adplus-dvertising

Jangan Sembarangan, Ternyata Ini Tempat Duduk Setan

Putri Wulandari, telisik indonesia
Rabu, 02 Juni 2021
28247 dilihat
Jangan Sembarangan, Ternyata Ini Tempat Duduk Setan
Rasulullah SAW melarang duduk di antara tempat yang terkena sinar matahari dan tempat yang terkena naungannya. Foto: Repro maahaadzaa.com

" Jika kalian berada di tempat yang panas, lalu tiba-tiba bayangan bangunan menutupi kita sebagian sehingga terkena teduh, maka hendaknya dia pindah. "

JAKARTA, TELISIK.ID - Ternyata ada tempat-tempat yang dilarang Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam untuk berada di tempat tersebut walau hanya sebentar. Karena ada tempat-tempat yang dijadikan tempat duduknya setan.

Dilansir dari video Yufid.TV, diriwayatkan Ahmad dan disahihkan Syuaib Al Arnauth. Dari Abu Iyadh Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah SAW melarang duduk di antara tempat yang terkena sinar matahari dan tempat yang terkena naungannya. Rasulullah SAW bersabda, "itu adalah tempat duduknya setan".

Mengutip laman konsultasi syariah, terdapat dalil yang menjelaskan karakteristik tempat yang dihuni setan. Tempat itu bercirikan teduh sekaligus panas.


Baca juga: Yuk, Kenali Istri-Istri Rasulullah SAW

Baca juga: 7 Perawatan Kecantikan Alami ala Istri Nabi

Selain itu, hadis riwayat Abu Dawud, dan disahihkan Al Albani. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah SAW bersabda, "Jika kalian berada di tempat yang panas, lalu tiba-tiba bayangan bangunan menutupi kita sebagian sehingga terkena teduh, maka hendaknya dia pindah."

Dalam video tersebut menjelaskan, selain dilarang Rasulullah SAW karena merupakan tempat yang disukai setan, ternyata menurut medis jika duduk atau berada di antara panas dan teduh tidak baik bagi tubuh manusia.

Al Munawi mengatakan "Bahwa duduk di sebagian tempat teduh, sementara sebagian terkena sinar matahari membahayakan bagi badan."

Sebab ketika duduk atau berada di tempat demikian dapat merusak cairan tubuh. Hal ini diakibatkan karena terdapat dua pengaruh yang bertolak belakang yang mengenai tubuh manusia. (Faidhul Qadir, 6/351). (C)

Reporter: Putri Wulandari

Editor: Haerani Hambali

TAG:
Baca Juga