BUTON SELATAN, TELISIK.ID – Tradisi Piharoano Ana-Ana Ngkaelu atau secara harfiah mengandung makna memandikan dan memberi makan anak yatim piatu pada setiap 10 Muharam. Tradisi ini tetap dilestarikan oleh masyarakat di Pulau Buton, utamanya di wilayah Kabupaten Buton Selatan.
Tradisi itu sudah ada dan mulai dilakukan oleh masyarakat di Pulau Buton sejak 1500 tahun yang lalu. Tepatnya pada masuk dan menyebarnya ajaran agama Islam di wilayah Kesultanan Buton.
Dimana pada waktu itu, tradisi Piharoano Ana-Ana Ngkaelu dilakukan secara sembunyi-sembunyi tanpa diketahui oleh orang banyak. Namun ada pula yang terkadang melakukannya secara terbuka.
Berbeda dengan pelaksanaan tradisi Piharoano Ana-Ana Ngkaelu pada masa lampau, hari ini tradisi itu sudah dilakukan secara terbuka. Dimana berlangsung di pelataran rumah La Ode Pasombala atau Wauwa Ngkarawu yaitu seorang setingkat penjabat pemerintahan pada masa Pemerintahan Kesultanan Buton.
Dengan jabatan sebagai Lakina Sampolawa yang dikenal pada masa kepemimpinannya, berhasil mengusir musuh-musuh Kesultanan Buton pada masa itu, salah satunya rombongan para bajak laut dari Tobelo.
