesia
Sabtu, 18 April 2020
2657 dilihat
Politik Tak Hanya Pukul, Rangkul tapi Tafakur
Dr. Heri Budianto, M.Si, Direktur Eksekutif PolcoMM Institute dan Pengajar Komunikasi Politik di Jakarta. Foto: Ist.

" Dengan adagium politik itulah rangkul dan pukul mewarnai praktek politik tanah air mulai tingkatan pilkada, pileg dan pilpres.. "

Oleh: Dr. Heri Budianto, M.Si

Direktur Eksekutif PolcoMM Institute dan Pengajar Komunikasi Politik di Jakarta

 


Politik identik dengan perebutan kekuasaan. Karena kekuasaan dalam politik, dapat dipahami dari akar kata kuasa dan politik yang berasal dari bahasa Yunani Politeia (berarti kiat memimpin kota (polis). Sedangkan kuasa dan kekuasaan kerap dikaitkan dengan kemampuan untuk membuat gerak yang tanpa kehadiran kuasa (kekuasaan) tidak akan terjadi.

Dalam mencapai itulah dalam politik praktis, para pelaku politik (aktor politik) menggunakan strategi politik.

Tak dapat dipungkiri dan lazim dalam politik praktis, strategi rangkul dan pukul diterapkan.

Adagium politik, tak ada kawan abadi dan tak ada musuh abadi itulah potret, bagaimana realitas politik dalam segala tingkatan.

Seperti dikatakan oleh Mantan Perdana Menteri Inggris Lord Palmerston yakni

"We have no eternal allies, and we have no perpetual enemies. Our interests are eternal and perpetual, and those interests it is our duty to follow".

Artinya kira kira Tidak ada teman atau musuh abadi dalam politik. Yang ada kepentingan abadi. Mereka yang ingin abadi dalam dunia politik dituntut fleksibel dalam mengikuti jalan kepentingan abadi’’.

Dengan adagium politik itulah rangkul dan pukul mewarnai praktek politik tanah air mulai tingkatan pilkada, pileg dan pilpres.

Fenomena itu semakin tampak, di era media sosial, setidaknya dimulai sejak 2012 ketika Pilkada DKI Jakarta.

Baca juga: Mengukur Kepedulian Calon Kepala Daerah di Masa Krisis

Hasil Pilpres 2019, juga kemudian membuka mata publik, ketika calon presiden Prabowo Subianto yang kalah menjadi Menteri Pertahanan dalam Kabinet Indonesia Maju pimpinan rival politiknya.

Pro kontra terjadi, tapi lagi lagi realitas politik mencatat bahwa ada saatnya memukul, dan ada saatnya merangkul.

Jelang pilkada 2020 saat ini, rangkul pukul kembali marak. Panggung politik saat ini, tak melihat wabah pandemic corona.

Justru fenomena pukul tampak dalam penanganan wabah corona di beberapa daerah yang mempertarungkan incumbent dan calon penantangnya.

Riuh demokrasi di tanah air di daerah tampaknya tak mengenal wabah? Walau pemerintah pusat dan DPR RI sudah bersepakat menunda pilkada akhir tahun.

Situasi bencana nasional ini mestinya menjadi momentum bagi aktor politik, untuk menghindari pukul dalam kontestasi politik.

Sebab rakyat memerlukan kekuatan bersama dalam menyelesaikan persoalan daerah dan nasional terkait wabah.

Rangkul adalah realitas politik yang diperlukan saat ini. Rangkul semua komponen, mengurangi beban rakyat yang sudah mulai terasa berat.

Aktor politik seharusnya juga melakukan tafakur dalam politik.

Tafakur (dalam bahasa Arab) adalah Tafakkara yang artinya memikirkan sungguh sungguh.

Dalam tafakur menggunakan akal pikiran dan energi positif dalam berpolitik.

Ketika tafakur politik ini dilaksanakan, maka ada hati nurani dan akal pikiran yang dikedepankan.  

Tak semua adagium politik tadi dapat dibenarkan, ketika kekuatan, kesungguhan, akal pikiran dan hati nurani menjadi basic dalam perilaku politik.

Sehingga optimisme munculnya politik jalan lurus dalam kontestasi politik. (*)

Artikel Terkait
Baca Juga