adplus-dvertising

Banjir Masih Menjadi Ancaman Serius di Jatim

Try Wahyudi Ary Setyawan, telisik indonesia
Jumat, 11 Maret 2022
471 dilihat
Banjir Masih Menjadi Ancaman Serius di Jatim
Anggota DPRD Jatim, Satib. Foto: Yudhie/Telisik

" Selain karena pendangkalan sungai, kondisi tanggul yang kritis juga menjadi penyebab banjir sering terjadi "

SURABAYA, TELISIK.ID - Bencana banjir masih menjadi ancaman serius di Jawa Timur (Jatim). Selain pendangkalan sungai, kondisi tanggul yang kritis juga menjadi penyebab banjir sering terjadi.

"Sungai-sungai itu harus segera dilakukan normalisasi. Sedimentasi dikeruk dan tanggul diperbaiki. Sebab kalau dibiarkan, akan jebol dan menyebabkan banjir. Ini berbahaya. Apalagi musim hujan seperti ini," kata Anggota Komisi D DPRD Jatim, Satib, saat dikonfirmasi di Surabaya, Jumat (11/3/2022).

Pria asal Jember ini menjelaskan, kondisi kritis terjadi di hampir seluruh sungai di Jawa Timur sehingga banjir sering terjadi.


"Pemerintah Provinsi Jawa Timur harus memberikan perhatian lebih terhadap kondisi sungai-sungai yang ada. Seperti kita tahu wilayah Jatim banyak yang mengalami banjir karena kondisi sungai yang membutuhan upaya normalisasi, baik yang disebabkan pendangkalan maupun penyempitan," katanya.

Politisi Gerindra ini mencontohkan, Sungai Tanggul di Desa Paseban, Kecamatan Kencong, hingga saat ini masih mengkhawatirkan pascabanjir empat tahun lalu. Pasalnya tanggul sungai mulai menipis akibat tergerus air.

"Karena kena hujan terus menerus, banjir terus menerus, akhirnya tergerus. Jadi sekarang ada beberapa tempat yang tanggulnya terkikis. Ini memang butuh perhatian dari BSDA, karena kalau dibiarkan, lama-lama jebol lagi. Nah kalau jebol lagi, satu desa seperti di Paseban bisa tenggelam lagi seperti dulu. Itu kan di hilir, pas besar-besarnya. Apalagi kondisi sekarang seperti ini. Kami sangat khawatir, kalau tanggulnya jebol ada dua desa yang terdampak yaitu Desa Paseban dan Desa Keraton," tambahnya.

Baca Juga: Cegah Banjir, Saluran Drainase di Lamba Leda Utara NTT Ditata Kembali

Satib mengakui butuh anggaran besar untuk kegiatan normalisasi sungai tersebut. Untuk satu titik perbaikan tanggul misalnya, dibutuhkan dana sekitar Rp 200 juta. Sementara jumlah titik yang harus diperbaiki cukup banyak.

Sedangkan Kepala PU SDA (Pekerjaan Umum Sumber Daya Alam) Jatim Isa Ansori mengakui banyak sungai yang kondisnya buruk, sehingga membutuhkan penanganan cepat agar tidak meimbulkan banjir.

"Selain tanggul jelek, sedimentasi juga tebal. Sungai yang menjadi dangkal ini menjadi perhatian kami," katanya.

Isa juga mengakui bahwa persoalan anggaran kerap menjadi kendala. Namun, pihaknya bersyukur bisa memaksimalkan kebutuhan yang ada.

Baca Juga: Diduga Korslet Listrik, Rumah Panggung Rata Tanah di Makassar

"Kami juga senang sebab pemerintah pusat ikut membantu,” jelas mantan Kabid Dishub Jatim ini.

Di luar pendangkalan sungai, banyaknya bangunan di atas sempadan sungai, kata Isa, juga selalu bikin pusing. Sebab bangunan tersebut seringkali menyulitkan upaya normalisai sungai.

"Kendala rumah di pinggir sungai, sehingga kita nggak bisa masuk untuk bersihkan sedimentasi pakai ponton. karena bangunannya mepet sungai. Nah kita sedang koordinasi dan inventarisasi untuk mencari solusi. Bisa saja bekerja sama dengan kepolisian. Tapi itu masih tahap wacana," tutup pria asal Madura ini. (B)

Reporter: Try Wahyudi Ari Setyawan

Editor: Haerani Hambali

Artikel Terkait
Baca Juga