Mahasiswa Wakatobi Keluhkan Biaya Pulang Kampung Sejak Kapal Perintis Latih Barombong Docking Desember 2025
Zulkifli Herman Tumangka, telisik indonesia
Selasa, 13 Januari 2026
0 dilihat
Kapal Perintis Latih Barombong belum beroperasi sejak Desember 2025, mahasiswa Wakatobi keluhkan biaya mahal saat pulang kampung. Foto : ist.
" Kapal perintis Latih Barombong yang melayani rute Sulawesi Tenggara (Sutra) hingga Sulawesi Selatan (Sulsel) belum kembali beroperasi sejak menjalani docking pada Desember 2025 lalu "

WAKATOBI, TELISIK.ID - Kapal perintis Latih Barombong yang melayani rute Sulawesi Tenggara (Sutra) hingga Sulawesi Selatan (Sulsel) belum kembali beroperasi sejak menjalani docking pada Desember 2025 lalu.
Kondisi ini berdampak langsung pada mahasiswa asal Wakatobi yang menempuh pendidikan di Kendari, terutama di masa liburan semester seperti saat ini.
Di Sultra, Kapal Latih Barombong selama ini menjadi moda transportasi andalan mahasiswa karena tarifnya yang relatif terjangkau. Namun, belum adanya kepastian jadwal operasional kapal memaksa mahasiswa memilih alternatif lain yang jauh lebih mahal.
Baca Juga: Meski Berkebutuhan Khusus, Siswa SLBN 1 Kendari Belum Dapat Program MBG
Mahasiswa terpaksa menggunakan Kapal Jetliner atau kapal swasta dengan biaya sekitar Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu hanya untuk mencapai Pulau Wangi-Wangi.
Beban biaya tersebut semakin berat bagi mahasiswa yang berasal dari Tomia, Kaledupa, maupun Binongko karena masih harus melanjutkan perjalanan dengan speed boat antarpulau.
“Kalau naik kapal lain biayanya jauh lebih mahal. Dari Kendari ke Wangi-Wangi saja sudah Rp 150 ribu, belum lagi ke Tomia harus tambah ongkos speed boat,” ujar Sahrul, mahasiswa asal Tomia, Selasa (13/1/2025).
Hal serupa disampaikan Julina, mahasiswa asal Binongko. Menurutnya, ketiadaan Kapal Latih Barombong membuat mahasiswa dari pulau terluar harus mengeluarkan biaya berlipat hanya untuk pulang ke kampung halaman.
“Biasanya kapal ini paling kami tunggu saat libur semester. Sekarang terpaksa pakai kapal lain dan biayanya memberatkan. Sampai Binongko bisa habis ratusan ribu rupiah,” kata Julina.
Baca Juga: PT Landipo Niaga Raya Buka Lowongan SPV, Penempatan Kendari dan Kolaka
Para mahasiswa berharap Kapal Perintis Latih Barombong dapat segera kembali beroperasi. Jika belum memungkinkan, mereka meminta pemerintah dan pihak terkait menyiapkan armada pengganti agar akses transportasi laut tetap terjangkau, khususnya bagi mahasiswa dan masyarakat kepulauan.
“Kami hanya berharap ada solusi. Entah kapal ini segera jalan lagi atau disediakan kapal pengganti, supaya mahasiswa tidak terus terbebani biaya mahal setiap liburan,” tambah Julina.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pengelola terkait jadwal beroperasinya kembali Kapal Latih Barombong maupun penyediaan armada pengganti. (B)
Penulis : Zulkifli Herman Tumangka
Editor: Mustaqim
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS