10 Tahun jadi Pemulung, Ayu Bertahan Hidupi 6 Anak dengan Penghasilan Rp 20 Ribu Sehari

Gusti Kahar, telisik indonesia
Jumat, 12 Juni 2026
0 dilihat
10 Tahun jadi Pemulung, Ayu Bertahan Hidupi 6 Anak dengan Penghasilan Rp 20 Ribu Sehari
Ibu Ayu (kanan pakai topi) menjalani kehidupan sebagai pemulung di Kota Kendari. Foto: Gusti Kahar/Telisik

" Selama 10 tahun terakhir, ia menggantungkan hidup dari memulung barang bekas demi menghidupi enam anaknya "

KENDARI, TELISIK.ID - Sebuah rumah sempit di pinggir jalan Kota Kendari, hidup seorang ibu bernama Ayu (44). Selama 10 tahun terakhir, ia menggantungkan hidup dari memulung barang bekas demi menghidupi enam anaknya.

Kepada telisik.id, Ayu membagikan cerita deritanya sebagai pemulung. Ayu berangkat sejak pagi dan baru kembali menjelang tengah malam. Dengan mendorong gerobak tuanya, ia menyusuri berbagai sudut Kota Kendari untuk mencari barang rongsokan yang masih memiliki nilai jual.

Namun, kerja kerasnya tak selalu berbanding lurus dengan penghasilan yang didapat. Dalam sehari, ia hanya mampu membawa pulang uang sekitar Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu.

"Sebenarnya tidak cukup, saya atur saja supaya bisa bertahan," ujar Ayu saat ditemui telisik.id di pinggir jalan sekitar Kelurahan Anduonohu, Kamis (11/6/2026).

Dari enam anak yang dimilikinya, tiga di antaranya masih berusia di bawah 10 tahun dan masih membutuhkan perhatian serta biaya hidup yang tidak sedikit.

Baca Juga: Kisah Suparno, Mencari Rezeki Ramadan di Tengah Padatnya Kota Kendari

Menjalani kehidupan sebagai pemulung bukan hanya soal mencari nafkah. Ayu mengaku kerap menghadapi berbagai kesulitan, mulai dari kondisi kesehatan hingga tidak memiliki uang sama sekali untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Banyak sekali suka dukanya. Kadang sakit, kadang tidak ada uang sama sekali," katanya.

Rute pencarian barang bekas yang ditempuhnya pun cukup jauh. Ia biasa berjalan kaki atau berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain, mulai dari kawasan Bundaran Gubernur, Citraland, Jembatan Tripping, Pasar Baru hingga wilayah Kecamatan Mandonga.

"Kadang dari sini ke Citraland sampai Jembatan Tripping. Kalau tidak, ke Pasar Baru. Kadang juga putar sampai sekitar SMP 10," tuturnya.

Di balik kerasnya perjuangan mencari nafkah, Ayu juga harus menghadapi stigma negatif dari sebagian masyarakat. Ia mengaku tidak jarang menerima hinaan bahkan tuduhan mencuri hanya karena pekerjaannya sebagai pemulung.

"Kadang kita dihina, kadang dituduh. Seolah-olah kita pencuri. Pernah saya ambil barang yang sudah dibuang di samping rumah orang, pas ada barang hilang malah saya yang dituduh. Sering begitu," ungkapnya dengan nada sedih.

Meski hidup dalam keterbatasan, Ayu tidak kehilangan harapan. Ia memiliki cita-cita untuk membuka usaha kecil sebagai penadah barang rongsokan agar penghasilannya bisa lebih baik dan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada hasil memulung.

Baca Juga: Kisah Wanita Tua Mengais Rezeki di Tengah Ramainya UMKM Kota Kendari

Menurutnya, usaha tersebut cukup menjanjikan karena barang-barang bekas yang dikumpulkan para pemulung selalu memiliki pasar. Namun, keterbatasan modal menjadi kendala terbesar yang belum mampu ia atasi.

"Sebenarnya kalau ada modal, barang-barang seperti ini bisa kita beli dari pemulung lain. Tapi modalnya juga tidak sedikit," katanya.

Di usianya yang sudah tidak muda, Ayu masih terus mendorong gerobak dan berjalan menyusuri jalanan Kota Kendari. Hinaan, lelah, dan penghasilan yang minim tak membuatnya berhenti. Baginya, selama masih ada anak-anak yang harus diberi makan, ia akan terus berjuang menjalani pekerjaan yang selama ini menjadi tumpuan hidup keluarganya. (A)

Penulis: Gusti Kahar

Editor: Kardin

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga