Timur Tengah Kembali Panas, Iran Klaim Serang Target Militer AS Usai Pemakaman Khamenei
Ahmad Jaelani, telisik indonesia
Jumat, 10 Juli 2026
0 dilihat
Iran mengklaim menyerang sejumlah target militer Amerika Serikat usai pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di kawasan Teluk. Foto: Repro AFP
" Iran mengklaim melancarkan serangan terhadap sejumlah target militer Amerika Serikat (AS) "

TEHERAN, TELISIK.ID - Iran mengklaim melancarkan serangan terhadap sejumlah target militer Amerika Serikat (AS) di kawasan Teluk hanya beberapa jam setelah prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Serangan tersebut menandai kembali meningkatnya ketegangan setelah gencatan senjata yang sempat berlangsung selama tiga pekan dilaporkan berakhir.
Militer Iran menyatakan serangan itu merupakan respons atas operasi militer AS di wilayahnya. Dalam keterangannya, Teheran mengklaim telah menyerang sistem pertahanan udara Patriot milik AS di Kuwait, fasilitas peringatan dini di Qatar, depot bahan bakar Angkatan Darat AS di Bahrain, serta pangkalan militer Azraq di Yordania.
Garda Revolusi Iran juga memperingatkan Washington agar tidak kembali melakukan intervensi militer.
"Intervensi AS lebih lanjut akan memicu tanggapan yang menghancurkan," demikian pernyataan Garda Revolusi Iran, seperti dikutip dari CNBC Indonesia, Jumat (10/7/2026).
Sementara itu, prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei berlangsung di Mashhad dan dihadiri ribuan pelayat. Sejumlah peserta membawa spanduk bernada anti-Amerika, termasuk bertuliskan "Kami Akan Membunuh Trump".
Baca Juga: Kesepakatan Damai Iran-AS Buyar Gegara Ulah Israel Terus Gempur Lebanon
Khamenei dilaporkan tewas dalam serangan udara pada 28 Februari 2026 dalam operasi gabungan Amerika Serikat dan Israel yang memicu konflik berkepanjangan.
Di sisi lain, seorang pejabat AS menyatakan Washington tidak melancarkan serangan baru dalam beberapa jam terakhir. Namun sebelumnya, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan telah menggempur sekitar 90 target militer Iran, meliputi sistem pertahanan udara, fasilitas pengawasan pantai, hingga lokasi penyimpanan rudal dan drone.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut operasi tersebut sebagai balasan atas serangan Iran terhadap kapal-kapal di kawasan.
"Ini sebagai pembalasan atas pemboman kapal kemarin oleh Iran. Jika terjadi lagi, akan jauh lebih buruk!" tulis Trump melalui Truth Social.
Di tengah perkembangan tersebut, media Iran melaporkan serangkaian ledakan terjadi di sejumlah wilayah selatan negara itu, termasuk Bushehr yang menjadi lokasi pembangkit listrik tenaga nuklir buatan Rusia.
Seorang pejabat setempat mengatakan sebuah proyektil AS menghantam area perimeter fasilitas tersebut, meski tidak dilaporkan adanya kerusakan pada instalasi utama.
Iran kemudian mengklaim telah menembakkan 10 rudal balistik ke pangkalan Azraq di Yordania yang digunakan pasukan AS, serta pusat kendali militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Sementara itu, pemerintah Kuwait menyatakan berhasil menghadapi satu rudal jelajah, tiga rudal balistik, dan 10 pesawat nirawak yang memasuki wilayah udaranya. Satu orang dilaporkan mengalami luka akibat pecahan proyektil.
Pemerintah Yordania juga mengklaim delapan rudal berhasil dicegat tanpa menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan.
Baca Juga: Iran Dapat Kucuran Dana Ganti Rugi Perang Rp 5.328 Triliun, Lebih Jumbo dari APBN Indonesia
Di tengah meningkatnya ketegangan, Garda Revolusi Iran menyatakan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mulai pulih hingga sekitar 50 persen dibandingkan kondisi sebelum perang. Meski demikian, Teheran menegaskan hanya kapal yang mengikuti jalur pelayaran yang ditetapkan Iran yang diperbolehkan melintas.
Negosiator utama Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menegaskan kebijakan tersebut menjadi bagian dari sikap negaranya terhadap situasi keamanan di kawasan.
"Selat Hormuz hanya akan dibuka kembali berdasarkan kesepakatan Iran, bukan melalui ancaman AS," ujarnya.
Sementara itu, Qatar, Turki, dan Oman kembali menyerukan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi. Ketiga negara berharap upaya dialog dapat mencegah eskalasi yang lebih luas serta menjaga stabilitas keamanan di kawasan Timur Tengah. (C)
Penulis: Ahmad Jaelani
Editor: Kardin
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS