adplus-dvertising

Ditinggal Wafat Suami, Janda Ini Bertahan Hidup dari Buruh Cuci

Nur Khumairah Sholeha Hasan, telisik indonesia
Minggu, 12 Juni 2022
624 dilihat
Ditinggal Wafat Suami, Janda Ini Bertahan Hidup dari Buruh Cuci
Rasia (kanan) didampingi Ketua RT 03, Muh. Basir (kiri) di rumah Rasia. Foto: Nur Khumairah/Telisik

" Sejak suaminya meninggal, Rasia hidup dari belas kasihan tetangga yang menggunakan jasanya sebagai buruh cuci "

KENDARI, TELISIK.ID - Setiap orang menginginkan kehidupan yang layak, berkecukupan, dan tinggal di hunian yang nyaman. Namun seringkali kenyataan tak seperti apa yang diimpikan.

Hal ini juga terjadi pada Rasia, seorang janda yang kini hidup sangat sederhana, pasca ditinggal oleh suami yang lebih dulu menghadap pada Sang Khalik.

Rasia tinggal di Jalan Budi Utomo Lorong Masjid Babul Jihad di Kelurahan Mataiwoi, Kecamatan Wua-Wua, Kota Kendari.


"Ibu Rasia ini sudah di sini sejak sekitaran 2010," ujar Muh. Basir, Ketua RT 03 Kelurahan Mataiwoi, Minggu (12/6/2022).

Saat Telisik.id mencoba mewawancarainya, dia mempersilakan kami masuk ke dalam rumahnya. Rumah yang dihuninya selama kurang lebih 10 tahun tersebut nampak sudah tak terlihat layak. Atapnya terbuat dari anyaman daun sagu atau daun rumbia yang sudah usang dan banyak yang berlubang.

Beberapa sisanya hanya ditutupi dengan terpal yang juga kurang layak. Jika dibiarkan berlama-lama tentu akan semakin lapuk dan bocor. Terlihat atap belakang rumahnya juga banyak yang berlubang. Dindingnya terbuat dari papan sedangkan lantainya dari semen yang ditutupi tikar seadanya.

Baca Juga: Kondisi Ekonomi Tak Mendukung, Ibu Ini Terpaksa Pisah dari Anaknya

Dia tak terlalu fasih berbicara dan mendengar, beruntung saat di lapangan, Telisik.id dibantu oleh Ketua RT.

"Sehari-harinya sebagai ibu rumah tangga, biasa jadi buruh cuci jika ada panggilan dari tetangga," kata Muh Basir.

Sebagai ibu rumah tangga, sehari-harinya Rasia hanya berada di dalam rumah. Dia tak memiliki penghasilan tetap. Buruh cuci adalah satu-satunya sumber penghasilannya, tapi itu pun hanya kalau ada tetangga yang membutuhkan tenaganya.

"Dulu sewaktu masih bersuami, suaminya yang cari nafkah. Kerjanya itu mengamen (nyanyi) di lampu merah," imbuhnya.

Dia menambahkan, semenjak menjadi Ketua RT, belum ada uluran tangan dari pemerintah untuk Rasia.

"Saya sudah beberapa kali usulkan, bahkan bukan cuma Ibu Rasia saja, tapi yang lain juga. Ada 3 yang rumahnya kurang layak saya data, tapi hingga kini tak ada realisasi sama sekali," tambahnya.

Dia melanjutkan jika pernah ada survei dari Dinas Sosial.

Baca Juga: Ibu Ini Banting Tulang demi Hidupi 9 Anak dan Suaminya

"Kalau bantuan COVID-19 pernah, tapi bantuan tetap seperti PKH dan sebagainya tidak pernah. Pernah datang kesini dari Dinsos lihat-lihat  tapi tak ada realisasi," ujarnya.

Rasia memiliki 3 orang anak. Anak yang pertama dan yang terakhir jarang berada di rumah. Sedangkan anak ke-2 sudah menikah. Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, dia lebih banyak menghabiskan waktu membantu mencuci baju yang juga bukan pekerjaan tetapnya, hanya dia lakukan ketika ada tetangga yang membutuhkan jasanya.

"Sebagai Ketua RT, saya berharap kalau mereka ini dapat bantuan, minimal bantuan tetap dan renovasi rumahlah. Karena kasihan kalau musim hujan, ditambah atapnya banyak yang bocor," tandas Muh. Basir. (A)

Penulis: Nur Khumairah Sholeha Hasan

Editor: Haerani Hambali

Baca Juga