adplus-dvertising

Menelisik Makna Pertemuan Anies dan Gibran

Efriza, telisik indonesia
Sabtu, 19 November 2022
321 dilihat
Menelisik Makna Pertemuan Anies dan Gibran
Efriza, Dosen Ilmu Politik di Beberapa Kampus dan Owner Penerbitan. Foto: Ist.

" Komentar sinis dari Demokrat ditenggarai karena adanya wacana menduetkan Anies Baswedan dengan Gibran Rakabuming Raka "

Oleh: Efriza

Dosen Ilmu Politik di Beberapa Kampus dan Owner Penerbitan

ANIES Baswedan melakukan pertemuan dengan Gibran beberapa hari lalu. Dampak pertemuan menyebabkan Nasdem dan Partai Demokrat (PD) hubungannya memanas. Saling sindir pun terjadi.


Demokrat jelaslah meradang. Sebab, Nasdem tidak berupaya serius mendekat kepada PD, untuk membangun koalisi. PD merasa seperti "dihina," sebab AHY elektabilitasnya tinggi, memenuhi persyaratan dari segi usia, sehingga layak diusung sebagai cawapres. Tetapi, Nasdem tampaknya saat ini tidaklah sungguh-sungguh ingin membangun koalisi bersama Demokrat.

Meski akhirnya, Sekretaris Jenderal (Sekjen) PD telah meminta maaf. Komentar sinis dari Demokrat ditenggarai karena adanya wacana menduetkan Anies Baswedan dengan Gibran Rakabuming Raka. Wajar, Demokrat meradang atas wacana itu. Wacana ini karena menyebabkan kans Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) untuk diusung serasa makin menjauh.

Gibran Tetap Santai

Pertemuan antara calon presiden (capres) Nasdem yakni Anies Baswedan dengan Gibran, ditanggapi santai oleh Gibran. Ia merasa itu adalah silaturahim semata. Gibran menunjukkan sikap akan selalu menyambut baik para tamunya. Ia menunjukkan perilaku santun dan terpuji.

Dengan posisi Anies berada di Solo. Kemudian terjadi politik silaturahim, sebenarnya hal biasa dan baik. Gibran adalah pemimpin wilayah tersebut, sehingga menyambut tamu adalah hal positif, apalagi Anies adalah sosok capres menuju 2024 nanti, sehingga patut dihormati.

Gibran menanggapi santai pertemuannya. Sebab, Gibran tidak memungkinkan menjadi calon wakil presiden (cawapres). Gibran tak memenuhi syarat sebagai cawapres. Ini berdasarkan Pasal 169 huruf q Undang-Undang No. 7/2017 tentang Pemilihan Umum yang tak direvisi.

Baca Juga: Deklarasi Koalisi, Batal

Pasal itu menyebutkan bahwa persyaratan capres dan cawapres, "berusia paling rendah 40 (empat puluh) tahun." Sedangkan, Gibran kelahiran 1987, ini menunjukkan pada tahun 2024, usia Gibran baru sekitar 37 tahun, tentunya ia tak memenuhi persyaratan.

Sisi lain, upaya merevisi terbatas undang-undang pemilihan umum (Pemilu) melalui Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) tidaklah memasukkan mengenai merevisi aturan ini. Andaipun diwacanakan untuk merevisi persyaratan usia capres/cawapres, kuat dugaan Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan menolaknya.

Sebab, Jokowi tidak ingin dicap sebagai sosok yang ambisius. Gibran pun sama, ia akan menolaknya. Sebab, Gibran diyakini lebih memilih berproses secara natural dibandingkan menggunakan kekuasaan sewenang-wenang, dan ia akan memilih mengakhiri masa jabatannya dengan baik sebagai Wali Kota Surakarta.

Kemungkinan Anies dan Gibran dalam pertemuannya hanya bertukar pikiran. Gibran melihat keberhasilan Anies dalam membenahi transportasi umum, seperti itulah pernyataan Gibran mengggambarkan pembicaraan di antara keduanya.  

Jika merujuk pernyataan Gibran tersebut. Ini menunjukkan, Gibran sedang mempelajari mengenai DKI Jakarta. Gibran memang punya kans maju sebagai calon gubernur di DKI Jakarta, jika ia tak memilih melanjutkan menjadi Wali Kota Surakarta maupun menolak diajukan sebagai Gubernur Jawa Tengah pasca berakhirnya dua periode Ganjar Pranowo.

Makna Pertemuan Anies dan Gibran

Pasca Anies bertemu Gibran, menimbulkan saling sindir Demokrat dengan Nasdem. Pertemuan Anies dengan Gibran ditenggarai diketahui Nasdem. Anies diyakini sangat diharapkan oleh Nasdem melakukan upaya pendekatan ke pemerintah. Nasdem disinyalir khawatir jika dianggap saat ini adalah oposisi pemerintah.

Nasdem mengetahui bahwa basis pemilihnya adalah pendukung pemerintah. Sehingga Anies sedang ditunggangi Nasdem, dalam upaya menyelamatkan posisinya di pemerintahan agar tidak direshuffle dan juga menenangkan ceruk massanya tersebut. 

Tak dimungkiri, berbagai survei telah menunjukkan Nasdem pasca mendeklarasikan Anies sebagai capres malah mengalami penurunan elektabilitas yang drastis. Surya Paloh sampai mempertaruhkan jabatannya sebagai ketua umum, untuk menunjukkan kepada konstituennya bahwa Nasdem tidak salah memilih Anies dengan harapan faktanya nanti pada Pemilu Serentak 2024 bahwa suara dan kursi Nasdem malah mengalami kenaikan.

Baca Juga: Ngopi Ala KPU

Pertemuan dengan Gibran didasari oleh kepentingan untuk merebut massa pemilih dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Sebab, suara PDIP semakin menguat. Nasdem mengharapkan pemilih PDIP tidaklah loyal, yang terjadi malah perpindahan suara pemilih PDIP. 

Dengan belum diumumkannya capres dari PDIP. Sisi lain, Ganjar Pranowo elektabilitasnya adalah tiga besar. Sehingga, diharapkan terjadinya peralihan dukungan dari Ganjar kepada Anies. Juga terjadinya peralihan dari PDIP kepada Nasdem, yang diakibatkan kekecewaan pemilih karena terlalu lamanya PDIP menetapkan capresnya, misalnya. Sehingga diharapkan menaikkan elektabilitas Nasdem, sebab Nasdem dan PDIP berdasarkan ideologi sama-sama nasionalis.

Pertemuan Anies Baswedan dengan Gibran, hanyalah strategi politik semata. Dalam upaya menaikkan potensi elektabilitas Anies dan Nasdem. Anies sedang diupayakan memperluas jangkauan berbagai unsur pemilihnya, seperti dari unsur pendukung pemerintahan dan juga beragam segmentasi, sehingga Anies tidak lagi sekadar dilabeli unsur Islam semata.

Gibran itu simbol semata. Anies diharapkan mengambil ceruk di Jawa Tengah sebagai basisnya PDIP, dan juga mencoba menurunkan elektabilitas Ganjar Pranowo di Jawa Tengah. Jadi bukan benar-benar ingin menduetkan Anies-Gibran, tetapi memperluas basis elektabilitas Anies dan tentunya Nasdem, tetapi turut "menghina" PD. (*)

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS 

Artikel Terkait
Baca Juga