adplus-dvertising

Kisah Pengajar Asal Kendari di Amerika, Tak Bisa Pulang Akibat Wabah COVID-19

Muhammad Israjab, telisik indonesia
Sabtu, 21 Maret 2020
1999 dilihat
Kisah Pengajar Asal Kendari di Amerika, Tak Bisa Pulang Akibat Wabah COVID-19
Muhammad Kurniawan Rachman, yang saat ini tengah menjadi pengajar Bahasa Indonesia sekaligus menempuh pendidikan di University of Pennsylvania, Amerika Serikat. Foto: Istimewa

" Hidup mandiri di negeri asing, tentunya bukan menjadi hal yang mudah, apalagi dengan situasi sekarang dimana dunia sedang dilanda COVID 19 yang menyebabkan kepanikan di mana-mana. "

KENDARI, TELISIK.ID – Bernama lengkap Muhammad Kurniawan Rachman, yang saat ini tengah menjadi pengajar Bahasa Indonesia sekaligus menempuh pendidikan di University of Pennsylvania. Dia menceritakan bagaimana dirinya tak bisa beraktifitas dengan normal akibat wabah COVID-19 yang melanda Amerika Serikat saat ini.

“Hidup mandiri di negeri asing, tentunya bukan menjadi hal yang mudah, apalagi dengan situasi sekarang dimana dunia sedang dilanda COVID 19 yang menyebabkan kepanikan di mana-mana,” sepenggal kata yang dibagikan Wawan sapaan akrabnya.

Jauh dari keluarga menurutnya bukanlah hal yang mudah, bahkan mungkin bagi Wawan sebagian teman-teman yang melihat unggahan foto-foto tentang pelajar yang kuliah di luar negeri, banyak yang merasa kehidupan pelajar menjadi pengalaman yang menyenangkan tanpa banyak masalah. Namun untuk kondisi saat ini, justru sangat berbeda.


Baca Juga : Imbas COVID-19, SKB Calon ASN Ditunda

“Keadaan ini tentu membuat banyak pihak menjadi panik, dan melakukan banyak tindakan pencegahan untuk setidaknya memperlambat penyebaran virus ini. Kampus saya sendiri sejak dua minggu yang lalu, sudah membuat pernyataan untuk memperpanjang liburan musim semi menjadi dua minggu (5-23 Maret), sehingga para pengajar mendapatkan tambahan waktu untuk mempersiapkan diri untuk mengajar secara daring,” ugkapnya melalui pesan Whatsapp, Sabtu (21/3/2020).

University of Pennsylvania yang juga merupakan tempat kuliah Presiden Amerika Donald Trump, terpaksa meliburkan dan menghentikan seluruhnaktifitas perkuliahan, yang diikuti instruksi presiden kampus.

“Presiden kampus pun, sudah menetapkan bahwa dengan kondisi ini, seluruh perkuliahan akan dilakukan secara daring hingga akhir semester. Beliau juga meminta untuk meniadakan seluruh kegiatan yang melibatkan massa di dalamnya. Konferensi yang ingin saya ikuti pun harus dibatalkan dengan keadaan ini,” ujar Wawan yang juga alumni UHO tahun 2019.

Baca Juga : Sekda Mengaku Tak Tahu Soal Perubahan Perbup TPP

Penerima beasiswa Fulbright itu, mengatakan bahwa, Amerika Serikat yang saat ini, statusnya menjadi negara keenam terbanyak yang masyarakatnya terjangkit virus corona. Dengan jumlah sekitar 19.429 kasus hingga saat ini, menurut www.worldometers.info/coronavirus/.

“Situasi ini juga membuat beberapa hal menjadi sangat berbeda, misalnya kebanyakan masyarakat di sini akhirnya memilih untuk melakukan self-quarantine (tidak bepergian) dengan melakukan aktifitas sehari-hari seperti bekerja, belajar dan berolahraga di rumah. Hal ini dilakukan agar kurva penyebaran virus dapat menurun dan membantu pihak medis untuk menangani pasien yang terjangkit covid 19 dengan lebih mudah dan efektif. Banyak juga yang melakukan olahraga di luar rumah di pagi buta sehingga dapat menjaga jarak dari orang lain,” terangnya.

Pria yang pernah bersekolah di SMA 5 Kendari itu, menuturkan keberadaannya di Amerika Serikat hingga saat ini tidak tidak membuat dirinya begitu tertekan, apalagi berbicara tentang kebutuhan pokok disaat seperti ini. Dirinya masih mampu mendapatkan berbagai kebutuhan dengan mudah.

“Berbicara tentang hal yang menarik mengenai wabah COVID-19, di kota saya sendiri sampai saat ini bahanan makanan masih tersedia. Di beberapa supermarket walaupun jumlahnya tidak sebanyak sebelum persebaran virus ini sendiri. Hal ini dikarenakan setiap supermarket menyediakan berbagai macam jenis makanan dasar yang berbeda, sehingga ada banyak pilihan yang dapat dibeli oleh masyarakat,” katanya.

Baca Juga : Jaminan Keselamatan dan Kesejahteraan Bagi Paramedis dalam Menangani COVID-19

Namun disisi lain pula ada hal yang membuatnya sangat khawatir, yang mana di tengah cepatnya COVID-19 ini menyebar membuatnya sangat khawatir dengan keluarganya di Kendari.

“Persebaran virus yang cepat dan tingkat kematian yang tinggi di Indonesia pun, membuat saya khawatir dengan keluarga saya. Namun, saya merasa bahwa menunggu kondisi yang membaik baik di sini maupun di tanah air, akhirnya kembali merupakan pilihan yang bijaksana untuk dilakukan. Saya sangat berharap bahwa masyarakat Sulawesi Tenggara dapat lebih waspada tapi tidak terlalu panik dengan situasi ini,” ucap pria 28 tahun itu.

Terakhir, Wawan juga memberikan tips dan pengalamannya untuk mencegah terjangkit COVID-19, dengan melakukan Self-quarantine atau tidak terlalu banyak melakukan aktifitas di luar rumah. Kemudian menjaga kebersihan diri serta lingkungan, merupakan hal dasar yang bisa kita lakukan untuk membantu diri kita dan orang-orang di sekitar kita.

 

Reporter: Muhammad Israjab

Editor: Sumarlin

Baca Juga