Purbaya Klaim Pembiayaan UMKM Tembus Rp 65 Triliun dari Investasi PIP

Ahmad Jaelani, telisik indonesia
Jumat, 17 Juli 2026
0 dilihat
Purbaya Klaim Pembiayaan UMKM Tembus Rp 65 Triliun dari Investasi PIP
Purbaya, mengklaim pembiayaan UMKM menembus Rp 65 triliun hingga Juni 2026 menjangkau 14,9 juta pelaku usaha. Foto: Instagram@menkeuri

" Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengklaim pembiayaan UMKM melalui Pusat Investasi Pemerintah (PIP) menembus Rp 65 triliun "

JAKARTA, TELISIK.ID - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengklaim pembiayaan UMKM melalui Pusat Investasi Pemerintah (PIP) menembus Rp 65 triliun hingga Juni 2026 dan menjangkau 14,9 juta pelaku usaha.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan pembiayaan yang disalurkan melalui Pusat Investasi Pemerintah (PIP) telah mencapai Rp 65 triliun hingga Juni 2026. Penyaluran tersebut diberikan kepada 14,9 juta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang sebelumnya belum memiliki akses terhadap layanan perbankan.

Capaian itu disampaikan Purbaya saat membuka Pasar Rakyat Usaha Mikro (UMi) di Alun-Alun Kidul, Yogyakarta. Menurutnya, pembiayaan yang digulirkan PIP sejak 2017 menjadi salah satu upaya pemerintah memperluas akses permodalan bagi pelaku usaha mikro.

"Saya apresiasi untuk PIP sejak 2017 sampai Juni 2026 pemerintah telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 65 triliun kepada 14,9 juta pelaku usaha yang sebelumnya belum terjangkau layanan perbankan," kata Purbaya, seperti dikutip dari Liputan6, Jumat (17/7/2026).

Ia menjelaskan Indonesia memiliki sekitar 66,5 juta pelaku UMKM. Lebih dari 67 persen di antaranya merupakan usaha mikro yang berkontribusi besar terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.

Baca Juga: UMKM Perlu Terapkan Strategi Adaptif Tingkatkan Daya Saing di Era Digital

Menurut Purbaya, sektor UMKM menyumbang lebih dari 60 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional serta menyerap hampir 117 juta tenaga kerja. Besarnya kontribusi tersebut menjadi alasan pemerintah terus memperluas dukungan melalui pembiayaan yang lebih mudah diakses.

Meski demikian, pelaku usaha mikro dan ultra mikro dinilai masih menjadi kelompok yang paling rentan menghadapi tekanan ekonomi. Kenaikan harga bahan baku, penurunan permintaan, hingga gangguan distribusi dapat langsung memengaruhi keberlangsungan usaha mereka.

"Ketika harga bahan baku naik, permintaan turun, distribusi terganggu, atau ada kebutuhan mendadak mereka tidak punya bantalan yang tebal," ujarnya.

Untuk memperluas akses pembiayaan, pemerintah melalui PIP menurunkan bunga pinjaman bagi pelaku usaha mikro dari 22,5 persen menjadi 8 persen. Kebijakan itu diharapkan dapat memudahkan pelaku usaha memperoleh modal usaha.

Purbaya juga menyampaikan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2026 tumbuh 5,61 persen. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Daerah Istimewa Yogyakarta mencapai 5,8 persen pada periode yang sama.

Meski mencatat pertumbuhan positif, ia menilai masyarakat lebih merasakan kondisi ekonomi dari perkembangan usaha yang dijalankan setiap hari.

"Angka-angka itu penting, tetapi masyarakat tidak memikirkan statistik ekonomi, mereka tanyanya warung ramai enggak, hasil tani ada pasarnya enggak, penghasilan cukup atau nggak. Itulah kenapa APBN 2026 diarahkan untuk mendukung delapan agenda prioritas nasional termasuk pemberdayaan UMKM," jelasnya.

Baca Juga: Siska Jadikan Expo UMKM 2026 Panggung Produk Lokal Menuju Pasar Mancanegara

Dalam kunjungan kerja tersebut, Purbaya juga meresmikan program becak listrik bersama Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X serta membuka Pasar Rakyat UMi 2026.

Kegiatan itu diikuti sekitar 200 pelaku UMKM binaan PIP yang memasarkan berbagai produk unggulan. Selain menjadi sarana promosi dan pemasaran, kegiatan tersebut juga menyediakan paket sembako murah, perlombaan, serta hiburan bagi masyarakat.

Pada kesempatan yang sama, Purbaya memperkenalkan Program Bekalista sebagai program pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas melalui elektrifikasi becak. Program itu melibatkan 80 penerima manfaat, dengan dukungan 12 stasiun pengisian daya, satu bengkel bergerak, delapan baterai cadangan, serta bengkel induk di SMK Negeri 3 Yogyakarta. Seluruh pembangunan ekosistem tersebut melibatkan tenaga kerja lokal Yogyakarta. (C)

Penulis: Ahmad Jaelani

Editor: Kardin

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga