adplus-dvertising

Hidup Pas-pasan, Seorang Ibu jadi Tulang Punggung Keluarga

Nadwa Rifada, telisik indonesia
Senin, 11 April 2022
665 dilihat
Hidup Pas-pasan, Seorang Ibu jadi Tulang Punggung Keluarga
Wanuri yang sedang berdiri, setelah habis berlari mengantarkan minuman dingin untuk sopir angkot di seberang jalan raya. Foto: Nadwa Rifada/Telisik

" Segalanya butuh kerja keras dan ketika sudah melangkah untuk melakukan yang terbaik, maka tidak akan ada yang sia-sia "

KENDARI, TELISIK ID - Tidak ada satu pun yang instan di dunia ini, segalanya butuh kerja keras dan ketika sudah melangkah untuk melakukan yang terbaik, maka tidak akan ada yang sia-sia.

Kehidupan setiap orang berbeda-beda termasuk dalam menjalaninya. Untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik dibutuhkan pengorbanan dan perjuangan.

Seperti kehidupan Wanuri (52), yang butuh perjuangan. Dalam kesehariannya Wanuri adalah seorang Ibu rumah tangga sekaligus pedagang minuman dingin di area jalur teluk Kendari. Setiap hari Wanuri duduk bersama kotak berisikan minuman yang diisi es batu.


Meski panas terik matahari, Wanuri tetap bisa berjualan di bawah payung yang selalu melindunginya. Sesekali mobil angkot berhenti untuk sekedar membeli minuman yang ia jajakan di pinggir jalan raya.

Jika sopir angkot menghentikan kendaraan dan berteriak memanggil namanya, Wanuri akan sangat senang dan segera berlari menghampiri sambil membawa beberapa minuman dingin. Hampir setiap hari Wanuri melakukannya, bahkan tidak heran jika beberapa sopir angkot tahu dan mengenal Wanuri.

Ia sudah menjalani profesinya sebagai pedagang minuman dingin sejak bertahun-tahun lamanya. Sebelum menjadi seorang pedagang, Wanuri pernah bekerja serabutan, apa pun ia geluti demi memenuhi kebutuhannya dan kebutuhan hidup keluarganya.

Baca Juga: Tukang Becak Ini Menabung 15 Tahun untuk Bangun Rumah Sendiri

Suami Wanuri, Lahariah (63) yang sering sakit-sakitan dan tidak mampu lagi bekerja, membuat Wanuri harus berjuang dan bekerja lebih keras seorang diri demi menghidupi keluarga. Meski keadaan memaksanya menjadi tulang punggung keluarga, Wanuri tidak pernah mengeluh.

Setiap hari Wanuri memperoleh penghasilan yang tidak menentu, terkadang Rp 200.000 per hari kadangkala juga lebih, jika dihitung Wanuri mampu menghasilkan Rp 500.000 perbulan. Hasil yang tidak seberapa untuk bisa menghidupi 5 orang anak.

Wanuri juga tinggal bersama 5 orang anaknya, Ardiyan, Slamet, Musdalifah, Hasriyani dan Esti. Wanuri yang penghasilannya pas-pasaan tetap mampu membiayai pendidikan mereka, meski sebagian anaknya tidak lagi bisa menyelesaikan pendidikan.

Dari semua saudaranya, hanya Wanuri yang memiliki kehidupan serba pas-pasan. Tidak jarang saudara-saudaranya bersedih hati melihat kehidupan yang dijalani Wanuri.

Baca Juga: Mengidap Kanker Selama 2 Tahun, Pasien Ini Akhirnya Punya KIS

Meski begitu, Wanuri adalah sosok Ibu yang tangguh, terbukti dari caranya tersenyum saat menceritakan kehidupan yang dijalaninya saat ini.

"Nasib masing-masing orang tidak menentu, kadang di atas kadang di bawah. Saya selalu berdoa semoga anak-anaku memiliki kehidupan yang lebih baik. Cukup saya yang hidupnya seperti ini. Anak-anaku jangan," Kata Wanuri yang masih bisa tersenyum. Senin, (11/4/2022)

Wanuri memang tidak mengenal pendidikan. Yang diketahuinya hanya sebatas satu dua huruf saja, itu juga karena pernah diajar oleh tetangga. Tetapi Wanuri mengerti, kehidupan adalah sebuah proses.

Meratapi nasib tanpa melakukan apa pun berarti sama saja menyerah dengan kehidupan. Itulah mengapa Wanuri tidak ingin menyerah dan bersedih hati. Baginya yang terpenting saat ini adalah menjadi Ibu yang pantang menyerah dan tulang punggung keluarga. (A)

Reporter: Nadwa Rifada

Editor: Kardin

Baca Juga