Unik: Tak Ada Anak Lahir 20 Tahun, Desa Ini Kini Dihuni Ratusan Boneka
Merdiyanto , telisik indonesia
Minggu, 12 April 2026
0 dilihat
Boneka berukuran manusia yang menghuni desa Nagoro Jepang. Foto: Repro Shutterstock
" Di lembah terpencil Iya Valley di Pulau Shikoku, terdapat desa kecil bernama Nagoro atau Kakashi no Sato (Desa Boneka) yang kini lebih banyak dihuni boneka berukuran manusia daripada penduduk asli "

NAGORO, TELISIK.ID - Di lembah terpencil Iya Valley di Pulau Shikoku, terdapat desa kecil bernama Nagoro atau Kakashi no Sato (Desa Boneka) yang kini lebih banyak dihuni boneka berukuran manusia daripada penduduk asli.
Lebih dari 350 boneka realistis mengisi jalanan, sekolah, halte bus, ladang, dan bangku taman, sementara manusia yang tersisa hanya sekitar 25-30 orang.
Fenomena ini menjadikan Nagoro salah satu desa paling unik di Jepang yang menarik ribuan wisatawan setiap tahun.
Desa Nagoro dulunya ramai dengan ratusan penduduk yang hidup dari pertanian. Namun, seperti banyak desa pedesaan di Jepang, ia mengalami depopulasi parah akibat migrasi penduduk muda ke kota besar dan penuaan populasi.
Baca Juga: Unik: Kawah Gunung Berapi di Meksiko Disulap jadi Lapangan Sepak Bola
Kini, tak ada satu pun anak lahir di desa ini selama lebih dari 20 tahun, dan akses ke supermarket atau rumah sakit memakan waktu hingga 90 menit perjalanan, seperti dilansir dari CNN Indonesia, Minggu (12/4/2026).
Rumah-rumah kosong dan suasana sepi menjadi pemandangan biasa sebelum boneka-boneka “mengambil alih”.
Cerita di Balik Boneka-Boneka Hidup
Semua dimulai pada 2002 ketika Tsukimi Ayano, seorang warga asal Nagoro yang kembali dari Osaka, merasa kesepian melihat desanya sepi.Ia mulai membuat boneka pertama untuk menggantikan ayahnya yang meninggal.
Boneka-boneka ini dibuat secara handmade dari kain, koran, kayu, dan kawat, dengan wajah ekspresif dan pakaian sehari-hari yang detail.
Setiap boneka diberi nama, cerita, dan pose seolah-olah mereka sedang menjalani kehidupan sehari-hari seperti duduk di bangku sekolah, bekerja di ladang, atau menunggu bus.
Ayano terus membuat boneka hingga jumlahnya mencapai ratusan. Ia merepresentasikan mantan tetangga, keluarga, dan penduduk yang sudah meninggal atau pindah.
“Boneka-boneka ini membuat desa terasa hidup kembali,” ujarnya dalam berbagai wawancara.
Penduduk setempat memperlakukan boneka-boneka ini seperti tetangga sungguhan, dan kini mereka menjadi simbol perlawanan terhadap kesepian serta penghormatan terhadap masa lalu desa.
Pemandangan Surreal yang Menjadi Daya Tarik Wisata
Melansir Okezone, Minggu (12/4/2026), boneka-boneka Nagoro tersebar di seluruh desa, ada yang “bercengkerama” di pinggir jalan, “mengajar” di ruang kelas sekolah yang sudah tutup, atau “beristirahat” di bawah pohon.
Meski terlihat mistis dan agak eerie bagi sebagian pengunjung, bagi warga lokal ini adalah cara kreatif menghidupkan kembali komunitas yang hampir punah.
Baca Juga: 2 Jet Tempur Kebanggaan AS Diklaim Tak Tertandingi Keok Ditembak Jatuh Iran, Begini Reaksi Trump
Desa ini kini dikenal sebagai Valley of the Dolls dan menjadi spot wisata off-the-beaten-path yang memerlukan perjalanan melewati jalan pegunungan sempit.
Fenomena Nagoro mencerminkan krisis demografi Jepang yang lebih besar, banyak desa pedesaan terancam punah karena rendahnya kelahiran dan urbanisasi.
Namun di Nagoro, boneka-boneka justru membawa harapan dan cerita mengharukan tentang ketahanan manusia. Tsukimi Ayano, yang kini sudah lanjut usia, masih terus merawat “anak-anaknya” sambil menyambut wisatawan yang datang dari seluruh dunia.
Jika Anda berencana berkunjung, Nagoro berada di distrik Miyoshi, Tokushima, sekitar 800 meter di atas permukaan laut.
Siapkan kamera dan hati untuk pengalaman yang tak terlupakan di desa tempat boneka “hidup” berdampingan dengan manusia yang tersisa. (C)
Penulis: Merdiyanto
Editor: Ahmad Jaelani
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS