Program Imtaq dan Dhuha Bersama di SMAN 2 Kendari Bangun Karakter Disiplin Siswa
Erni Yanti, telisik indonesia
Jumat, 29 Agustus 2025
0 dilihat
Siswa SMA Negeri 2 Kendari mengikuti imtaq rutin setiap Jumat pagi sebelum masuk belajar. Foto: Erni Yanti/Telisik.
" Tidak hanya untuk siswa muslim, kegiatan ini juga difasilitasi bagi siswa beragama lain, menjadikannya simbol pendidikan yang religius, inklusif, dan membumi "

KENDARI, TELISIK.ID - SMA Negeri 2 Kendari menjadikan Jumat lebih dari sekadar penutup pekan. Melalui kegiatan rutin Imtaq (Iman dan Taqwa), sekolah ini membentuk budaya spiritual yang kuat sekaligus membina karakter siswa secara menyeluruh.
Tidak hanya untuk siswa muslim, kegiatan ini juga difasilitasi bagi siswa beragama lain, menjadikannya simbol pendidikan yang religius, inklusif, dan membumi.
Kegiatan yang sudah berjalan selama bertahun-tahun ini dipimpin oleh organisasi Rohani Islam (Rohis) dan melibatkan seluruh elemen sekolah, mulai dari siswa, guru, hingga kepala sekolah.
Menurut Kepala SMAN 2 Kendari, Nur Aida, Imtaq tidak hanya sekadar rutinitas, tetapi juga media penting untuk membentuk karakter siswa yang berakhlak.
"Kami ingin siswa tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara spiritual dan emosional. Imtaq adalah sarana untuk menanamkan nilai keagamaan dan membentuk karakter sejak dini," ujarnya, Jumat (29/8/2025).
Kegiatan Imtaq dilaksanakan secara kolaboratif. Setiap kelas, khususnya dari tingkat XI dan XII, mendapat giliran sebagai pelaksana.
Para siswa bertugas sebagai pembawa acara, penyampai ceramah, hingga penanggung jawab teknis. Guru bertindak sebagai pendamping dan memberikan apresiasi setelah sesi selesai.
Baca Juga: SMAN 2 Kendari Raih Undangan Khusus Indonesia Student Leadership Training 2025 di Padang
Semangat keimanan yang diajarkan tidak berhenti di internal sekolah. SMA Negeri 2 Kendari juga mengajak siswa untuk peduli terhadap isu-isu kemanusiaan global. Salah satu wujud nyatanya adalah penggalangan donasi untuk Palestina, bekerja sama dengan Inisiatif Zakat Indonesia (IZI).
Donasi ini dilakukan secara sukarela oleh siswa, guru, dan tenaga kependidikan, lalu disalurkan melalui IZI untuk membantu saudara-saudara muslim di Palestina.
"Kami ingin membentuk siswa yang tidak hanya saleh secara individu, tetapi juga peduli terhadap sesama. Kegiatan seperti donasi ini melatih empati dan tanggung jawab sosial mereka," kata Nur Aida.
Semangat inklusivitas juga tercermin dalam semua kegiatan keagamaan di sekolah ini. Para siswa non-muslim difasilitasi untuk mengikuti pembinaan keagamaan di ruang terpisah dengan pembina masing-masing pada waktu yang sama.
"Jumat dan Rabu kami jadikan hari keagamaan untuk semua, agar tidak mengganggu pelajaran utama. Semua anak, apa pun agamanya, kami beri ruang untuk tumbuh dalam keimanannya masing-masing," tambah Nur Aida.
Perubahan positif dari pelaksanaan kegiatan keagamaan ini pun mulai terlihat. Siswa menjadi lebih disiplin, lingkungan sekolah terasa lebih religius, dan nilai-nilai moral semakin mengakar dalam perilaku sehari-hari. Penggunaan ciput dan pemakaian jilbab yang lebih rapi oleh siswi pun menjadi simbol kesadaran baru yang tumbuh dari dalam diri mereka sendiri.
"Kami ingin membentuk karakter bukan dengan paksaan, tapi dengan kesadaran. Ketika siswa merasa ini penting, mereka akan melakukannya dengan tulus. Harapan kami, semangat ini tidak berhenti di sekolah, tapi terbawa dalam kehidupan mereka sehari-hari," tutup Nur Aida.
Selain itu, kegiatan keagamaan ini tidak hanya melibatkan guru agama. Guru dari berbagai mata pelajaran juga turut ambil bagian, seperti guru biologi yang menyampaikan materi kesehatan reproduksi dalam perspektif Islam.
Koordinator Imtaq dan guru agama SMA Negeri 2 Kendari, Fatmawati menjelaskan, pihaknya tidak membatasi peran hanya pada guru agama, namun setiap pun guru yang memiliki kapasitas membina karakter siswa, akan dilibatkan.
Tidak hanya setiap Jumat, SMA Negeri 2 Kendari juga melaksanakan kegiatan Salat Dhuha bersama setiap Rabu pagi.
Kegiatan ini menjadi sarana tambahan pembinaan spiritual yang menenangkan dan menyemangati siswa di tengah padatnya aktivitas akademik.
Salat Dhuha dilakukan secara berjamaah di lapangan atau aula sekolah, dipimpin oleh guru atau siswa yang ditunjuk, kemudian dilanjutkan dengan dzikir dan doa bersama.
Kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswa muslim, sementara siswa non-muslim difasilitasi untuk melakukan kegiatan pembinaan rohani di tempat terpisah.
"Melalui Salat Dhuha, kami ingin membiasakan siswa untuk memulai hari dengan doa dan harapan baik. Ini juga melatih disiplin dan kekhusyukan dalam beribadah," ujar Fatmawati.
Baca Juga: SMKN 3 Kendari Krisis Peralatan, Siswa Ketinggalan Teknologi Industri
Selain pembinaan rutin, SMA Negeri 2 Kendari juga menerapkan tes BTQ (Baca Tulis Al-Quran) bagi siswa baru sejak sembilan tahun terakhir.
Tes ini dilakukan bukan sebagai syarat seleksi masuk, melainkan sebagai pemetaan awal untuk mengetahui sejauh mana kemampuan dasar siswa muslim dalam membaca Al-Quran.
"Masih banyak anak yang belum bisa baca Al-Quran. Tes ini membantu kami untuk mengidentifikasi dan memberi bimbingan lanjutan. Kami tidak ingin guru kesulitan mengajar karena kendala dasar seperti itu," jelas Fatmawati.
Salah satu kegiatan unggulan lainnya adalah Forum Brilliant (Belajar Agama Akhir Pekan), sebuah forum khusus untuk siswi Muslim yang dilaksanakan saat siswa laki-laki mengikuti Salat Jumat.
Dalam forum ini, siswi diberikan pembinaan terkait isu-isu keperempuanan dalam Islam seperti kesehatan reproduksi, peran perempuan dalam masyarakat, hingga etika pergaulan.
"Dulu saya tidak terlalu memahami soal peran perempuan dalam Islam. Tapi setelah rutin ikut Forum Brilliant, saya jadi lebih tahu bagaimana menjaga diri dan memahami peran perempuan dari sudut pandang agama," kata siswa kelas XII sekaligus Koordinator Rohis, Firdasari Wulandari. (A)
Penulis: Erni Yanti
Editor: Kardin
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS