Agar Tergali Kadar Intelektual: Pengalaman Wartawan Senior
Suryadi, telisik indonesia
Sabtu, 02 Mei 2026
0 dilihat
Suryadi, Ketua Dewan Pembina Pusat Studi Komunikasi Kepolisian dan Alumni Ilmu Politik Pascasarjana Universitas Nasional Jakarta. Foto: Ist.
" Sumbangan pemikiran dari kadar intelektual para warga SWSI yang telah menjadi saksi hidup perjalanan bangsa Indonesia "

Oleh: Suryadi
Ketua Dewan Pembina Pusat Studi Komunikasi Kepolisian dan Alumni Ilmu Politik Pascasarjana Universitas Nasional Jakarta
KETIKA Serikat Wartawan Senior Indonesia (SWSI) diluncurkan oleh para pendirinya --termasuk Kemal Gani, Wahyu Muryadi, dan Budiman Tanuredjo-- di Jakarta, Jumat 17 Maret 2026 malam, kepada temanku yang duduk di sebelah kukatakan “Ini satu langkah yang patut didukung”.
Bukan sinis, lantas berusaha menutupi kesinisan itu dengan “bumbu” sejumlah alasan. Meski, ada alasan-alasan yang berseliweran malam itu, yang tentu saja harus disarikan, mengingat boleh jadi kelak di antaranya akan berguna bagi SWSI secara demokratis menentukan Keputusan dan sikapnya.
Memang semua harus dimulai dari sejumlah kecil kepala dulu. Itu sudah dimulai, terbukti secara umum event peluncuran malam itu sukses dengan disaksikan sekitar 100-an wartawan Indonesia berusia di atas 60-an. Sepuh-sepuh dan bersemangat! Sekurangnya, ada dua hal yang patut dan urgen SWSI memerhatikan.
Pertama, sumbangan pemikiran dari kadar intelektual para warga SWSI yang telah menjadi saksi hidup perjalanan bangsa Indonesia. Kedua, kesejahteraan warga SWSI. Keduanya patut menjadi perhatian secara saksama, agar mereka mampu “mengasah dan menggali” kadar intelektual masing-masing.
Bila mereka sakit-sakitan diperparah oleh kondisi umum perekonomian yang morat-marit di usia setua ini, tentu “mengasah dan menggali” kadar intelektual itu, menjadi mustahil. Pada saat yang sama, sebagaimana diketahui, Negara kerap pula melansir tekat “Indonesia kini”, akan berubah meningkat menjadi “Indonesia Emas” pada 2045.
Dipilihnya kata “Serikat” pada SWSI, seperti, seperti dikemukakan Wahyu Muryadi di awal orasi peluncuran, karena kata-kata sejenis sudah digunakan organisasi-organisasi wartawan terdahulu. Meski, tentu saja, bukan hanya itu alasannya.
Ketika itu Jubir Presiden ke-4 RI, Gusdur ini kurang lebih juga menyitir bahwa SWSI bertekad menjadi wadah bagi para wartawan senior dalam menyumbangkan kadar intelektual pemikirannya selama mereka menjadi saksi hidup laju perjalanan bangsa dan negara Indonesia yang sudah hampir 81 tahun merdeka ni. “Wartawan itu suatu panggilan,” kata Budiman mengutip alm. Jakob Oetama, pendiri Harian Kompas.
Lantas, saya menggenapinya, “Wartawan itu profesi sekaligus panggilan jiwa yang harus menjadi pembeda dari profesi yang lain, baik pada tataran ideal maupun implementasi sebagai profesi.” Jujur, satu kata dengan perbuatan! Tentu, ini demi kebenaran dan kebaikan masyarakat yang kepada masyarakatlah jurnalis bertanggung jawab. Indonesia Negara yang sangat agamis menambahinya menjadi “bertanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa” (sila pertama dasar dan falsafah negara Pancasila). Jelas tidak main-main. Jujur!
Di usia yang tahun 2026 ini mereka sudah masuk kategori manusia lanjut usia (manula), bahkan di antaranya "sudah berada di awal dewasa dan sudah dalam kategori dewasa manula”, menurut hematku, sekurangnya ada dua hal yang melatarbelakangi keharusan SWSI lahir. Selebihnya, adalah catatan penting sekaligus harapan. Pada April 2006 usiaku 68 tahun lebih 4 bulan.
Bukankah harapan adalah pertanda masih ada cita-cita? “Kuingin hidup 1.000 tahun lagi,” seperti syair dari puisi “Aku” yang sarat maknawi dari sastrawan ‘45 alm, Chairil Anwar. Jelas SWSI bukan sekadar wujud keinginan, tapi sebuah harapan yang dibulatkan ke dalam gagasan dan kemudian dicetuskan.
Oleh karena itu, dengan lapang dada para “warga senior” harus siap secara alami disongsong oleh generasi pelanjut seiring datangnya secara alami era yang berbeda dan cepat berubah. Ciri ini antara lain ditandai pekat oleh setiap orang bisa mengaku diri wartawan dengan jumlah puluhan ribu media, terutama online. Namun, hendaklah tetap berpegang pada “kejujuran” sebagai nilai-nilai hakiki yang menjadi muatan melekat pada jurnalisme. Tak ada jurnalisme tanpa nilai-nilai kejujuran sebagai anutan dasar setiap jurnalis atau wartawan.
Kadar Intelektual
Intelektualitas setara dengan kejujuran. Intelektualitas merupakan konsistensi bertindak selaras dengan norma dan etika. Kalimat pendek yang tampaknya kini sudah sirna dari muka bumi Indonesia, yakni dengungan “satunya kata dengan perbuatan”. Kini hal itu dirangkaikan dalam “moral integritas”. Setiap wartawan harus bermoral-integritas. Begitulah intelektualitas dan intelektual!
Kalau para wartawan senior (WS) terdahulu kerap disebut menyandang profesi wartawan tiga zaman, kini muncul wartawan senior yang coba disatukan oleh SWSI. Tetapi, nilai-nilai yang menjadi muatan kejujuran tak pernah berubah. Jujur dulu, kini pun tetap jujur sebagai satu nilai yang tak lekang ditelan zaman. Forever!
Baca Juga: JK, Kerusuhan Poso, dan Dramatisasi di Era Algoritma
Tak ada pilihan lain, berlatar telah menjadi saksi hidup perjalanan bangsa dan negara dipadu dengan kadar intelektual yang dimiliki, WS harus mengasah dan terus menggali keilmuan yang dipunyai dari pengalaman profesi wartawan. Ia tak boleh statis, meski usia sudah senior atau sangat senior. Journalists are never sleep…never die!
Teladan mereka tak hanya keberanian, melainkan mampu mencurahkan pengalamannya ke dalam pemikiran antara lain lewat tulisan di media dan buku. Pada generasi terdahulu dapat kita teladani, misalnya, pada alm. Mochtar Lubis dan alm H. Rosihan Anwar yang kalimat-kalimatnya sulit dipungkiri, kecuali penguasa di masanya berkelit dengan sejumlah alasan seraya menggulir taktik pembungkaman.
Semoga saja, penguasa di masa kini tak bertindak serupa, dengan berpura-pura mengingat “di alam serba terbuka dewasa ini, tak mungkin lagi membungkaman.” Namun, meski sejarah memang tak pernah bisa berulang, ia kerap modifikasi.
Mereka tak hanya mengkritik ke luar tapi juga ke dalam tubuh sendiri (otokritik). Bahkan, lewat karya buku, “Buku itu mahkota jurnalis,” kata alm. Jakon Oetama suatu ketika di masa hidupnya. Memahami kalimat ini sebagai otokritik, hendaklah menjadi bahan introspeksi mendalam bagi para wartawan senior, khususnya warga SWSI. Tentu saja karya buku bukan buku sembarang buku yang hanya berbasis “pesanan” pejabat yang mau ngetop.
Seperti kata Hans Itta (72 tahun), kini Redaktur Pelaksana Bali Tribune ketika Tasman Banto (67) Pemimpin Redaksi Harian Mercusuar Palu, Sulteng, menggulir kalimat Jakob tersebut. Hans (di masa lalu wartawan Hr. Merdeka, BM. Diah) dan Tasman telah mencurahkan kesaksiannya sebagai wartawan tentang kejadian di daerah masing-masing, NTT dan Sulteng ke dalam sejumlah buku. Karya buku juga sudah disusun para wartawan senior lainnya meski jumlahnya belum begitu banyak. Ini menjadi ruang terbuka SWSI bagi warganya.
Hal pertama itu, mungkin berbau estafet, ya estafet jiwa kewartawanan kepada generasi penerus-- seperi masih belianya Antoni, Pemimpin Redaksi JPNN.Com. Ketika masih "sangat hangat-hangat"-nya Reformasi baru menamatkan Program Diploma 3 Komunikasi UGM Yogyakarta. Waktu itu Antonni mulai menjadi reporter muda untuk Majalah Interview yang penulis bidani pada 2001 bersama wartawan senior Said Surung Hutapea.
Sejarah bukan cuma alamat belajar tetapi memelajari --pas dengan SWSI yang berjanji akan selalu demokratis. Memelajari berarti, SWSI sebagai organisasi yang merupakan bagian dari masyarakat. Ia yang selalu dinamis, akan mengakomodasi dan merespons masukan kritis, baik dari anggotanya maupun dari masyarakat. Bukan sekadar meniru, tapi memilah-miliah untuk menemukan formulasi sehingga lahir “warisan terbaik” dengan memasukkan nilai mutlak kejujuran yang dianutnya dan akan diestafetkan kepada generasi penerus pada zamannya.
Kejujuran merupakan salah satu nilai sakral yang melekat pada jurnalis pemilik jurnalisme. Kejujuran yang kemudian dikristalkan ke dalam moral integritas harus menjadi pegangan setiap penyandang profesi jurnalis.
Untuk itu, SWSI sebagai organisasi dan warganya harus berbeda dan menjadi penegak new values (nilai berita) yang menjadi produk utama setiap jurnalis untuk diserahkan dan diloloskan medianya kepada publik. Maka, setiap yang berani mengaku jurnalis, hendaklah sangat paham pada sekurangya tujuh hal yang mendukung nilai berita sebagai produk utama yang disajikan media kepada masyarakat banyak. Lagi-lagi dengan kejujuran!
Ketujuh hal yang patut dipahami dan dipertanyakan ke dalam diri masing-masing si pengaku jurnalis, meliputi aktualitas, proksimitas, dampak atau konsekwensi, prominansia (menonjol), konflik, minat manusia (human interest), dan terpercaya. Produk berita yang aktual, tidak akan basi diterima khalayak pembaca. Tetapi, bukan karena dituntut kecepatan agar aktual lantas mengabaikan keakuratan yang terjamin oleh moral integritas (kejujuran).
Wartawan juga hendaklah pandai pembaca kedekatan secara geografis dan mungkin juga secara emosional antara yang akan diliput dan khalayak yang menjadi sasaran medianya. Kedekatan pada narasumber hanya ditempatkan pada kaitannya dengan --antara lain-- menggali “apa di balik” peristiwa dalam kerangka jujur dalam mengungkap kebenaran secara berimbang. Bukan disertai rasa sentimen. Dengan demikian, secara selektif dan bermoral, masyarakat menjadi utama di benak setiap wartawan.
Berikutnya, wartawan dengan ketajamannya mampu mengendus, bahwa hasil liputannya akan memengaruhi khalayak pembaca sehingga mengundang positif berpikir mereka untuk bertindak atau tidak bertindak. Lantas, ada konflik di dalam produk berita yang akan disajikan medianya.
Mungkin maksudnya, dengan ini menjadi menarik karena ada perbedaan sampai pertentangan, perselisihan atau perdebatan, sehingga menginspirasi khalayak pembaca. Bukan sekadar menggulir rilis yang isinya cenderung searah, sehingga terkesan fotokopi belaka. Yang semacam ini, tentu amat disukai narasumber yang cuma memenuhi hasrat kepentingannya belaka.
Setelah penguasaan sekurangnya atas lima langkah tersebut, wartawan patut mampu membaca minat (human interest) pembaca yang disasar, agar medianya tidak ditinggalkan pembaca. Cuma dianggap “angin lalu”. Keenam langkah harus dituntaskan dengan kejujuran. Jujur menuliskan agar jujur pula disajikan kepada khalayak pembaca.
Itu sebabnya, setiap wartawan harus bermoral integritas, dipercaya oleh penerbit, dan terpercaya di mata publik dan narasumber. Sekali-kali bukan cuma diandalkan oleh medianya. Artinya, produk berita yang diserahkan tak boleh asal menyenang-nyenangkan narasumber dan membuat pengasuh penerbitnya dapat tidur pulas. Ini bukan iklan tapi produk kejujuran, Bung!
Dengan kejujuran, setiap wartawan berani mempertanggungjawabkan hasil liputannya dengan baik dan berani kepada ketiga komponen kuat tersebut, karena sudah memedulikan keseimbangan berita (cover booth side). Perlu pula segera disadari bahwa setiap manusia punya subjektivitas, demikian pula wartawan (ini, tentu saja, bukan sebuah permakluman).
Oleh karena itu, moral integritas menjadi sangat penting dalam melihat suatu peristiwa patut diliput dan diserahkan kepada pengasuh di penerbit untuk layak diinformasikan kepada masyarakat banyak.
Kewajiban pertama setiap wartawan adalah komitmen pada kebenaran. Kemudian, pertanggungjawaban utamanya pada masyarakat (Luwi Iswara, 2005: 8 - 9).
Selain itu, sebagai umat beragama, sadar sesadar-sadarnya, bahwa ia dalam berkarya senantiasa disaksikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Jadi, bukan karena terpaksa. Dua hal ini wajib “hukumnya“ dan bisa terjawab dengan kejujuran.
SWSI, Anggota, dan Masyarakat
HAL kedua, SWSI hendaklah menjadi wadah berbagi untuk sama-sama mencari pemecahan sekaligus memeringan kondisi sesama WS. Sebagai wadah wadah gotong-royong nyata bagi "wartawan yang secara materi belum beruntung". Tegasnya, masih jauh dari sejahtera di hari tua, namun nuraninya tetap menuntut utuk berkontribusi bagi masyarakat.
Bila tertanggulangi secara baik, tentu SWSI bermanfaat bagi para warganya, dengan tetap berkontribusi pada usia senior lewat pemikiran berdasarkan pengalaman dan diakui kadar intelektualnya. Seperti diungkap oleh Wahyu di awal orasi peluncuran SWSI, ia dan kawan-kawan suka-rela menanggulangi warganya yang sakit berat namun belum beruntung secara ekonomi untuk menanggulanginya sendiri.
Sisi intelektual menjadi kontribusi sangat berarti bagi para WS. Ini merupakan lahan bagus bagi penguasa sekaligus bagus pula bagi WS dalam mencurahkan pengalaman mereka dengan kadar intelektual mereka yang memadai, bagi masyarakat bangsa.
Akan tetapi, dengan kondisi perekonomian mereka yang morat-marit di hari tua, tentu hal itu menjadi mustahil rasanya. Oleh sebab itu, gotong-royong yang jauh dari banyak berbau seremoni dan dikelola dengan baik, akan dapat ditanggulangi dengan baik secara produktif. Katakanlah, semacam koperasi yang tidak lahir secara top down. Dengan demikian, semua energi terwadahi lantaran ikut berperan.
Salah satu hal positif dari teknologi maju komunikasi dewasa ini, dapat dimanfaatkan oleh WS untuk itu, yakni dapat menembus informasi yang sebelumnya hanya bisa diakses lewat bacaan. Meski, tentu saja antara teknologi cepat saji dan konvensional masing-masing punya kelebihan dan kekurangan, meski banyak bangsa dan negara maju yang sudah sangat membatasi pemanfaat kemajuan teknologi informasi.
Baca Juga: Habis Gelap Terbitlah Terang: Spirit Hijrah Menuju Perubahan
Terutama karena faktor lupa diri si pemanfaat. (Catatan untuk kemajuan teknologi tinggi di bidang komunikasi tentang hal negatifnya bejibun bila hanya berkembang didasarkan atas “cepat, murah, dan mudah” yang amat memengaruhi kejiwaan si pemanfaat. Sekali lagi, justru ini menjadi lahan kritisasi wartawan yang butuh intelektual WS. Hal yang satu ini tidak dibahas lanjut di sini). Banyak contoh bisa diajukan. Grup bekas anak usaha sebuah koran terkemuka di Jakarta saja, beranggotakan hampir 50 orang. Semua sudah senior.
Itu belum bila didata secara saksama mereka yang bertebaran di Tanah Air. Kalau penduduk Indonesia sudah mencapai 279 juta jiwa lebih, termasuk yang hampir miskin dan terancam miskin, di antaranya pasti WS. Jumlah sebanyak ini menjadi perhatian dan harus ditanggulangi dengan baik oleh SWSI, agar tak mengulang cerita lama, seperti diungkapkan Wahyu tadi tentang warganya yang harus ditanggulangi oleh person-person saja.
Jika di Jakarta, ibu kota adalah pusat dari segala macam pusat, diandaikan terdapat 40-an orang WS di setiap masing-masing dari 38 provinsi, berarti mereka yang inklud harus diurus oleh SWSI, tak kurang dari 1.500-an jiwa. Satu angka yang cukup besar bila dibandingkan dengan jumlah seluruh mereka yang sah mengklaim diri sebagai wartawan sebelum Reformasi 1998.
Jangan-jangan lebih dari asumsi ini. Manusia Indonesia jangan seperti yang dikatakan jurnalis tiga zaman alm. Mochtar Lubis dalam pidato kebudayaannya di TIM Jakarta 57 tahun silam. Manusia Indonesia cuma punya satu ciri positif dari enam ciri “Manusia Indonesia”, kata Mochtar, yakni “Artistik, berbakat seni” (pengantar Jakob Oetama, 2008: vii). Sebagai umat di negara yang mewajibkan beragama ini, hal tersebut pun sudah patut disyukuri.
Dengan jumlah sebesar itu berarti jumlah WS setiap tahun akan bertambah terus seiring pertambahan penduduk di negara ini. Regenerasi adalah pasti. Tentu, hal ini dengan memperhitungkan perbandingan angka vertilitas dan regenerasi WS.
Ke depan masih terlalu banyak tantangan, terutama politis dalam pengertian penguasa. Di Negara ini, feodal sudah menjadi ciri melekat. Pada orang dengan profesi apa pun, sebagaimana ciri ketiga dalam pidato Mochtar. Belum lagi melihat kemajuan yang menggoda seperti teknologi internet yang sangat bisa bikin lupa. Di alam yang serba terbuka dan cepat berubah dan lintas budaya ini patut disampaikan: selamat berjuang SWSI! (*)
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS