Populasi Satwa Anoa dan Burung Maleo di Sulawesi Tenggara Terancam Punah

Erni Yanti, telisik indonesia
Jumat, 14 Juli 2023
0 dilihat
Populasi Satwa Anoa dan Burung Maleo di Sulawesi Tenggara Terancam Punah
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tenggara menanggapi ancaman kepunahan satwa burung maleo dan anoa. Foto: Erni Yanti/Telisik

" Populasi satwa burung maleo dan anoa dikhawatirkan semakin terancam akibat predator dan perkembangbiakannya yang semakin stagnan "

KENDARI, TELISIK.ID - Populasi satwa burung maleo dikhawatirkan semakin terancam akibat predator yang selalu mengintai, dan anoa yang perkembangbiakannya semakin stagnan.

Burung maleo yang merupakan satwa endemik khas Sulawesi ini, diperkirakan semakin terancam punah di Sulawesi Tenggara. Banyak faktor dominan penyebab terusiknya habitat satwa dilindungi tersebut, yakni illegal logging hingga pencurian telur.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tenggara, melalui Seksi Pengendali Ekosistem Hutan Spesies Burung Maleo, Adi Adriyansah mengungkapkan bahwa populasi burung maleo yang semakin berkurang disebabkan tingginya angka pencurian telur dari kalangan masyarakat yang tidak bertanggung jawab.

"Untuk tahun lalu yang rilis itu sekitar 28 ekor. Tahun ini setelah saya sendiri yang turun langsung, agak turun sedikit sekitar 24 ekor. Penyebab turunnya, pertama itu pencurian telur, saya bilang sangat tinggi karena masyarakat mengawasi burungnya setelah pergi, diambilmi," bebernya.

Dikatakan, pemerintah sudah melakukan beberapa upaya untuk pelestarian satwa dilindungi dari ancaman kepunahan, dengan mengadakan sosialisasi dan patroli pengawasan, namun kesadaran dari masyarakat yang masih minim.

Baca Juga: Polda Jawa Timur Gagalkan Perdagangan Satwa Dilindungi

"Sebenarnya lumayan jauh dari permukiman warga, tapi kalau aktivitas warga yang ilegal loging yang memang sengaja mencari-cari, ya kalau dicari-cari diintai pasti dapat, kalau sampai saat ini kita belum lihat kalau warga itu tangkap burungnya," tuturnya.

Burung ini bergantung pada daerah yang terdapat panas bumi (geothermal) atau di pasir pantai yang hangat. Mereka menggali tanah atau pasir pada kedalaman tertentu untuk meletakkan telurnya, yang kemudian ditimbun hingga permukaan tanah seperti sedia kala.

Selain dari aktivitas predator yang menyebabkan kepunahan, telur burung maleo juga sangat rentan terhadap suhu panas bumi, sehingga untuk mengelabui predator pemangsa telur, maleo membuat tiruan timbunan telur. Burung maleo juga tipe burung monogami, yang hanya bereproduksi pada pasangannya, dan termasuk burung yang tidak mengerami telurnya.

Dikutip dari detik.comjabar dalam laman www.iucnredlist.org, pada 2021 secara global menempatkan burung maleo sebagai spesies terancam dengan 8.000-14.000 individu dewasa. Hal tersebut menjadi tren populasi menurun dari burung maleo.

Laman juga menampilkan data di tahun 2016, dengan lingkup penilaian global mencantumkan populasi Maleo masih di kisaran 8000-14.000 individu dewasa. Dengan catatan spesies ini diduga menurun sangat cepat karena kombinasi ancaman.

Sementara populasi satwa anoa yang memiliki 4 lokasi penempatan, yakni di Buton Utara, SM lambunsango, SM Tanjung Peropa dan SM Tanjung Amolengo.

BKSD melalui Seksi Pengendali Ekosistem Hutan Spesies Anoa, Rafik menuturkan bahwa pelestarian satwa anoa memiliki site atau blok masing-masing, sehingga untuk mengetahui peningkatan atau penurunan populasi satwa terkecuali di masing-masing tempat.

Baca Juga: Polda Jatim Tangkap Pelaku Jual Beli Satwa Dilindungi

"Nda bisa kita menilai satu kawasan ini, cuman di site-nya kami saja. Untuk di Buton Utara itu namanya site Labuan ada 12 ekor, kalau di SM Lambung Sango itu ada 6 ekor, di Tanjung Peropa ada 8 ekor terakhir di Tanjung Amolengo ada 6 ekor," jelasnya.

Dikatakan bahwa perkembangbiakan anoa cenderung meningkat stagnan akibat proses reproduksinya yang sulit dan lambat, satu tahun bisa hanya menghasilkan satu ekor anoa saja.  

"Kalau selama ini nda ada penurunan malah bertambah, di 2021 di Labuan bertambah 1 ekor di 2021 hanya 11, di 2022 jadi 12, sebenarnya nda ada penurunan," pungkasnya. (A)

Penulis: Erni Yanti

Editor: Haerani Hambali

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS 

Baca Juga