Selat Hormuz Kembali Ditutup 70 Hari, Cadangan Minyak Global Terkuras 1 Miliar Barel
Ahmad Jaelani, telisik indonesia
Kamis, 14 Mei 2026
0 dilihat
Penutupan Selat Hormuz selama 70 hari memicu krisis minyak global dan menekan ekonomi sejumlah negara. Foto: Repro Prosesindustri
" Penutupan Selat Hormuz selama hampir 70 hari memicu kekurangan lebih dari satu miliar barel minyak dunia serta menekan cadangan energi dan ekonomi global "

TEHERAN, TELISIK.ID - Penutupan Selat Hormuz selama hampir 70 hari memicu kekurangan lebih dari satu miliar barel minyak dunia serta menekan cadangan energi dan ekonomi global.
Krisis pasokan energi global semakin terasa setelah penutupan Selat Hormuz berlangsung hampir 70 hari. Jalur pelayaran strategis yang selama ini menjadi lintasan utama distribusi minyak dunia itu kini memicu kekurangan pasokan energi global hingga melampaui satu miliar barel.
Gangguan distribusi minyak tersebut mulai berdampak terhadap cadangan energi sejumlah negara, pertumbuhan ekonomi kawasan Asia, hingga stabilitas harga pangan dan nilai tukar mata uang negara berkembang. Situasi ini juga memunculkan tekanan baru terhadap ketahanan energi global sepanjang 2026.
Akademisi kebijakan energi dari Nanyang Technological University Singapura, Chen Chien-Ming, menyebut kekurangan pasokan minyak global terus meningkat seiring berkepanjangannya penutupan jalur strategis tersebut.
“Dengan Selat Hormuz tertutup selama sekitar 70 hari, akumulasi kekurangan pasokan kini telah melampaui satu miliar barel,” kata Chen Chien-Ming dikutip Eurasia Review, Kamis (14/5/2026).
Menurut Chen, sebelum konflik memanas, sekitar 20 juta barel minyak per hari atau hampir seperlima pasokan minyak global melintasi Selat Hormuz. Jalur tersebut menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia karena menghubungkan negara-negara produsen minyak di Timur Tengah dengan pasar Asia dan Eropa.
Baca Juga: Satu Tanker Muat LPG RI Bisa Melintas Selat Hormuz
Penutupan Selat Hormuz dipicu serangan udara yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Konflik itu kemudian mengganggu distribusi energi global selama lebih dari dua bulan terakhir dan memicu tekanan besar terhadap rantai pasok minyak dunia.
Dampak paling besar mulai dirasakan negara-negara Asia yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor energi. Pemerintah Pakistan menyebut cadangan minyak mentah nasional kini berada pada level kritis.
Menteri Perminyakan Pakistan, Ali Pervaiz Malik, mengatakan negaranya hanya memiliki cadangan minyak mentah untuk lima hingga tujuh hari dan belum memiliki cadangan strategis nasional dalam jumlah memadai.
Tekanan serupa juga dialami sejumlah negara Asia lainnya. Vietnam diperkirakan hanya memiliki cadangan energi untuk 30 hingga 45 hari, Thailand sekitar 61 hari, sedangkan Singapura berkisar antara 20 hingga 50 hari.
Pemerintah Filipina bahkan mulai menerapkan kebijakan empat hari kerja dalam sepekan untuk menekan konsumsi energi nasional. Sementara itu, Perdana Menteri India, Narendra Modi, mengimbau masyarakat membatasi perjalanan internasional dan meningkatkan pola kerja dari rumah guna mengurangi penggunaan bahan bakar.
Krisis energi tersebut turut mempengaruhi proyeksi ekonomi kawasan Asia. Bank Pembangunan Asia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Asia tahun 2026 menjadi 4,7 persen dari sebelumnya 5,1 persen. Pada saat yang sama, inflasi kawasan diperkirakan meningkat menjadi 5,2 persen akibat lonjakan harga energi dan logistik.
Bank Dunia juga memperkirakan harga energi global sepanjang 2026 akan naik hingga 24 persen. Angka tersebut menjadi salah satu kenaikan tertinggi sejak pecahnya invasi Rusia ke Ukraina beberapa tahun lalu.
Untuk menstabilkan pasar, International Energy Agency atau IEA telah melepas sekitar 400 juta barel minyak dari cadangan darurat sejak Maret 2026. Selain itu, berbagai negara juga menarik tambahan sekitar 280 juta barel minyak hingga akhir April untuk menjaga stabilitas pasokan domestik.
Baca Juga: Iran Resmi Umumkan Selat Hormuz Dibuka Penuh
Meski langkah tersebut dilakukan, tekanan terhadap stok energi global diperkirakan masih berlanjut. Goldman Sachs memperkirakan stok minyak dunia dapat turun hingga setara 98 hari konsumsi pada akhir Mei 2026 jika distribusi di Selat Hormuz belum kembali normal.
Dampak krisis energi juga mulai merembet ke sektor pangan dan nilai tukar mata uang negara berkembang. Harga pupuk diperkirakan naik hingga 31 persen akibat kenaikan harga urea dan biaya distribusi energi.
Di pasar keuangan, sejumlah mata uang Asia mengalami tekanan tajam. Rupee India, rupiah Indonesia, dan peso Filipina dilaporkan melemah ke level terendah historis akibat meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap krisis energi berkepanjangan.
“Secara historis, setiap gangguan minyak selalu berujung pada resesi. Biaya naik, belanja masyarakat turun, penerimaan pajak melemah, utang meningkat, dan inflasi semakin tinggi,” ujar Chen. (C)
Penulis: Ahmad Jaelani
Editor: Kardin
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS