adplus-dvertising

Sebut Watak Kasoami dan Kabuto, Asisten I Pemda Buton Terancam Dipolisikan

Deni Djohan, telisik indonesia
Kamis, 22 September 2022
1651 dilihat
Sebut Watak Kasoami dan Kabuto, Asisten I Pemda Buton Terancam Dipolisikan
Asisten 1 Pemda Buton, Alimani dan Ketua Aliansi Pemuda Demokrasi (Aldem) Baubau, Jasmin. Foto: Ist.

" Atas keteledoran itu, Asisten 1 menyesali dan meminta maaf kepada seluruh pihak yang tersinggung dengan ucapannya "

BUTON, TELISIK.ID - Ucapan Asisten I Pemda Buton, Alimani yang dinilai melecehkan etnis tertentu, beredar ke publik. Kasus serupa pernah terjadi di Maluku. Di mana seorang mahasiswi kesehatan dipolisikan lantaran diduga melecehkan salah satu etnis dengan sebutan, Sangkola.

Dalam komentarnya di salah satu grup WhatsApp yang beredar luas, Alimani menyamakan watak kelompok tertentu dengan kasoami dan kabuto, salah satu jenis makanan khas Buton.

Begini kutipannya, "Kapontori signal bagus. Terlalu abuleke jika alasannya wifi. Saya hanya mau bilang, seorang watak orang Papua saja saya hafal apalagi hanya watak kasoami dan kabuto eeee.. Paham kah," tulis Alimani.


Komentar ini keluar ketika dirinya meminta foto apel pegawai di Kecamatan Kapontori melalui grup WhatsApp. Namun yang diperlihatkan oleh pegawai setempat hanyalah absen kehadiran.

"Maksudnya, absen bisa juga besok bikin, hari ini hadirnya, sebelum subuh sudah di kantor. Kan bisa saja bro," tambahnya.

Komentar ini menuai perhatian publik. Salah satunya Ketua Aliansi Pemuda Demokrasi (Aldem) Baubau, Jasmin. Pemuda asal Desa Boneatiro, Kecamatan Kapontori ini sangat menyayangkan pernyataan Asisten 1 Buton, Alimani.

Baca Juga: Mulai Dibangun, Patung Oputa Yi Koo Jadi Ikon Sejarah Bangsa

Menurutnya, hal itu sangat tidak wajar. Apalagi dilakukan oleh pejabat daerah.

"Sekarang kita mau tanya, apa maksudnya kalimat, watak kasoami dan kabuto ini? Kan kita tahu bahwa kabuto dan kasoami ini makanan pokok orang tua kita dulu. Jadi wataknya orang tua dulu juga sama seperti apa yang dia pikirkan? Kan ini bentuk penghinaan kepada kami masyarakat Buton, Kapontori pada khususnya," kesal mantan Ketua LMND Baubau ini.

Menurutnya, pernyataan Alimani tersebut diduga kuat telah mengandung unsur penghinaan. Dan hal ini tidak boleh dibiarkan. Apalagi ini menyangkut para leluhur kami di Kapontori pada khususnya dan Buton pada umumnya.

"Kami harap Pj Bupati Buton, Basiran segera mengevaluasi pejabat yang bersangkutan. Kami akan juga melakukan kajian untuk kemudian melaporkan ini ke polisi," tegas Jasmin.

Saat dikonfirmasi, Asisten Satu Buton, Alimani mengakui adanya chattingan itu. Namun kata dia, tak ada maksud dirinya menghina maupun mengkerdilkan kelompok tertentu.  

"Awalnya, saya diberi tugas oleh pak Pj untuk melakukan monitoring terhadap kinerja pegawai dalam melaksanakan apel pagi dan sore hari. Saat itu masuklah laporan dari pegawai Kecamatan Kapontori. Namun laporan yang dikirim hanya absen. Makanya saya katakan, saya ini lama di Papua. Wataknya orang Papua saya tahu. Apalagi wataknya kasoami dan kabuto," bebernya.

Baca Juga: Buka Pendaftaran, Bawaslu Muna Inginkan Panwascam Beritegritas

Atas keteledoran itu, lanjutnya, dirinya menyesali dan meminta maaf kepada seluruh pihak yang tersinggung dengan ucapannya itu. Seharusnya, perkataan itu ia sampaikan langsung kepada camat setempat, bukan di dalam grup.

"Karena itu sekali lagi saya minta maaf. Tidak ada maksud untuk menghina masyarakat Kapontori," ucapnya.

Belum lama ini seorang mahasiswi kesehatan Ambon, berinisial AFL dilaporkan di polisi lantaran diduga telah menghina suku Buton dengan menyebut sangkola atau kasoami. Pernyataannya itu diketahui melalui percakapan pribadinya dengan seorang temannya. Rekaman percakapan itu kemudian viral di media sosial dan menjadi bukti pelaporan. (B)

Reporter: Deni Djohan

Editor: Haerani Hambali

Baca Juga