Idul Adha di Masa Pandemi, Islam Harus Menjadi Solusi

Affan Safani Adham, telisik indonesia
Sabtu, 11 Juli 2020
0 dilihat
Idul Adha di Masa Pandemi, Islam Harus Menjadi Solusi
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengajak warga Persyarikatan Muhammadiyah untuk menunjukkan sikap keagamaan. Foto: Ist.

" Jadi jangan sampai keluarga besar Muhammadiyah hanya terus berkutat dalam perdebatan rukun yang sifatnya darurat. "

YOGYAKARTA, TELISIK.ID - Sejak dulu, Muhammadiyah adalah pelopor penggunaan landasan ilmu pengetahuan dalam beragama. Selain juga untuk untuk isu-isu kebangsaan.

Jangan sampai warga Muhammadiyah terjebak dalam pikiran parsial atau partisan dalam menghadapi kehidupan. Dalam membaca realitas, diperlukan pemikiran bayani, burhani, dan irfani.

"Dengan tiga perspektif itu, insya Allah Muhammadiyah, kader dan warganya berada pada garis terdepan dalam menghadapi masalah secara komprehensif sesuai dengan tuntutan yang harus kita pecahkan bersama," kata Prof Dr Haedar Nashir, M.Si dalam pengajian bulanan rutin Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jumat malam (10/7/2020).

Dalam pengajian yang diselenggarakan secara daring bertemakan "Idul Adha di Masa Pandemi COVID-19", Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengajak warga Persyarikatan Muhammadiyah untuk menunjukkan sikap keagamaan.

"Yakni menghadirkan Islam sebagai solusi dan rahmat untuk alam semesta dengan cara mematuhi semua pedoman dan edaran yang dikeluarkan oleh Muhammadiyah terkait COVID-19," kata Haedar.

Menurutnya, Muhammadiyah ingin menunjukkan berdasar prinsip keagamaan Islam harus menjadi solusi dalam menghadapi keadaan pandemi COVID-19. "Jangan sampai Islam dan umat muslim justru menjadi bagian dari masalah dan menjadi masalah," tandasnya.

Bagi Haedar, agama harus menjadi rahmatan lil alamin dan memberi manfaat. "Hakikat ibadah adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara menjalankan syariat sesuai konteks," paparnya.

Sehingga, ibadah selama masa pandemi COVID-19 secara sukarela mengikuti pedoman yang ditetapkan oleh Muhammadiyah.

"Ibadah harus berlangsung khusyuk dan hikmat dalam rangka menghayati kembali makna taqarub Ilallah," kata Haedar.

Sebagaimana diketahui, Muhammadiyah belum lama ini menyatakan bahwa selama kondisi darurat COVID-19, penyelenggaraan ibadah disarankan berlangsung di rumah atau lingkup terbatas.

Baca juga: Meneladani Sikap Keikhlasan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Berkurban

Haedar berharap, supaya  semangat tolong-menolong selama masa krisis pandemi COVID-19 ini menjadi sarana mendekatkan diri dengan Allah SWT secara hakiki.

Bagi warga Persyarikatan Muhammadiyah, praktik keagamaan harus bersesuain dengan semangat menghadirkan sikap ihsan dan rahmatan lil alamin.

"Jadi jangan sampai keluarga besar Muhammadiyah hanya terus berkutat dalam perdebatan rukun yang sifatnya darurat," kata Haedar sambil menegaskan bahwa seluruh putusan dan edaran Persyarikatan Muhammadiyah telah memenuhi lima aspek maqashid syariah, terutama hifzuddin (menjaga agama) dan hifzunnafs (menjaga kehidupan).

Pada kesempatan itu, Haedar menjelaskan hakikat dan tujuan beribadah. "Pada prinsipnya untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat melalui iman, ilmu dan amal salih," tandasnya.

Menurutnya, semakin iman kita baik, amal kita juga baik. "Dan ketika semua dikonversi, harusnya mempertebal iman kita dan memfungsikan bagi kehidupan sekaligus juga berbuah amal salih," kata Haedar.

Kata Haedar, jangan sampai kita luruh. Waktu kita dihabiskan berdebat di medsos. "Iman dan amal salih harus dimiliki sebagai kekuatan kita beragama. Jangan pernah ada setiap muslim baik warga, kader dan elit yang merasa hilang keberagamaannya," ungkapnya. "Padahal iman dan amal salih kita harus bertambah."

Setiap warga, kader dan elit Persyarikatan Muhammadiyah dari pusat hingga ranting, diharapkan Haedar Nashir untuk memperkaya khazanah keislaman menggunakan pendekatan komprehensif, yakni bayani (tekstual), burhani (penalaran ilmiah), dan irfani (reflektif).

"Termasuk dalam menghadapi aspek-aspek mendasar keagamaan maupun untuk kehidupan keseharian," tandasnya.

Tujuannya tidak lain ialah supaya perspektif keagamaan menjadi lebih kaya, mendalam dan luas. Pikiran menjadi lebih jernih dan komprehensif, tidak naif atau bahkan tertinggal.

Reporter: Affan Safani Adham

Editor: Haerani Hambali

Baca Juga