adplus-dvertising

Mata Kebijaksanaan

M. Najib Husain, telisik indonesia
Minggu, 24 Oktober 2021
1365 dilihat
Mata Kebijaksanaan
Dr. M. Najib Husain, Dosen FISIP UHO. Foto: Ist.

" Pandangan kritis Partai Golkar terhadap kepemimpinan Jokowi (walaupun Golkar partai pendukung) tetap dibutuhkan karena posisi Airlangga Hartanto saat menyampaikan pidato politiknya bukan sebagai bawahan Jokowi "

Oleh: Dr. M. Najib Husain

Dosen FISIP UHO  

DALAM pidato politik Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartanto pada puncak HUT ke-57 menyebut  arti nama masjid Ainul Hikmah yang dibangun di kompleks perkantoran baru DPP Partai Golkar yang berarti 'mata kebijaksanaan'.


Sebuah nama yang sangat tepat untuk melihat bagaimana peluang  Airlangga Hartanto menjadi presiden  dengan mata kebijaksanaan.

Dalam pidato politik semalam, Airlangga Hartanto tidak banyak menguraikan seperti apa keberhasilan Partai Golkar selama di bawah kepemimpinan beliau.

Juga bagaimana pandangan kritis Partai Golkar terhadap kepemimpinan Jokowi (walaupun Golkar partai pendukung) tetap dibutuhkan karena posisi Airlangga Hartanto saat menyampaikan pidato politiknya bukan sebagai bawahan Jokowi, tapi sebagai ketua partai karena itulah esensi dari 'mata kebijaksanaan'.

Padahal, momentum ini sangat tepat digunakan oleh Airlangga Hartanto dalam menaikan elektabilitasnya sebagai calon presiden yang diusung oleh Partai Golkar, dan juga dapat menaikan elektabilitas partai di mata publik, yang melihat sosok Airlangga Hartanto sebagai sosok yang tegas, bersemangat dan mampu memposisikan dirinya sebagai  seorang petarung.

Saat membakar semangat para kader Golkar langsung direspon dengan lebih bersemangat. Sama yang diinginkan oleh Airlangga Hartanto  satu taktik...satu kata...satu tekad kemenangan Golkar di semua hajatan demokrasi di tahun 2024.  

Syarat pertama untuk menjadi presiden telah dimiliki oleh Airlangga Hartanto sebagai figur Partai Golkar,  karena secara umum ketika seseorang ditanya mengapa mendukung seorang calon tersebut maka biasanya jawaban yang seragam adalah ketokohan/figur.

Faktor figur memang penting, namun  mesti diringi dengan loyalitas dan sejauh mana figur tersebut bisa memberikan kontribusi bagi komunitas tertentu. Ketokohan adalah faktor paling penting. Ketokohan tersebut bersinergi dengan popularitas.

Tapi kadang banyak yang terkenal tapi gak terpilih dalam pemilihan presiden, Pemilu legislatif atau Pilkada. Karena sekali lagi, populer itu tidak cukup, mesti ada orang lain yang bekerja untuk kemenangannya dan di sini pentingnya jejaring.  

Dengan 'mata kebijaksanaan' pula para kader Golkar harus mulai mengukur dan melihat hasil kerja mereka selama ini dengan satu komando memasang baleho dan billbord Airlangga Hartanto calon presiden di seluruh Indonesia. Hasilnya telah kita tahu bersama bahwa posisi elektabilitas Airlangga Hartanto masih jauh dari calon yang lain.

Baca Juga: Kesuksesan Pembelajaran Tatap Muka Minggu Pertama

Baca Juga: Panggung Politik Kembali Bergoyang

Oleh sebab itu, membangun kejaring untuk pemenangan calon presiden Partai Golkar, mulai saat ini harus dilakukan dari struktur partai sampai pada merawat jejaring yang dipandang penting menggalang suara. Struktur Partai Golkar tidak diragukan lagi sebagai partai senior sudah pasti sangat solid, karena  jejaring partai sangat penting dalam membangun kekuatan.

Untuk itu Golkar tetap harus membangun komunikasi dengan partai lain dalam menawarkan calon presiden yang didukung dan jangan menjadi calon yang ekslusif. Alasannya adalah partai memiliki struktur hingga tingkatan kecamatan dan desa dengan kondisi itu berpotensi besar untuk menjaring pemilih.

Merawat jejaring secara intensif harus dilakukan, baik menggunakan jaringan dengan lembaga formal, non formal untuk mendulang suara. Sementara untuk konstituen mereka kerap menjalin hubungan dengan silaturahmi, baik sebelum dan menjelang Pemilu, dan juga kerap membiayai perhelatan yang dilaksanakan oleh konstituen menyatakan, “apa yang dibutuhkan masyarakat itu yang kita berikan”.

Hanya dengan cara inilah para kader Golkar dan para calegnya bisa mengikat suara konstituennya ketika terjadi Pileg yang bersamaan dengan pemilihan presiden seperti 2019,  dimana Golkar sebagai pemenang kedua dan mampu mencapai 85 kursi di DPR RI.

Selama ini, untuk daerah yang merupakan basis, para petarung dan tim suksesnya akan sangat diperhatikan. Sebagian besar petarung tidak hanya menjelang Pemilu saja menjalin hubungan intensif terutama mengandalkan pemberian bantuan dan materi secara rutin.

Sedangkan untuk daerah non-basis biasanya mereka menjajaki melalui tokoh setempat. Sekiranya ada peluang maka mereka akan berupaya untuk “merengsek” masuk ke wilayah non-basis yang saat ini lebih mengandalkan wajah patronase.  

Merawat jejaring dengan pola patronase--ditunjukkan oleh tim sukses. Secara rutin mereka memberikan sesuatu kepada suatu komunitas untuk mengingatkan bahwa ada timbal balik yang diharapkan (reciprocity) pada hari H.

Namun, untuk massa mengambang (swing voters) tidak semua caleg  mengelolanya. Alasan utamanya karena tidak ada jaminan untuk memperoleh suara. Beda dengan kantong-kantong suara komunitas yang jelas mau ke mana. Sementara yang mengelola swing voters biasanya mengandalkan pola patronase didukung dengan internet dan sosial media.  

Sekali lagi, tidak ada faktor tunggal yang bisa memenangkan hati pemilih, karena satu faktor yang berpengaruh terkait pula dengan faktor-faktor lainnya (multiple factors). Untuk program umumnya setiap calon presiden akan menawarkan “jualan” yang sama, tentang perbaikan ekonomi pasca COVID-19 (itu pasti), peningkatan kesejahteraan, peduli kesehatan dan pendidikan rakyat.

Intinya sama yang dikatakan iklan rokok Ultra Mild “Saatnya Main Halus”. (*)

Artikel Terkait
Baca Juga