Papua dan Ratapan Kosmik: Tanah Ulayat, Kapitalisme, dan Spiritualitas Alam dalam 'Pesta Babi'

Muh. Ikhsan, telisik indonesia
Minggu, 10 Mei 2026
0 dilihat
Papua dan Ratapan Kosmik: Tanah Ulayat, Kapitalisme, dan Spiritualitas Alam dalam 'Pesta Babi'
Muh. Ikhsan AR, Ketua Komisi Kerukunan Umat Beragama MUI Sulawesi Tenggara dan Pengamat Sosial. Foto: Ist.

" Di balik narasi sosial dan ketegangan yang ditampilkan, tersembunyi pergulatan panjang antara manusia, tanah, kekuasaan, dan modernitas "

Oleh: Muh. Ikhsan AR

Ketua Komisi Kerukunan Umat Beragama MUI Sulawesi Tenggara dan Pengamat Sosial

'PESTA BABI' bukan sekadar film. Ia adalah jeritan sunyi tentang bumi yang perlahan kehilangan kesakralannya. Di balik narasi sosial dan ketegangan yang ditampilkan, tersembunyi pergulatan panjang antara manusia, tanah, kekuasaan, dan modernitas. Film ini dapat dibaca sebagai refleksi mendalam atas luka ekologis dan krisis spiritual yang melanda Papua.

Papua bukan hanya wilayah geografis. Ia adalah ruang kosmik tempat manusia, hutan, sungai, leluhur, dan langit hidup dalam jalinan spiritual yang menyatu. Dalam banyak tradisi masyarakat adat Papua, tanah tidak dipahami sebagai objek ekonomi semata. Tanah adalah ibu. Hutan adalah tubuh kehidupan. Sungai adalah aliran ingatan leluhur. Maka ketika tanah dirampas, yang hilang bukan sekadar hektar demi hektar ruang hidup, tetapi juga identitas, sejarah, dan kesadaran spiritual suatu komunitas.

Modernitas kapitalistik sering memandang alam hanya sebagai komoditas. Gunung dinilai dari kandungan mineralnya. Hutan dihitung berdasarkan nilai investasinya. Sungai diukur dari potensi industrinya. Cara pandang seperti ini melahirkan apa yang oleh para pemikir ekologi disebut sebagai “krisis ontologis”: manusia kehilangan kemampuan memandang alam sebagai sesama entitas kehidupan.

Di sinilah 'pesta babi' menemukan relevansinya. Ia memperlihatkan benturan antara spiritualitas ekologis masyarakat adat dengan logika kapitalisme ekstraktif. Tanah ulayat berhadapan dengan industri. Tradisi berhadapan dengan pasar. Kearifan lokal berhadapan dengan modernitas yang sering datang tanpa empati.

Kita hidup di zaman ketika pembangunan sering dipahami sebagai perluasan jalan, tambang, dan investasi. Namun jarang ditanyakan: pembangunan untuk siapa? Kemajuan menurut ukuran siapa? Sebab sejarah dunia menunjukkan bahwa kemajuan material tanpa kebijaksanaan ekologis justru melahirkan kehancuran peradaban.

Baca Juga: Merosot Adab Pelajar ke Guru, Alarm Keras Sistem Pendidikan

Pemikir Norwegia Arne Naess melalui gagasan deep scology mengingatkan bahwa alam memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar nilai guna bagi manusia. Pandangan ini sesungguhnya sangat dekat dengan kosmologi masyarakat adat Papua yang memandang alam sebagai bagian dari jaringan kehidupan suci.

Ironisnya, masyarakat adat sering dicap “terbelakang” justru karena mereka menolak eksploitasi yang merusak keseimbangan alam. Padahal mungkin merekalah penjaga terakhir kebijaksanaan ekologis yang kini hilang dari dunia modern.

Dalam perspektif sufistik, alam bukan benda mati. Alam adalah ayat-ayat Tuhan yang hidup. Hutan yang hijau adalah tasbih. Sungai yang mengalir adalah dzikir. Angin yang bergerak adalah pujian kosmik kepada Sang Pencipta.

Al-Qur’an menyatakan: “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya.” (QS. Al-Isra’: 44)

Ayat ini menghadirkan kesadaran bahwa seluruh semesta memiliki spiritualitasnya sendiri. Maka merusak alam bukan hanya tindakan ekologis yang salah, tetapi juga bentuk pemutusan hubungan spiritual antara manusia dan kosmos.

Baca Juga: Habis Gelap Terbitlah Terang: Spirit Hijrah Menuju Perubahan

Krisis lingkungan Papua pada akhirnya bukan sekadar persoalan tambang, deforestasi, atau tanah ulayat. Ia adalah gejala dari krisis yang lebih dalam: krisis kesadaran manusia modern. Manusia merasa menjadi pusat semesta, lalu memposisikan alam hanya sebagai objek eksploitasi. Dari sinilah lahir kerakusan yang tidak pernah selesai.

Film 'pesta babi' mengingatkan bahwa di balik statistik pembangunan dan proyek-proyek besar, ada suara-suara kecil yang sering tidak terdengar: ratapan hutan yang ditebang, sungai yang tercemar, dan masyarakat adat yang perlahan tercerabut dari akar kosmologisnya.

Papua hari ini bukan hanya tentang politik dan ekonomi. Ia adalah cermin tentang bagaimana manusia modern memperlakukan bumi. Dan mungkin pertanyaan paling penting yang diajukan film ini adalah: Masihkah manusia mampu mendengar suara alam sebelum semuanya benar-benar sunyi? Sebab ketika hutan kehilangan nyanyiannya, sesungguhnya manusia sedang kehilangan sebagian dari jiwanya sendiri. (*)

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Artikel Terkait
Baca Juga