adplus-dvertising

Ramadan Menakar Keislaman Kita

Makmur Ibnu Hadjar, telisik indonesia
Sabtu, 08 Mei 2021
849 dilihat
Ramadan Menakar Keislaman Kita
Makmur Ibnu Hadjar, Komisi Pendidikan MUI Sultra. Foto: Ist.

" Resonansi (getaran spiritual), Ramadan lebih nikmat bila diisi dengan ibadah, seperti memelihara kualitas puasa, shalat, zikir, membaca Al-Qur’an. Sebaiknya pada bulan yang suci ini, kita tidak terlalu mengikuti ritme tuntutan dunia. "

Oleh: Makmur Ibnu Hadjar

Komisi Pendidikan MUI Sultra

RAMADAN adalah momentum yang tepat dan relevan, guna merenungi dan menakar ke-Islaman kita, guna mengevaluasi hubungan kita dengan Allah SWT.


Ini adalah momentum yang tepat untuk mengetahui dengan introspeksi bahwa pemahaman dan penghayatan kita tentang Islam hari ini semestinya tidak sama dengan hari kemarin.

Atau bagaimana perkembangan  pemahaman dan penghayatan kita tentang Islam hari ini, dibandingkan dengan hari kemarin. Makna esensi Islam adalah mengacu kepada kapasitas kita untuk tunduk dan patuh pada sesuatu yang agung dan sakral, dari pada memperturutkan hasrat, hawa nafsu (nafs) dan ego.  

Pemahaman tentang Islam kita rujuk pada salah satu firman Allah SWT, dalam Al-Qur’an suci sebagai berikut; ….”Kemudian jika mereka mendebatmu (tentang Islam) maka katakanlah “Aku menyerahkan diri kepada Allah dan (demikian pula) orang yang mengikutiku”. (Q.S Ali Imran (3:20).

Baca juga: Kisah Tentang Turunnya Ruh

Jadi Islam adalah sikap pasrah, tunduk dan patuh tampa reserve hanya kepada Allah.

Selama Ramadan, kita masih terlibat dalam segala urusan duniawi, terlibat dengan berbagai tugas dan aktivitas, meskipun ada perubahan ritme kegiatan.

Resonansi (getaran spiritual), Ramadan lebih nikmat bila diisi dengan ibadah, seperti memelihara kualitas puasa, shalat, zikir, membaca Al-Qur’an. Sebaiknya pada bulan yang suci ini, kita tidak terlalu mengikuti ritme tuntutan dunia.

Dalam waktu sebelas bulan, kita telah menghabiskan seluruh energi, dengan agenda-agenda harian yang telah kita susun. Ritme itu sangat monoton, lebih banyak diantara kita yang memberikan porsi urusan dunia sangat besar, dan porsi untuk mendekatkan diri kepada Allah, sangat kecil.

Nurani ke-Ilahian kita menjadi kering, spiritualisme kita sangat rapuh dan kepribadian kita sangat labil. Justifikasi-justifikasi materi, uang dan posisi sosial, selalu menjadi kecendrungan utama, dan lazimnya kita mengabaikan justifikasi moral untuk mendapatkannya, kita terjebak dengan dominasi dorongan hawa nafsu dan ego.

Baca juga: Hikmah Polemik Kamus Sejarah Indonesia

Sesungguhnya pemilikan harta, uang yang banyak, dan posisi sosial yang tinggi, tidaklah salah dan juga tidak bertentangan dengan ajaran agama yang kita anut, tetapi bagaimana proses mendapatkannya dan kemana pemanfaatannya, serta bagaimana kita menata keseimbangan dengan aspek spiritual dan ukhrawi, adalah poin utama dari penilaian Tuhan.

Tepatnya Tuhan memberi ganjaran atas “proses dan niat”.  Untuk itu, dalam bulan suci Ramadan ini, kita manfaatkan semaksimal mungkin untuk memperbanyak beribadah dan berzikir kepada Allah. Kita menyuburkan spiritualisme kita yang nyaris kering, kita menata dan menemukan resonansi (getaran) dan pancaran sinar ke-Ilahian di dalam dada kita.

Kita lahirkan kesadaran bahwa Allah, sesungguhnya masih berpihak kepada kita, lantaran memberikan kita rakhmat serta karunia, masih mempertemukan kita dengan bulan suci Ramadan.

Bulan suci ini,  sungguh-sungguh dirahmati Allah, bulan yang di dalamnya ada momentum yang nilai setara beribadah seribu bulan, terbuka ruang kepada kita semua, untuk mendapatkan posisi primordial kita, yaitu mahluk yang “fitrah” (mahluk yang suci), sebagaimana awal kejadian kita.  

Posisi itu insya Allah akan kita raih, manakala kita konsisten dan bersungguh-sungguh (istqamah), menjalankan ibadah puasa, memperbanyak ibadah, zikir, memperbanyak sedekah kepada kaum dhuafa, fakir miskin dan yatim piatu, serta membangun sikap empati yang ikhlas kepada sesama manusia, khususnya sesaudara muslim. Wallahuallam bissawab. (*)

TAG:
Artikel Terkait
Baca Juga