Uang SPP UMB Naik jadi Rp 3,5 Juta, Mahasiswa Demo dan Ultimatum Rektor 1x24 Jam
Eka Putri Puisi, telisik indonesia
Selasa, 27 Januari 2026
0 dilihat
Mahasiswa UMB menggelar demo penolakan kenaikan SPP di Kampus 1 UMB, dengan duduk di halaman kampus sambil menyampaikan aspirasi kepada pimpinan universitas. Foto: Eka Putri Puisi/Telisik.
" Puluhan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Buton (UMB) menggelar demonstrasi menolak kenaikan SPP sebesar Rp 1,25 juta di Kampus 1 UMB "

BUTON, TELISIK.ID - Puluhan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Buton (UMB) menggelar demonstrasi menolak kenaikan SPP sebesar Rp 1,25 juta di Kampus 1 UMB, Selasa (27/01/26), sekitar pukul 10.00 Wita. Mahasiswa juga memberi ultimatum 1x24 jam kepada pihak kampus untuk memberikan kejelasan.
Demo yang berlangsung sejak pagi itu dilakukan dengan penyampaian orasi dan aspirasi secara bergantian di lingkungan kampus. Massa menuntut kebijakan kenaikan SPP ditinjau ulang, serta mengancam akan menyegel gedung Rektorat UMB jika dalam batas waktu yang mereka tetapkan, tidak ada respons atau tindak lanjut nyata dari pihak kampus.
Kenaikan yang dipersoalkan mahasiswa disebut mencapai Rp 1,25 juta. Koordinator lapangan aksi, Syukur, menyampaikan, SPP naik dari Rp 2.250.000 menjadi Rp 3.500.000. Menurutnya, lonjakan tersebut tidak bisa dianggap kecil karena berdampak langsung pada kemampuan mahasiswa untuk melanjutkan studi. Syukur menilai kampus seharusnya mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi mahasiswa sebelum menetapkan kebijakan, terlebih ketika perubahan itu dilakukan secara signifikan.
“Tidak semua orang sanggup membiayai kuliah,” kata Syukur saat menyampaikan orasi di lokasi aksi.
Ia menyesalkan kenaikan SPP karena dikhawatirkan akan membuat sebagian mahasiswa kesulitan membayar, bahkan berpotensi berhenti kuliah. Dalam pandangannya, pendidikan tinggi seharusnya semakin mudah diakses, bukan sebaliknya.
Syukur juga menduga kenaikan SPP berkaitan dengan perubahan akreditasi. Ia menyebut, adanya indikasi bahwa perubahan status atau peningkatan akreditasi kampus memengaruhi kebijakan pembiayaan. Namun, ia menegaskan bahwa apa pun alasan di balik kenaikan itu, pihak kampus tetap wajib menjelaskan secara transparan kepada mahasiswa, termasuk mekanisme penetapan biaya dan penggunaan dana.
Aksi demonstrasi berlangsung di lingkungan Kampus 1 UMB dengan jumlah massa puluhan orang. Sejumlah mahasiswa tampak duduk di halaman kampus sambil menyampaikan aspirasi secara bergantian.
Baca Juga: IAIN Kendari Bahas Rencana Kerjasama Terjemahan Al Quran dalam Bahasa Muna dengan BBP Sulawesi Tenggara
Mereka membawa tuntutan agar kebijakan kenaikan SPP dievaluasi dan dibuka ruang dialog dengan mahasiswa. Massa juga meminta pihak kampus melibatkan unsur mahasiswa dalam pembahasan kebijakan yang menyangkut beban biaya pendidikan.
Menanggapi demonstrasi tersebut, Wakil Rektor UMB, Syamsul Bahri menyatakan, kenaikan SPP sudah dibahas melalui rapat senat dan telah diputuskan. Ia menyebut kebijakan tersebut tidak diambil secara mendadak, melainkan melalui forum resmi di internal kampus. Syamsul mengatakan, aspirasi mahasiswa akan disampaikan kepada senat dan rektor. Ia menjelaskan, rektor saat ini masih reses.
“Aspirasi demo hari ini kami akan sampaikan ke senat. Kami juga akan sampaikan kepada rektor. Soalnya rektor sekarang masih reses. Kenaikan SPP sudah ditetapkan di rapat senat. Sudah ada SK,” ujar Syamsul Bahri di hadapan mahasiswa.
Pernyataan itu menegaskan bahwa secara administrasi, kebijakan kenaikan SPP telah memiliki dasar keputusan. Meski demikian, pihak kampus membuka ruang untuk menampung masukan yang disampaikan mahasiswa. Syamsul menambahkan, jalur penyampaian aspirasi akan diteruskan sesuai mekanisme yang ada, yakni melalui senat dan pimpinan universitas.
Sementara itu, Dekan Hukum UMB, Edi Nur Cahyono, turut memberikan penjelasan terkait alasan kenaikan. Menurutnya, kenaikan SPP berkaitan dengan inflasi dan kebutuhan pendanaan kampus. Ia juga menekankan, kenaikan tersebut hanya berlaku untuk mahasiswa baru.
Dalam penjelasannya, kampus membutuhkan sumber keuangan tambahan karena memiliki sejumlah kewajiban pendanaan yang harus ditanggung, termasuk mendukung kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh warga Muhammadiyah.
“UMB butuh sumber keuangan. Contohnya UMB berkewajiban mendanai berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh warga Muhammadiyah seperti IMM, Aisyiyah, dan lain-lain,” kata Edi.
Ia menambahkan, ketika ada proposal kegiatan mahasiswa yang masuk, dana harus disiapkan melalui kampus. Karena itu menurutnya, kampus membutuhkan sumber-sumber pendanaan baru agar kebutuhan tersebut bisa terpenuhi.
Penjelasan pihak kampus ini menjadi salah satu poin yang disorot mahasiswa. Di satu sisi, mahasiswa mempertanyakan apakah kenaikan SPP merupakan satu-satunya pilihan untuk menutup kebutuhan pendanaan. Di sisi lain, mahasiswa juga meminta kejelasan, jika kenaikan berlaku untuk mahasiswa baru, bagaimana dampaknya terhadap mahasiswa yang sedang berjalan, serta bagaimana mekanisme penyesuaian di tahun-tahun berikutnya.
Baca Juga: Prestasi hingga Nasional, SMKN 6 Kendari Perkuat Disiplin dan Siapkan Siswa Kerja ke Luar Negeri
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menegaskan tuntutan utama mereka adalah transparansi dan evaluasi kebijakan. Mereka menginginkan penjelasan rinci mengenai dasar perhitungan kenaikan SPP, termasuk aspek apa saja yang menyebabkan lonjakan dari Rp 2,25 juta menjadi Rp 3,5 juta. Mahasiswa juga menilai penting adanya komunikasi yang lebih terbuka antara kampus dan mahasiswa, terutama untuk kebijakan yang menyangkut langsung beban biaya pendidikan.
Demonstrasi kemudian berakhir dengan pernyataan ultimatum dari mahasiswa. Massa menyatakan, jika dalam waktu 1x24 jam tidak ada kejelasan atau tindak lanjut nyata terhadap aspirasi yang disampaikan, maka mahasiswa akan melakukan penyegelan gedung Rektorat UMB. Ultimatum itu disebut sebagai bentuk tekanan agar kampus segera merespons tuntutan mahasiswa, bukan sekadar menerima aspirasi tanpa kepastian langkah.
Hingga demo berakhir, situasi di Kampus 1 UMB berlangsung kondusif. Mahasiswa membubarkan diri setelah menyampaikan tuntutan dan ultimatum. Pihak kampus menyatakan akan meneruskan aspirasi tersebut kepada senat dan pimpinan universitas sesuai mekanisme yang berlaku. (A)
Penulis: Eka Putri Puisi
Editor: Kardin
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS