adplus-dvertising

Pelaku Usaha UMKM Sektor Pariwisata Buton Tengah Digenjot Lebih Kreatif

Mutarfin, telisik indonesia
Jumat, 17 Juni 2022
292 dilihat
Pelaku Usaha UMKM Sektor Pariwisata Buton Tengah Digenjot Lebih Kreatif
Pelaku usaha/pengrajin tenun Buton Tengah mengikuti pelatihan penggunaan pewarna alami oleh pelatih yang didatangkan dari Bandung. Foto: Dispar Buton Tengah

" Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Buton Tengah, Usman Mblosi mejelaskan, bahwa saat ini Dinas Pariwisata terus melaksanakan pengembangan di bidang pengembangan kreatif pelaku usaha "

BUTON TENGAH, TELISIK.ID - Pelaku usaha UMKM sektor pariwisata tahun ini lebih di genjot untuk kreatif dalam hal meningkatkan kerajinan yang bisa bersaing di pasaran.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Buton Tengah, Usman Mblosi mejelaskan, bahwa saat ini Dinas Pariwisata terus melaksanakan pengembangan di bidang pengembangan kreatif pelaku usaha.

"Hal ini sejalan dengan visi Pj Bupati Buton Tengah mengembangkan ekonomi Kreatif," ucapnya, Jumat (17/6/2022).


Sementara itu, Sekretaris Dinas Pariwisata, Muh Said menuturkan, memang saat ini pengembangan sektor UMKM melalui bidang pemberdayaan sumber daya pariwisata dan ekonomi kreatif terus mengembangkan kreatifitas pelaku usahanya.

"Fokusnya untuk memberikan pelatihan-pelatihan pada pelaku UMKM tapi fokusnya ke ekonomi kreatif," ujarnya.

Ia menambahkan, pelatihan masyarakat kali ini lebih fokus desain motif kombinasi warna. Tenun, vesen dan seni pertunjukan kuliner. Hanya saat ini masih lebih fokus ke tenun.

Baca Juga: Mulai 'Digoyang', Kabag Prokopim Sebut Ada yang Gelisah dengan Gebrakan Pj Bupati Muna Barat

Untuk pelatihan tenun, pihak dinas belum memiliki pelatih ahli untuk melatih. Makanya pelatih yang ada saat ini didatangkan langsung dari Bandung, sambil mengembangkan juga potensi skill orang di Buton Tengah.

Baca Juga: Komparasi Tugas dan Fungsi Komisi I, Legislatif Wajo Kunker DPRD Kolaka Utara

Minat para perajin diakui sangat antusias mengikuti pelatihan pewarna alam, dari sebelumnya kerajinan tenun itu belum ada pewarna alam masih mengandalkan pewarna dari pabrik dan nilai jualnya berkisar Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu.

Setelah ada pewarna alam hasil kerajinan ini bisa dijual hingga Rp 1,5 juta. Hal ini tentunya meningkatkan pendapatan masyarakat dan perekonomian ikut berkembang. (B)

Penulis: Mutarfin

Editor: Musdar

Artikel Terkait
Baca Juga