adplus-dvertising

Menyoal Kans Prabowo Bakal Calon Presiden 2024

Efriza, telisik indonesia
Sabtu, 30 Oktober 2021
1196 dilihat
Menyoal Kans Prabowo Bakal Calon Presiden 2024
Efriza, Dosen Ilmu Politik di Beberapa Kampus dan Owner Penerbitan. Foto: Ist.

" Prabowo dianggap representasi dari calon presiden golongan tua, sekaligus representasi kekuatan politik lama, ini juga modal popularitasnya "

Oleh: Efriza

Dosen Ilmu Politik di Beberapa Kampus dan Owner Penerbitan

SEKITAR 6 bulan merujuk berbagai hasil survei menunjukkan bahwa Prabowo Subianto selaku Menteri Pertahanan memperoleh trend baik, ia berhasil menduduki peringkat pertama dalam elektabilitas sebagai calon presiden 2024.


Trend baik ini yang menyebabkan Partai Gerindra begitu percaya diri mengusung kembali Prabowo selaku Ketua Umum sebagai calon presiden. Dukungan ini dinyatakan oleh Partai Gerindra bukan saja mengatasnamakan Pimpinan Pusat atau DPP Partai Gerindra semata, tetapi dukungan ini juga diklaim dinyatakan oleh 12 provinsi dari DPD Partai Gerindra.

Memang jika mempelajari hasil Survei selama 6 bulan tepatnya September kemarin, menunjukkan trend Prabowo menduduki peringkat teratas.

Elektabilitas Prabowo yang tinggi ini mirip dengan Ganjar Pranowo yang didasarkan oleh kinerjanya, yang sekaligus menjelaskan bahwa trend pemasangan atribut baliho dan billboard di ruang publik tak berbanding lurus dengan tingkat elektabilitas politisi tersebut, lihat saja kegagalan baliho dan billboard dari Ketua DPP PDIP Puan Maharani, Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono, Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto, dan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar.

Meski begitu, antara Prabowo dan Ganjar Pranowo tentu saja berbeda dalam kita membaca elektabilitasnya. Prabowo saat ini masih tinggi elektabilitasnya karena suara publik yang sempat memilihnya pada Pemilu 2019 lalu, masih tetap dalam genggaman, meski tidak lagi seluruhnya.

Berbeda dengan Ganjar yang merupakan tawaran calon alternatif, calon baru, calon dari kalangan muda, berbasis kekuatan popularitas di daerah bukan atas nama pusat (Jakarta) dan ia juga pejabat kepala daerah yakni Gubernur Jawa Tengah. Ketika kita telah mendudukkan Ganjar Pranowo dengan dibandingkan Prabowo Subianto, menunjukkan Prabowo Subianto perlu berhati-hati.

Trend Hasil Survei Sekitar 6 bulan tepatnya sampai September telah menunjukkan, ada tiga calon presiden yang popularitasnya dalam posisi tiga besar saling kejar-mengejar, bahkan dalam hasil survei terbaru Kompas pada 18 Oktober 2021 menunjukkan elektabilitas Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo dalam posisi sama kuat, seri, sebesar 13,9 persen (Kompas.com, 23 Oktober 2021).  

Berdasarkan Survei di bulan Oktober ini juga menunjukkan elektabilitas Prabowo Subianto tak pernah sampai di angka 30 persen. Bahkan, jika melihat hasil Survei suara Prabowo, sebenarnya mengalami penurunan dari 18,1 persen sekarang turun menjadi 13,9 persen, meski ini terjadi karena kita membaca hasil survei misal dari pengelola Survei yang berbeda, tetapi ini bisa menjadi peringatan dini.

Kans Prabowo

Kecerdasan dan Keberanian Prabowo patut diapresiasi, ia memilih untuk masuk dalam Pemerintahan Presiden Joko Widodo. Prabowo dan Partai Gerindra sebenarnya bisa saja mengedepankan egois dirinya dengan memilih menjadi Oposisi.  

Tetapi pilihan bergabung dalam pemerintahan menunjukkan Prabowo mau mendengar suara sumbang selama ini. Sejak nama Prabowo dimajukan pada Pemilu 2009 lalu sebagai calon presiden, ia selalu dianggap belum memiliki prestasi dalam kabinet.

