China dan India Tak Rakus Lagi dengan Batu Bara RI, Negara Asia Ini Mulai jadi Penopang Ekspor 2026

Ahmad Jaelani, telisik indonesia
Rabu, 08 Juli 2026
0 dilihat
China dan India Tak Rakus Lagi dengan Batu Bara RI, Negara Asia Ini Mulai jadi Penopang Ekspor 2026
Permintaan China dan India melemah, sementara negara Asia lain mulai menopang ekspor batu bara Indonesia sepanjang 2026. Foto: Repro Okezone

" Melemahnya permintaan dari China dan India mendorong pergeseran pasar ekspor batu bara Indonesia "

JAKARTA, TELISIK.ID - Melemahnya permintaan dari China dan India mendorong pergeseran pasar ekspor batu bara Indonesia, sementara sejumlah negara Asia mulai menopang kinerja perdagangan sepanjang 2026.

Kinerja ekspor batu bara Indonesia masih menghadapi tantangan sepanjang 2026. Selain dipengaruhi penurunan harga batu bara di pasar global, permintaan dari sejumlah negara tujuan utama juga mengalami perubahan.

Di tengah kondisi tersebut, beberapa negara Asia justru meningkatkan impor sehingga menjadi penopang ekspor batu bara nasional.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor batu bara dengan kode HS 2701 pada Mei 2026 mencapai US$ 2,17 miliar atau sekitar Rp 39 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.985 per dolar Amerika Serikat.

Nilai tersebut meningkat 4,11 persen dibandingkan Mei 2025 dan naik 5,14 persen dibandingkan April 2026.

Melansir CNBC Indonesia, Rabu (8/7/2026), meski mencatat pertumbuhan secara bulanan, capaian kumulatif selama lima bulan pertama tahun ini masih berada di bawah periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga: Begini Reaksi Singapura Soal RI Ekspor Sawit dan Batu Bara Satu Pintu Lewat DSI, Takut Hubungan Dagang Terganggu

Nilai ekspor batu bara pada Januari hingga Mei 2026 tercatat US$ 9,75 miliar atau sekitar Rp 175,35 triliun, turun 4,95 persen secara tahunan.

Penurunan juga terlihat dari sisi volume pengiriman. Pada Mei 2026, volume ekspor batu bara Indonesia mencapai 29,03 juta ton, turun 13,61 persen dibandingkan Mei 2025. Namun, jika dibandingkan April 2026, volume tersebut masih meningkat 1,26 persen.

Sementara itu, total volume ekspor selama Januari hingga Mei 2026 mencapai 143,56 juta ton. Angka tersebut turun 8,19 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu, menunjukkan permintaan global yang belum sepenuhnya pulih.

Tekanan terhadap ekspor turut dipengaruhi oleh melemahnya harga batu bara dunia. Berdasarkan data Refinitiv, harga batu bara termal pada 6 Juli 2026 berada di level US$ 128,25 per ton. Dalam satu bulan terakhir, harga terkoreksi 15,11 persen, meski masih lebih tinggi 17,26 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pelemahan harga dipengaruhi meredanya kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global. Proses negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali berlangsung memunculkan harapan terbukanya jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Kondisi tersebut ikut menekan harga minyak dan gas alam sehingga kebutuhan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara turut berkurang.

Di sisi pasar tujuan ekspor, India masih menjadi salah satu pembeli terbesar batu bara Indonesia. Namun, permintaan dari negara tersebut mengalami penurunan cukup tajam. Pada Mei 2026, nilai ekspor ke India tercatat US$ 411,81 juta, turun 18,88 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Volume pengiriman juga merosot 37,75 persen menjadi 6,36 juta ton.

Sementara itu, ekspor ke China menunjukkan peningkatan dibandingkan Mei 2025. Nilai ekspor mencapai US$ 349,88 juta atau naik 19,79 persen, sedangkan volume pengiriman meningkat 5,19 persen menjadi 5,47 juta ton.

Dibandingkan April 2026, kenaikan tersebut bahkan lebih tinggi, dengan nilai ekspor melonjak 82,07 persen dan volume meningkat 82,92 persen.

Selain China, sejumlah negara di kawasan Asia turut memperkuat permintaan terhadap batu bara Indonesia. Nilai ekspor ke Jepang meningkat 27,85 persen menjadi US$ 209,44 juta. Vietnam juga mencatat kenaikan 38 persen menjadi US$ 229,88 juta.

Baca Juga: Aturan Baru DHE SDA Resmi Berlaku Juni 2026, Purbaya Wajibkan Devisa Ekspor Disimpan di Dalam Negeri

Kenaikan permintaan turut terjadi di Bangladesh yang tumbuh 35,17 persen, Thailand naik 21,06 persen, sedangkan Kamboja mencatat peningkatan tertinggi sebesar 61,98 persen dibandingkan Mei tahun lalu. Peningkatan dari negara-negara tersebut membantu menjaga kinerja ekspor Indonesia di tengah melemahnya permintaan dari sebagian pasar utama.

Sebaliknya, ekspor ke Malaysia dan Taiwan masih mengalami penurunan. Nilai ekspor ke kedua negara tersebut turun 14,63 persen dibandingkan Mei 2025, seiring berkurangnya volume pengiriman selama periode yang sama.

Secara keseluruhan, peningkatan permintaan dari sejumlah negara Asia mampu menjaga kinerja ekspor batu bara Indonesia pada Mei 2026. Namun, secara kumulatif, nilai maupun volume ekspor selama Januari hingga Mei masih berada di bawah capaian tahun sebelumnya.

Pergerakan harga batu bara global dan perkembangan permintaan dari negara tujuan utama diperkirakan masih akan menjadi faktor penting yang memengaruhi kinerja ekspor nasional pada paruh kedua 2026. (C)

Penulis: Ahmad Jaelani

Editor: Kardin

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga