adplus-dvertising

Perempuan Berusia 120 Tahun Ini Penglihatan dan Pendengarannya Masih Baik

Affan Safani Adham, telisik indonesia
Jumat, 24 Juli 2020
1385 dilihat
Perempuan Berusia 120 Tahun Ini Penglihatan dan Pendengarannya Masih Baik
Ny Suparni masih kuat membuat tali tampar atau tambang. Foto: Ist.

" Setiap pemberian Tuhan harus dijaga. "

YOGYAKARTA, TELISIK.ID - Ketika mengunjungi Dusun Sadang, Desa Tanjungharjo, Kecamatan Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo, kita akan bertemu dengan sosok perempuan berusia 120 tahun.

Namanya Ny Suparni. Bukan warga asli daerah tersebut, tapi lahir dan besar di Kaligesing, Purworejo, Jawa Tengah. Dan setelah menikah tahun 1945 dengan Karto Prawiro, baru pindah ke tempat tersebut.

Dari pasangan ini, lahir Tukiyem (1954) dan Sudi Wiyono (1957). Lalu tahun 1965, Karto Prawiro meninggalkan keluarga untuk merantau ke Metro, Lampung, dan menikah lagi.


Akhirnya Suparni menjanda dan sendirian merawat kedua anaknya. "Setelah suami pergi, saya tidak menikah lagi," kata Suparni yang punya prinsip menikah itu hanya sekali saja.

Dia menafkahi keluarganya dengan bekerja keras. Mbah Suparni yang saat ini punya 4 cucu dan 6 cicit, setiap harinya masih beraktivitas menjual gula, jamu, kain selendang, bahkan membuat tali tampar atau tambang.

Untuk jamu dan kain selendang, Mbah Suparni biasanya menjualnya berkeliling desa. Sedangkan tali tampar yang dibuatnya itu dijual kepada pengepul.

Katanya, membuat tali tampar itu cuma buat sambilan saja. "Yang utama itu jualan jamu dan selendang keliling desa setiap siang," ujar Suparni dalam bahasa Jawa saat ditemui Telisik.id bersama Akhir Lusono dari Lembaga Seni, Budaya dan Olahraga Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY, Jumat (24/7/2020).

Karunia umur panjang yang dimiliki Mbah Suparni, juga dibarengi dengan kemampuan fisik yang masih yahud. Penglihatan dan pendengarannya baik. Bahkan, Mbah Suparni masih bisa berjualan.

Dia mengaku tidak punya surat-surat: KTP dan KK. Dulu, surat itu dibawa adiknya. "Saya masih ingat, saat itu zaman Belanda," terangnya.

Tapi benarkah usia Mbah Suparni telah mencapai 120 tahun? Dari perbincangan Telisik.id, tidak ada catatan otentik yang menunjukkan tahun pasti kelahiran Suparni.

Administrasi kependudukan saat itu, belum memungkinkan mencatat kelahiran anak-anak pedesaan secara tertib dan terdokumentasi dengan baik.

Baca juga: Jelang Idul Adha, Polres Bombana Target Pengendara yang Meresahkan

Angka 120 tahun hanya berdasar pengakuan Mbah Suparni. Sulit dilacak. Apalagi, pastinya saat ini juga sulit mencari saksi hidup yang melihat secara lanjut kelahiran perempuan sepuh itu.

Kadri, Ketua RT 34 Tanjungharjo, mengaku tidak pernah memiliki bukti surat kelahiran Mbah Suparni yang pernah hidup di zaman penjajahan Belanda, Jepang dan di era kemerdekaan ini.

Mbah Suparni memiliki kemampuan berkomunikasi dengan tiga bahasa: Belanda, Jepang dan Indonesia. Saat ini pun masih fasih menggunakan bahasa tersebut. Bahkan, Mbah Suparni juga fasih menyanyikan beberapa lagu yang dipelajarinya saat zaman Belanda dan Jepang.

Mbah Suparni jarang mengeluh sakit. Selama hidupnya, riwayat Mbah Suparni masuk rumah sakit masih bisa dihitung dengan jari. Bagi Mbah Suparni, kesehatan dan kondisi fisik yang masih baik di usianya saat ini tak lepas dari menjaga pikiran untuk selalu berpikir positif selama hidup baik saat ada masalah maupun tidak.

Bagi Mbah Suparni, hidup tak perlu merasa wah dan berlebihan. Hidup juga tak perlu aneh-aneh mencari harta yang berlebihan. "Setiap pemberian Tuhan harus dijaga," katanya. "Jadi orang itu yang benar dan hidup di dunia tidak perlu aneh-aneh."

Selain cara pikir dan selalu bersyukur, Mbah Suparni juga menasihati bahwa makanan dan minuman juga berperan bagi kesehatan. Setiap harinya, Mbah Suparni lebih memilih mengonsumsi sayur-mayur dari hasil kebunnya. Tidak pilih-pilih kalau makan. "Lima hari tidak makan juga tidak masalah," ucapnya.

Mbah Suparni mengaku suka mengonsumsi teh kental racikannya sendiri. Teh kental ini setiap hari selalu dikonsumsinya. Bagi Mbah Suparni, teh kental ini menjadi resep bebas sakit selama 120 tahun hidup.

"Minum teh kental. Itu saja. Sama dikasih gula Jawa. Minumannya kental perut tidak lapar," urai Mbah Suparni.

Berkat menjaga makanan dan pikiran, kondisi fisik Mbah Suparni masih nampak bugar. Padahal, setiap harinya Mbah Suparni biasa tidur di tempat tidur atau amben yang berada di sebelah rumahnya. Mbah Suparni selalu tidur di luar rumah setiap harinya. Baginya, tidur di luar rumah lebih nyaman dibandingkan di dalam rumah.

Mbah Suparni merupakan sosok yang mandiri dan tak menggantungkan diri pada anak, cucu dan cicit. Urusan tempat tinggal, dia lebih memilih hidup di gubuk kayu berdinding bambu berukuran 3 x 3 meter. Sendirian. Radio tua menjadi teman sehari-harinya.

Reporter: Affan Safani Adham

Editor: Haerani Hambali

Baca Juga