Di sisi lain, Prabowo pun selalu mendapatkan sebuah tantangan untuk menjabat Menteri Pertahanan terlebih dahulu baru maju sebagai calon Presiden, apalagi Prabowo berasal dari kalangan militer, sehingga wajar jika ditantang menjabat sebagai menteri pertahanan dengan unjuk presetasi dahulu.

Keberanian dan Kecerdasan itu yang menunjukkan Prabowo berani dan merelakan diri untuk tak populer di mata kalangan pemilihnya. Kekecewaan terhadap Prabowo dan Gerindra ditampakkan oleh sebagian para Pemilih Islam dan/atau yang dalam kubu Islamis-transnasionalis.

Meski begitu, ternyata pilihan Prabowo untuk mendedikasikan diri untuk negara dengan menjadi menteri Pertahanan memperoleh respons positif. Prabowo menjadi bagian dari sosok menteri yang dekat dan dihormati oleh Presiden Joko Widodo.

Prabowo pun telah membawa posisi militer Indonesia menjadi lebih baik, lihat saja hasil Survei Global Fire Power (GFP) yang menobatkan Indonesia sebagai negara dengan Militer terkuat di Asia Tenggara (ASEAN) berdasarkan hasil informasi pertahanan dari 138 negara yang diperbarui setiap tahun, sedangkan kekuatan Militer Indonesia di Asia menempati posisi ke-9 sementara di dunia menduduki peringkat ke-16 (Kompas, 17 Oktober 2021).

Respons positif dari perkembangan kekuatan militer Indonesia yang sudah mulai diperhitungkan, ditambah dengan realitas hasil kinerja Prabowo yang dianggap baik, serta faktor hubungan mesra antara Prabowo dan Presiden Joko Widodo menunjukkan bahwa Prabowo memang patut diperhitungkan kembali sebagai calon presiden.

Apalagi didukung juga dengan hubungan yang harmonis kembali antara Partai Gerindra dengan PDI Perjuangan, wajar akhirnya Prabowo diperhitungkan kembali untuk berkoalisi seperti Pemilu 2009 lalu.

Baca Juga: Mata Kebijaksanaan

Baca Juga: Partai Ummat Tampak Layu Sebelum Berkembang

Menunggu Keputusan Prabowo  

Prabowo saat ini memiliki modal popularitas yang lebih baik dari calon lainnya untuk menjadi calon presiden 2024 mendatang. Prabowo tentu dianggap representasi dari kalangan militer selain Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), namun pengalaman dan kesuksesan Prabowo sebagai Menteri Pertahanan saat ini tentu representasi militer lebih cenderung kepada Prabowo.  

Posisi sebagai representasi militer tentu saja dimiliki oleh Prabowo, bahwa ia dianggap dapat memberikan rasa keamanan, memperkuat persatuan dan kesatuan, dan juga pemerintahan dianggap dapat stabil jika dipegang oleh calon presiden dari militer. Gambaran ini selalu dilekatkan oleh pemilih dalam persepsi kepada kalangan calon presiden dari militer.

Dan, hal ini sudah ditunjukkan dua kali dalam Pilpres terkait persepsi publik terhadap Prabowo yang berasal dari kalangan militer.

Di sisi lain, Prabowo dianggap representasi dari calon presiden golongan tua, sekaligus representasi kekuatan politik lama, ini juga modal popularitasnya.

Hanya saja, Prabowo memperoleh beban diri yang lebih berat. Saat ini kalangan tua, petarung dalam perebutan calon presiden umumnya yang wajah lama hanya menyisakan Prabowo sendiri.

Sedangkan lawannya adalah orang-orang muda, wajah baru, dan hal yang utama trend kesuksesan Jokowi beranjak dari kesuksesan di daerah baru kemudian menuju ke level pusat malah cenderung menguat dengan representasi dari tiga calon yang terus mewarnai hasil survei calon presiden seperti Ganjar Pranowo, Ridwan Kamil, dan Anies Baswedan.

Hal yang juga menyelimuti dari kans Prabowo adalah ia membutuhkan mitra koalisi untuk mendukung dirinya. Berbicara koalisi artinya, posisi tawar Prabowo menjadi tiga kemungkinan, sebagai calon presiden, atau sebagai calon wakil presiden, atau malah cukup sebagai ‘king maker’ yakni sebagai penentu calon presiden dan wakil presiden pada Pemilihan Presiden 2024 mendatang.

Bongkar-pasang analisis calon presiden dan wakil presiden dengan mengikutsertakan Prabowo memang saat ini terlalu dini sebagai ukuran, selain dapat dianggap sebagai catatan semata. Kancah politik sebenarnya dalam proses penetapan calon presiden dan wakil presiden masih jauh dari perencanaan, karena yang direncanakan tahap pencalon untuk Pemilihan Presiden akan terjadi pada tahun 2023 mendatang.

Bahkan di sisi lain, calon-calon yang lain belum menunjukkan keseriusannya, namun dapat disimpulkan bahwa Prabowo saat ini masih harus berjuang mendongkrak presentase elektabilitasnya yang hingga saat ini tak bisa menembus angka 30 persen.

Kesadaran ini sepertinya yang sedang menyelimuti hati dan pikiran Prabowo. Langkah cepat dari Partai Gerindra yang secara tidak langsung telah mencoba untuk mengajukan Prabowo selaku Ketua Umum untuk menjadi calon presiden 2024, disinyalir menjadi kekuatan dalam membendung kenaikan elektabilitas dari Airlangga Hartarto dengan Partai Golkarnya yang telah menyatakan mengusung Ketua Umumnya sebagai calon presiden.

Di sisi lain, Gerindra juga ingin menunjukkan diri, dari ketiga calon presiden yang berasal dari Pejabat Kepala Daerah bahwa Prabowo memiliki kans lebih besar sebagai calon presiden karena sosok inti dari partai politik. Sedangkan Ganjar Pranowo, Ridwan Kamil, dan Anies Baswedan harus berjuang untuk mencari dan memperoleh simpatik dari partai-partai politik untuk mendorongnya sebagai calon presiden 2024 mendatang.  

Catatan-catatan ini sepertinya yang menjelaskan pertimbangan Prabowo untuk tak cepat mengambil keputusan. Ia ingin membuktikan diri dulu dengan unjuk Prestasi sebagai Menteri Pertahanan.

Bahkan, sepertinya Prabowo memang ingin menunggu momentum dengan dapat merebut simpatik masyarakat dari basis pemilih Joko Widodo maupun PDI Perjuangan terlebih dahulu, wajar sekarang ini tampak jelas Prabowo dengan Gerindra menyatakan diri ingin melanjutkan program kerja dari Pemerintahan saat ini, disamping juga memuji keterampilan dan keputusan dari Presiden Joko Widodo.

Trend saat ini, Prabowo menjadi sosok yang juga penting ditunggu keputusannya seperti: apakah ia akan memilih diusung sebagai calon presiden atau bersedia kembali diusung sebagai wakil presiden, berkoalisi kembali dengan PDIP atau kembali berseberangan dengan membentuk koalisi tandingan, maupun menjadi sosok yang memperoleh dukungan dari Presiden Joko Widodo, atau malah ia memilih sebagai ‘king maker.’

Meski untuk menjadi ‘king maker’ kecil kemungkinannya, tetapi perlu di ingat saat ini elektabilitas Prabowo termasuk kecil tak mencapai angka 25 persen hanya berkutat diangka 20 persen saja, dibandingkan 2019 sebesar 44,5 persen, maka ini menunjukkan dukungan Prabowo merosot tajam mencapai di atas angka 24 persen dibanding 2019 lalu.

Di sisi lain, kutak-katik calon presiden dan wakil presiden meski terlalu dini, menempatkan kans prabowo sebagai presiden maupun wakil presiden untuk menang di Pilpres 2024 mendatang cenderung lebih kecil peluangnya. (*)

Artikel Terkait
Atlit

Atlit

Kolumnis Selasa, 17 Maret 2020
Baca Juga