adplus-dvertising

Riwayat Panjang dan Makna Filosofis Alun-alun Utara Yogyakarta

Affan Safani Adham, telisik indonesia
Senin, 08 Juni 2020
3830 dilihat
Riwayat Panjang dan Makna Filosofis Alun-alun Utara Yogyakarta
Pada masalalu, Alun-alun Utara dikelilingi oleh pagar batu bata dan selokan. Foto: Affan/Telisik

" Adapun bentuk pagar itu seperti depan pagelaran Keraton. "

YOGYAKARTA, TELISIK.ID - Alun-alun Utara, Gondomanan, Yogyakarta, tak bisa terlepas dari salah satu ikon wisata Keraton Yogyakarta yang cukup terkenal.

Selain karena lokasinya yang berdekatan dengan Keraton dan objek wisata terkenal lainnya, Alun-alun Utara juga memiliki riwayat panjang dan makna filosofis bagi kerajaan dan masyarakat Yogyakarta.

Rencananya, Juli 2020 mendatang, pengerjaan pemasangan pagar di Alun-alun Utara telah selesai.


Pemagaran Alun-alun Utara itu merupakan upaya mengembalikan keaslian Alun-alun Utara. Juga untuk memperkuat penanda Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Aris Eko  Nugroho, mengatakan, pemasangan pagar itu untuk mengembalikan wajah Alun-alun Utara di masalalu.

"Adapun bentuk pagar itu seperti depan pagelaran Keraton," jelas Aris, Senin (8/6/2020).

Kata Aris, dalam janturan pewayangan, Alun-alun Utara diberi pagar pajak suji. Menggambarkan hubungan Alun-alun Utara dengan pagar.

"Ing pagelaran andher para bupati kliwon wedana penewu mantri, beg amber ambalabar dumugi sakjawining taratag kaya ndoyong-ndoyongna pacak sujining alun-alun kadheseg wadya ingkang samya nangkil," kata Aris.

Baca juga: Puluhan Ribu Kartu Prabayar Bodong Diamankan Polrestabes Makassar

Alun-alun Utara Yogyakarta ini membentang seluas 300 x 300 meter persegi. Di tengahnya berdiri dua buah beringin kurung yang bernama Kiai Dewadaru dan Kiai Janadaru (yang sekarang bernama Kiai Wijayadaru).

Menurut Serat Salokapatra, benih Kiai Janadaru berasal dari Keraton Pajajaran, sementara Kiai Dewadaru benihnya berasal dari Keraton Majapahit.

Kiai Dewadaru berasal dari kata dewa yang berarti Tuhan dan ndaru yang berarti wahyu. Pohon ini berada di sebelah Barat dari garis sumbu filosofis.

Bersama-sama dengan Masjid Gedhe Kauman yang juga berada di sebelah Barat garis sumbu filosofis, pohon ini memberi gambaran hubungan manusia dengan Tuhannya. Penempatan ini adalah wujud bagaimana Sri Sultan Hamengku Buwono I secara cerdas menggambarkan konsep Islam habluminallah.

Sementara, Kiai Janadaru yang bermakna lugas pohon manusia, bersama dengan Pasar Beringharjo, berada di sisi Yimur dari sumbu filosofis. Hal ini melambangkan hubungan manusia dengan manusia, sebuah konsep Islam hablum minannas.

Pada sisi Utara dan sisi Selatan, berdiri juga sepasang pohon beringin. Beringin di Utara bernama Kiai Wok dan Kiai Jenggot, sedang yang di Selatan bernama Agung dan Binatur.

Baca juga: Sopir Truk Keluhkan Mahalnya Pasang Stiker APC, Kadishub Kendari: Bisa Beli di Luar

Sebagaimana Alun-alun Selatan, seluruh permukaan Alun-alun Utara juga ditutup dengan pasir lembut. Hal ini merupakan penggambaran laut tak berpantai yang merupakan perwujudan dari kemahatakhinggaan Tuhan.

Maka secara keseluruhan, makna alun-alun beserta kedua pohon beringin di tengahnya menggambarkan konsepsi manunggaling kawula gusti, bersatunya raja rakyat dengan raja dan bertemunya manusia dengan Tuhan.

Pada masalalu, Alun-alun Utara dikelilingi oleh pagar batu bata dan selokan. Air selokan ini untuk menggenangi alun-alun saat dibutuhkan.

Di antara pohon beringin yang berjajar, terdapat beberapa bangunan bernama Bangsal Pekapalan. Pekapalan, berasal dari kata kapal yang berarti kuda. Secara harfiah pekapalan berarti tempat penambatan kuda.

Bangsal Pekapalan merupakan tempat berkumpulnya para bupati maupun pejabat yang lebih tinggi. Selain Pekapalan, terdapat bangsal lain di pinggir alun-alun, yaitu Bangsal Pangurakan dan Bangsal Balemangu.

Bangsal Pangurakan terdapat di sisi Utara, berjumlah dua dan mengapit jalan. Fungsinya sebagai tempat ngurak, mengusir warga yang tidak taat pada aturan. Selain itu, Bangsal Pangurakan juga digunakan untuk menyimpan senjata. Setiap hari, bangsal ini dijaga oleh Abdi Dalem Geladhag.

Baca juga: Surah Al-Maun, Siapa Orang yang Mendustakan Agama?

Bangsal Balemangu juga berjumlah dua, letaknya mengapit gerbang menuju Masjid Gedhe Kauman. Bangsal ini digunakan sebagai tempat untuk pengadilan agama.

Selain sebagai tempat berlangsungnya acara-acara yang diadakan Kesultanan Yogyakarta, Alun-alun Utara juga menjadi tempat jika ada masyarakat yang ingin mengadukan persoalan kepada Sultan.

Rakyat yang merasa diperlakukan tidak adil akan berpakaian putih, duduk di bawah panas matahari (pepe) di tengah alun-alun hingga Sultan melihat dan memanggilnya. Praktek mengadukan nasib di bawah sengatan matahari ini disebut laku pepe atau tapa pepe.

Alun-alun yang membentang di muka Keraton Yogyakarta maupun yang berada di pungkuran, bukanlah semata ruang terbuka untuk menampung segala aktivitas khas warga Kota Yogyakarta seperti yang terlihat saat ini.

Kehadiran alun-alun ini memenuhi berbagai fungsi dan peran keraton sebagai pusat pemerintahan. Ruang terbuka luas ini menjadi perangkai berbagai elemen kawasan di sekitarnya, baik secara tata ruang maupun secara sosial. Misalnya antara keraton dan Masjid Gedhe, atau antara Sultan dan rakyatnya.

Reporter: Affan Safani Adham

Editor: Sumarlin

Baca Juga