PSI Kehilangan Arah

Efriza, telisik indonesia
Minggu, 10 Mei 2026
0 dilihat
PSI Kehilangan Arah
Efriza, Dosen Ilmu Politik di Beberapa Kampus & Owner Penerbitan. Foto: Ist.

" PSI, atau singkatan dari Partai Solidaritas Indonesia ditengarai telah kehilangan arah "

Oleh: Efriza

Dosen Ilmu Politik di Beberapa Kampus & Owner Penerbitan

PSI, atau singkatan dari Partai Solidaritas Indonesia ditengarai telah kehilangan arah. Kehilangan arah ini tampak dari perilaku beberapa kader PSI berhubungan dengan sikap agresif terhadap Jusuf Kalla (JK).

Ceramah JK di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM) mengenai perdamaian, malah dinarasikan oleh dua elite dari kader PSI seperti Ade Armando dan Grace Natalie sebagai upaya merusak citra positif dari JK sebagai tokoh perdamaian dari negeri ini, bahkan ditengarai sekaligus seolah ingin mengabaikan peran JK sebagai tokoh berpengaruh dalam penyelesaian konflik di Aceh, Poso dan Ambon.

Apa yang dilakukan oleh Grace Natalie dan Ade Armando tentu saja blunder, malah merusak citra bagi PSI. Utamanya, posisi elite yang begitu penting di PSI dari Grace Natalie sebagai Sekretaris Dewan Pembina PSI, malah menunjukkan jabatan itu telah dilecehkan oleh perilaku Grace Natalie yang merendahkan JK sekaligus mengabaikan rekam jejak sejarah JK bagi negeri ini. Perilaku Grace Natalie yang selama ini begitu elegan dalam berpolitik, seolah serupa dengan perilaku politik dari Ade Armando sebagai kader dan elite PSI yang penuh kontroversi.

Citra Buruk dan Kehilangan Arah PSI

Grace Natalie bersama Ade Armando sebelumnya dilaporkan ke Bareskrim Polri (Badan Reserse Kriminal Kepolisian Negara Republik Indonesia), oleh setidaknya 40 ormas Islam yang tergabung dalam Aliansi untuk Kerukunan Umat Beragama. Kedua elite PSI ini ditengarai melakukan penghasutan dan ujaran kebencian, buntut pernyataan mereka di sejumlah platform media sosial terkait ceramah JK di UGM beberapa waktu lalu.

Akibat pelaporan tersebut membuat Ade Armando memilih sikap mengundurkan diri sebagai kader PSI, dengan alasan tidak ingin kasus dirinya akan merembes terhadap PSI sebagai tempat dirinya berpolitik praktis. Berbeda dengan Grace Natalie, ia diumumkan oleh PSI bahwa tidak akan mendapatkan perlindungan hukum dari Partainya, karena pernyataan dan sikapnya bersifat personal bukan mengatasnamakan PSI.

Baca Juga: Menelisik Hubungan Jokowi dan PSI

Apa yang terjadi dengan PSI, menunjukkan bahwa PSI secara kelembagaan malah semakin kehilangan arah. PSI yang awal kehadirannya lebih mengedepankan gagasan baru yang menunjukkan sebagai partai modern, namun PSI semakin pragmatis ketika memilih Jokowi untuk dikultuskan seolah ia adalah ideologi partai. Kaesang, anak bungsu dari Jokowi, diberikan “karpet marah” yang tidak tercatat sebagai kader malah dijadikan Ketua Umum PSI, pilihan sikap ini agar PSI tidak punah dari daftar partai politik di Indonesia.

Dampaknya adalah bagi yang menghina Jokowi akan dilawan, seolah ini adalah hukum tidak tertulis alias konvensi di PSI. Sayangnya, dalam merespons pernyataan atau pun dinamika politik terhadap Jokowi, malah direspons dengan kualitas yang buruk, seolah kader-kader PSI berada dalam lingkup kebersamaan selayaknya buzzer.

Buzzer dikonotasikan negatif karena dasar pengelolaan opininya cenderung meresahkan masyarakat, dan adanya nilai materi berupa dibayar untuk melakukan aksi tersebut, wajar akhirnya istilah buzzer diubah dalam konotasi lebih negatif sebagai BuzzerRp, perilakunya juga cenderung tendensius menyerang orang atau lembaga. Singkatnya, peran BuzzerRp digunakan untuk memberikan sentimen negatif terhadap orang atau lembaga yang dijadikan sasaran.  

Wajar Publik mengerutkan dahi dan tak habis pikir, posisi mentereng Sekretaris Dewan Pembina yang diemban oleh Grace Natalie tetapi dalam berpolitik dan berkomunikasi politik tampak “receh” alias berkualitas rendah. Sosok JK yang pernah menjabat dua kali sebagai wakil presiden, JK yang juga dinilai sebagai the real president karena keberhasilannya menghadirkan perdamaian di beberapa wilayah di Indonesia seperti Aceh, Poso, dan Ambon, malah terkesan dilecehkan dengan narasi JK telah melakukan penistaan terhadap agama.

Kondisi ini menyebabkan PSI harus berputar otak dalam mengupayakan agar persoalan Ade Armando dan Grace Natalie tidak merembes ke PSI. Upaya PSI lebih dikedepankan untuk menyelamatkan Grace Natalie karena ia adalah Sekretaris Dewan Pembina.

Ahmad Ali sebagai Ketua Harian PSI mengupayakan terjadinya perdamaian dengan membantu memediasi proses hukum terhadap Grace Natalie dengan melakukan komunikasi kepada JK. Sebab, jika proses ini terus dilanjutkan maka PSI ditengarai berpotensi kehilangan simpatik utamanya dari masyarakat Sulawesi Selatan.

JK adalah tokoh nasional yang begitu dihormati di tanah kelahirannya Sulawesi Selatan. Sedangkan, saat ini PSI sedang membangun kekuatan elektoral salah satunya menargetkan daerah Sulawesi Selatan dapat menjadi basis PSI dengan menggerogoti Partai Nasdem melalui perpindahan kader-kader partai tersebut.

Upaya menggembosi Partai Nasdem agar dapat membangun kekuatan elektoral di PSI, ternyata seolah memperoleh karmanya dengan malah terjadinya potensi simpatik masyarakat merosot drastis pasca perilaku berkomunikasi yang buruk dari elite-elite PSI terhadap tokoh nasional JK.

Kekhawatiran PSI adalah partainya malah dapat semakin terpuruk ke depannya, ini ditengarai sebagai momok menakutkan, ketika PSI sedang konsentrasi membangun institusionalnya dalam upaya merangkak naik menjadi partai menengah dari partai gurem, ternyata elite-elitenya tidak menunjukkan peningkatan kualitas dalam berkomunikasi politik.

Fatalnya, jika elitenya saja begitu buruk dalam berkomunikasi politik, pertanyaannya bagaimana perilaku dan komunikasi politik dari kader dan simpatisan partai tersebut, sebab acap dinilai bahwa cerminan perilaku dan komunikasi elite turut memantulkan nilai yang sama dari kader-kader lain maupun simpatisannya, bahkan turut memantulkan citra buruk PSI secara institusi.

Perilaku Grace Natalie ini tentu saja telah semakin membuat citra buruk terhadap Jokowi. Sebab PSI yang dikomandoi anak bungsunya Jokowi yakni Kaesang, malah elitenya berperilaku sangat rendah dalam komunikasi politik maupun dalam perilaku politik.

Baca Juga: Reshuffle, Komunikasi Politik dan Tabrakan Kereta

Ikon Jokowi yang dibangun citranya sebagai sosok sederhana, sosok yang begitu dekat dengan masyarakat, malah menunjukkan berseberangan dengan Jokowi ketika dipersepsikan selayaknya ideologi, tampak nilai kebersamaan partai ini berkonotasi negatif dengan sifat agresif berupa menyerang siapapun tanpa disertai dengan kualitas yang jempolan dari komunikasi politik maupun perilaku politiknya.

Grace Natalie dan Ade Armando telah mempertontonkan PSI dalam berpolitik tidak layak ditiru. Kader-kader PSI hanya pandai menyerang, merespons dengan brutal, terhadap isu-isu yang mendera Jokowi maupun keluarganya. Serangan dalam Kasus JK, sebenarnya adalah kumulatif respons terhadap sikap JK yang berkomunikasi politik untuk kepentingan publik dan negeri dengan langsung menohok terhadap Jokowi sebagai ikon PSI.

JK dalam kadar komunikasi politiknya sangat bernilai tinggi, baik dalam usulan maupun kritik terhadap pemerintah, juga dalam menjelaskan tentang siapa dirinya, perannya, dan kualitas dirinya, misal, ketika ia emosional dengan mengingatkan Jokowi akan peran besar JK untuk perjalanan karir politik Jokowi.

Sayangnya, elite-elite PSI tampaknya tidak berbeda jauh kualitasnya dengan para pendukung Jokowi yang fanatik yang diistilahkan dengan sentimen negatif sebagai “termul” alias Ternak Mulyono; atas kasus komunikasi politik yang bernilai melecehkan JK dalam konten media sosialnya. (*)

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Artikel Terkait
Baca Juga