adplus-dvertising

Kejutan Kecil tapi Bermakna di Pemilihan Serentak 2020

M. Najib Husain, telisik indonesia
Minggu, 20 Desember 2020
2977 dilihat
Kejutan Kecil tapi Bermakna di Pemilihan Serentak 2020
Dr. M. Najib Husain, Dosen FISIP UHO. Foto: Ist.

" "

Oleh: Dr. M. Najib Husain

Dosen FISIP UHO  

TIDAK diragukan, pemilihan kepala daerah (pilkada) menjadi arena pertarungan politik yang berlangsung sengit dan seksi. Pemilihan kepala daerah di di 7 kabupaten di Sulawesi Tenggara telah dilaksanakan dan hasilnya sudah diketahui bersama.


Banyak kejutan-kejutan terjadi, hasil pemilihan di Kabupaten Muna yang awalnya diperkirakan ketat serta sengit antara 2 kandidat yang  menguras pikiran dan perhatian dan diprediksi akan terjadi ulangan pilkada 2015 yang sampai terjadi selisih suara yang sangat tipis ternyata tidak terjadi.

Namun, ada beberapa kejutan kecil tetap menarik untuk dibahas, pertama adanya 3 petahana yang tumbang dan 4 petahana yang menang pada pemilihan serentak 2020. Mirip pilkada tahun 2015 di mana ada 3 petahana kalah yaitu di Kabupaten Butur, Kabupaten Muna dan Kabupaten Konawe Utara. Untuk tahun 2020 ini, ada 3 petahana yang juga kalah yaitu di Kabupaten Buton Utara, Kabupaten Wakatobi dan Kabupaten Kolaka Timur.

Kekalahan petahana menarik untuk didiskusikan mengingat petahana memiliki segala-galanya sehingga sebelum bertarung saja petahana sudah punya modal 30 persen, kekalahan petahana tidak lain   disebabkan oleh 3 faktor, yaitu faktor program kerja petahana selama lima tahun tidak mengakar dan populis.

Petahana sudah bekerja tetapi masyarakat yang menilai dan merasakan dan memberikan keputusan untuk mengakui atau tidak akuntabilitas petahana selama 5 tahun memimpin terlihat dari hasil 9 Desember 2020.

Terbukti dari hasil survey petahana unggul jauh atas penantang dari aspek popularitas tapi kalah pada elektabilitas.  

Baca juga: Jangan Jadi Calon Pemimpin Pembohong

Kedua, faktor strategi pemenangan dengan memaksimalkan mesin politik, strategi pemenangan sebagai kumpulan aktivitas yang dilakukan baik secara sistematis (by design) atau tidak (improvisasi) yang memberikan kontribusi pada kristalisasi dukungan pemilih (elektabilitas) maka setidaknya ada beberapa strategi dan saluran yang digunakan oleh para paslon pada pemilihan serentak 2020 yang secara  garis besar dapat disebut sebagai jalur mesin partai (struktural) dan jalur non-struktur partai.

Jalur struktural lazim digunakan oleh paslon yang merupakan pengurus partai seperti menggunakan struktur organisasi partai (contoh: Bappilu) dan organisasi underbow yang dibuat oleh partai dari DPP hingga pimpinan  ranting. Sementara jalur non-partai politik lebih banyak digunakan baik oleh paslon yang mempunyai background non-pengurus partai.

Saluran dan strateginya sangat  variatif seperti penggunaan tim  sukses, tim sukses bayangan, praktik beragam patronase dan clientalisme, penggunaan simbul budaya, kekerabatan/kekeluargaan, pendekatan kepada tokoh masyarakat/komunitas, door to door, sampai bantuan sosial COVID-19.

Kemenangan paslon penantang yang menang pilkada karena strateginya lebih variatif dan perpaduan mesin partai dan mesin non partai lebih dinamis dan berjalan efektif. Mesin politik penantang di lapangan lebih bersinergi antara mesin partai, keluarga, tim sukses dengan masyarakat akar rumput sedangkan petahana mesin politik lebih dipusatkan pada elit birokrasi dan elit-elit desa.

Sudah jelas dengan strategi seperti itu penantang lebih menang pada strategi pemenangan karena dan sangat masif dan kompak. Faktor ketiga yang menyebabkan petahana kalah dari penantang yaitu karena kalah dalam mengemas isu. Isu yang dijual oleh penantang sangat mudah diterima oleh para pemilih tradisional baik itu pemilih sosiologis maupun pemilih cultural.

Penantang memainkan isu perubahan, isu keterzaliman dan pembukaan lapangan kerja serta perbaikan ekonomi, Isu perbaikan ekonomi yang dijual penantang sangat tepat dengan kebutuhan dan kesulitan ekonomi dengan adanya COVID-19 saat ini.

Baca juga: Bakal Calon Bupati Sebatas Baliho

Kejutan kecil kedua adalah tingkat partisipasi politik yang meningkat disaat pandemi COVID-19 ternyata partisipasi pemilih sangat tinggi dan malahan melampaui target nasional yang ditetapkan KPU RI sebesar 77,5 %, di pemilihan serentak 2020 di Propinsi Sulawesi Tenggara pada 7 kabupaten mencapai 84,93 %.

Hampir semua daerah mencapai target yang ditetapkan oleh KPU masing-masing kabupaten, KPU Kabupaten Konawe Kepulauan menetapkan target partisipasi politik pemilih sebesar 80.00 ?n realisasi mencapai 91,92 %, KPU Kabupaten Konawe Selatan menetapkan target partisipasi politik pemilih sebesar 77,5 ?n realisasi 83,57 %.

KPU Kabupaten Konawe Utara menetapkan target partisipasi politik pemilih 90.00 ?n realisasi 92,96 %. Kabupaten Buton Utara menetapkan target partisipasi politik pemilih 77,5 ?n realisasi 90,79 %.

Kabupaten Kolaka Timur menetapkan target partisipasi politik pemilih 80.00 ?n realisasi 85,34 %. Kabupaten Wakatobi menetapkan target partisipasi politik pemilih 78.00 ?n realisasi 82,35 %. Hanya Kabupaten Muna yang menetapkan target partisipasi politik pemilih sebesar 85.00 ?n realisasi 82,25 %.

Kami katakan sebagai kejutan kecil karena sejak bulan Oktober sudah terjadi perubahan sikap dari pemilih di 7 kabupaten di Sulawesi Tenggara yang akan melaksanakan pilkada yang pada awalnya takut ke TPS pada 9 Desember 2020 berubah menjadi antusias dengan angka 98.00 yang akan tetap ke TPS pada 9 Desember 2020, dan ada 67, 25 %  responden yang tetap ke TPS walaupun daerah mereka masuk dalam zona merah COVID-19 dan ada.

Hasil riset tahun 2016 tentang partisipasi politik pemilih disebabkan oleh 7 faktor berpengaruh yang menyebabkan seseorang memberikan hak suaranya di TPS yaitu kesadaran politik, situasi, vote buying (money politik), afiliasi politik dan organisasi, kinerja penyelenggara pemilu, kinerja pemerintah dan pembangunan, faktor kandidat (kekuatan figur).

Lalu apakah tingginya tingkat  partisipasi politik dalam memberikan suara pada 9 Desember 2020 tersebut disebabkan karena faktor kesadaran dari pemilih? Perlu diskusi lebih lanjut. (*)

Artikel Terkait
Baca Juga