Ternyata Ini Penyebab Indonesia Belum Jadi Negara Maju Meski Miliki Nikel Terbesar di Dunia

Nur Khumairah Sholeha Hasan, telisik indonesia
Kamis, 25 Januari 2024
0 dilihat
Ternyata Ini Penyebab Indonesia Belum Jadi Negara Maju Meski Miliki Nikel Terbesar di Dunia
Aktivitas pertambangan nikel di konsesi eks PT Sangia Perkasa Raya di Desa Mandiodo, Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, pada 19 November 2022. Foto: Repro Majalah.tempo.co

" Selain unggul sebagai produsen, Indonesia tercatat sebagai pemilik cadangan nikel terbesar di dunia pada 2022 yakni mencapai 21 juta metrik ton "

KENDARI, TELISIK.ID - Indonesia terkenal dengan keindahan hingga sumberdaya alam yang melimpah, termasuk memiliki komoditas pertambangan yang berlimpah, mulai dari emas, timah, batu bara, hingga nikel.

Menurut laporan Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), produksi nikel di dunia diperkirakan mencapai 3,3 juta metrik ton pada 2022. Jumlah itu meningkat 20,88 persen dibandingkan pada 2021 yang sebanyak 2,73 juta metrik ton.

Masih dari sumber yang sama, Indonesia menjadi penghasil nikel nomor satu di dunia. Total produksinya diperkirakan mencapai 1,6 juta metrik ton atau menyumbang 48,48 persen dari total produksi nikel global sepanjang tahun lalu.

Selain unggul sebagai produsen, Indonesia tercatat sebagai pemilik cadangan nikel terbesar di dunia pada 2022 yakni mencapai 21 juta metrik ton. Posisinya setara dengan Australia. Ini artinya, Indonesia dan Australia masing-masing menyumbang 21 persen dari total cadangan nikel global sepanjang tahun lalu, seperti dilansir dari Indonesiabaik.id.

Dengan hasil Bumi yang melimpah, mengapa Indonesia belum menjadi negara maju?

Baca Juga: Pernah jadi Negara Termiskin di Bawah Indonesia, Ini Alasan China Kini Negara Maju di Dunia

Dilansir dari CnbcIndonesia.com, saat ini Indonesia sedang terjebak dan belum mampu keluar dari middle income trap atau negara dengan pendapatan menengah selama 29 tahun. Sebab, pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen masih belum dapat membantu Indonesia dari kenyataan pahit ini.

Menurut Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa, syarat Indonesia untuk lolos dari jebakan tersebut adalah mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebanyak 6 hingga 7 persen.

Suharso menambahkan bahwa Indonesia harus mendorong digitalisasi besar-besaran dan mendorong pengembangan ekonomi hijau untuk mencapai pertumbuhan tinggi.

Dalam kesempatan yang berbeda, sebelumnya Suharso juga sempat memaparkan alasan Indonesia terjebak lama dan belum bergerak secara efektif untuk mendorong pertumbuhan, yakni akibat faktor produktivitas setiap pekerja yang cenderung menurun.

Baca Juga: Negara Maju Ramai-Ramai Bikin Matahari Buatan, untuk Apa?

"Kalau dilihat, level productivity per setiap pekerja di Indonesia masih rendah bila dibandingkan dengan negara industri lainnya," kata Suharso.

Di sisi lain, Suharso juga melihat ada ketimpangan, seperti masih ada 20 provinsi di Indonesia yang berada di bawah lower middle income, yakni pendapatannya di bawah US$4.200 per kapita.

Sejumlah provinsi tersebut di antaranya Banten, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah, sementara itu di luar Pulau Jawa, seperti Riau, Kalimantan Utara, Jambi, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Jawa Timur. (C)

Penulis: Nur Khumairah Sholeha Hasan

Editor: Haerani Hambali

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS 

Artikel Terkait
Baca Juga