adplus-dvertising

Curhatan Sopir Angkot yang Sepi Penumpang di Tengah Pandemi COVID-19

Kardin, telisik indonesia
Kamis, 29 Juli 2021
2727 dilihat
Curhatan Sopir Angkot yang Sepi Penumpang di Tengah Pandemi COVID-19
Salah satu mobil Angkot sedang memuat penumpang. Foto: Kardin/Telisik

" COVID-19 membuat ekonomi masyarakat "terpukul", bukan hanya pedagang, tetapi transportasi umum juga merasakan hal yang sama. "

KENDARI, TELISIK.ID - COVID-19 membuat ekonomi masyarakat "terpukul", bukan hanya pedagang, tetapi transportasi umum juga merasakan hal yang sama.

Untuk transportasi umum, Angkutan Kota (Angkot) merupakan bagian profesi yang ikut berdampak di tengah pandemi Virus Corona.

Seperti yang dialami La Mata, seorang pria 52 tahun ini mengaku, sepinya penumpang setahun terakhir membuat dirinya harus putar otak mengumpulkan pundi-pundi rupiah.


Tak jarang, La Mata menerima muatan barang untuk menambah penghasilan dalam setiap harinya.

"Dibanding sekarang-sekarang ini, masih lebih bagus penghasilan saat bulan puasa yang lalu. Sekarang sepi," ungkapnya, Kamis (29/7/2021).

Sopir Angkot yang mengambil jalur Anduonohu-Pasar Wua Wua Kota Kendari itu mengaku, tutupnya sekolah dan universitas juga menjadi salah satu faktor penyumbang berkurangnya pendapatan.

Padahal, kata dia, meski anak sekolahan membayar cukup murah, namun sering dimuat sebagai penumpang, belum lagi banyak sekolah di area Anduonohu yang kini harus tutup karena COVID-19 melanda.

"Biar anak sekolah itu bayar 2000-3000 rupiah tapi kan sering kita muat. Jadi cukup lancar juga pemasukan. Tapi sekarang ini tutup semua sekolah, makanya penumpang kurang sekali," curhatnya.

Pria tiga anak itu juga menerangkan, saat ini dalam sehari dirinya hanya mampu mendapat Rp 200 ribu saja jika beruntung.

Baca juga: Sekda Kota Kendari Ajak Pengunjuk Rasa ke Ruang Isolasi Jika Tak Percaya COVID-19

Baca juga: Ketua Umum DPP KNPI Minta Kejati Periksa Gubernur Sultra

Itu pun, kata dia, masih terbilang pendapatan kotor, karena belum dipotong untuk biaya bensin, juga makan dan minum dalam seharinya.

"Kalau beruntung dapat Rp 200 ribu seharinya, tapi itu belum dibelikan bensin. Untuk bensin saja Rp 120 ribu, yaa, tinggal Rp 80 ribu, belum lagi untuk makan dan lain-lain. Untung ini mobil sendiri, bagaimana yang sewa mobil orang," urainya.

Tak sampai di situ, persaingan transportasi juga ikut menyumbang kurangnya penumpang sopir Angkot. Dalam hal ini, menjamurnya transportasi online.

"Persaingan dengan kendaraan online juga berdampak sama pendapatan Angkot," bebernya.

Hal yang sama juga dirasakan Rudi (43), selaku sopir Angkot jurusan Pasar Sentral Kota-Kampus UHO itu mengaku, jika saat ini penumpang begitu kurang.

Dibanding sebelum COVID-19 melanda Indonesia, penghasilan sopir Angkot bisa dibilang dapat menunjang kehidupan keluarga.

"Aduh, kalau sekarang ini penumpang untung-untungan saja kita ini tidak lari kosong," sebutnya.

Ia pun berharap agar pemerintah dapat lebih memerhatikan profesi transportasi umum seperti mereka, yang setiap harinya semakin sulit mendapat penumpang.

"Kalau bisa sopir angkot seperti kita ini dapat bantuan juga lah dari pemerintah," harapnya. (B)

Reporter: Kardin

Editor: Fitrah Nugraha

Artikel Terkait
Baca Juga