adplus-dvertising

Kecemasan Berkomunikasi Calon Pemimpin

M. Najib Husain, telisik indonesia
Sabtu, 23 April 2022
1143 dilihat
Kecemasan Berkomunikasi Calon Pemimpin
Dr. M. Najib Husain, Dosen FISIP UHO. Foto: Ist.

" Salah satu upaya calon pemimpin untuk dikenal oleh para calon pemilih adalah dengan melakukan kunjungan dan bertemu langsung dengan masyarakat, baik ke kantong-kantong suara basis sendiri dan utamanya basis lawan "

Oleh: Dr. M. Najib Husain

Dosen FISIP UHO

SALAH satu upaya calon pemimpin untuk dikenal oleh para calon pemilih adalah dengan melakukan kunjungan dan bertemu langsung dengan masyarakat, baik ke kantong-kantong suara basis sendiri dan utamanya basis lawan. Dalam istilah perjuangan Jokowi saat akan menjadi presiden di periode pertama adalah blusukan.


Blusukan diartikan sebagai “perjalanan ke tempat-tempat jauh”. Budaya blusukan sudah dikenal pada zaman raja-raja Jawa. Dalam lintasan sejarah raja Majapahit, Hayam Wuruk adalah pelopor perilaku blusukan ini. Bahkan untuk bertemu dengan para bupati dan adipatinya Hayam Wuruk rela melakukan perjalanan panjang dalam waktu berbulan-bulan hingga jauh ke Blambangan.

Meskipun blusukan sudah ada sejak dulu tetapi istilah blusukan baru “terkenal” sejak Joko Widodo menjabat sebagai Walikota Solo tahun 2005 dan menjadi semakin popular ketika Joko Widodo menjabat Presiden (2014-2019).

Hingga sekarang ini blusukan masih dilakukan dengan maksud yang berbeda. Dalam konteks kebijakan publik blusukan dilakukan karena mempunyai peranan sebagai wahana bagi pemimpin untuk menangkap aspirasi rakyat secara langsung.

Dalam konteks komunikasi politik terutama pada saat kampanye blusukan dilakukan untuk mendapatkan dukungan suara pada saat dilakukan pemungutan suara.

Kandidat Pilkada dalam melakukan blusukan ke berbagai wilayah selain merupakan salah satu bentuk usaha pencitraan untuk mendapatkan dukungan opini publik.

Politik pencitraan atau pencitraan politik berkaitan dengan pembuatan informasi atau pesan politik oleh komunikator politik (politikus atau kandidat), media politik (media massa, media sosial, dan/atau media format kecil), dan penerima atau khalayak politik (publik).

Blusukan merupakan salah satu bentuk komunikasi interpersonal antara kandidat dengan masyarakat atau dalam komunikasi politik disebut sebagai door to door. Dalam situasi seperti ini terjadi hubungan timbal balik antara kandidat dan masyarakat.

Baca Juga: Bertopeng di Bulan Ramadan

Selanjutnya dalam teori pertukaran sosial dijelaskan oleh George C Homans dalam dalam bukunya “Elementary Forms of Social Behavior” bahwa terdapat beberapa proposisi dan salah satunya berbunyi: ”Semua tindakan yang dilakukan oleh seseorang, makin sering satu bentuk tindakan tertentu memperoleh imbalan, makin cenderung orang tersebut menampilkan tindakan tertentu tadi“.

Teori Homans berangkat dari asumsi ekonomi dasar (pilihan rasional) yaitu individu memberi apa dan mendapatkan apa, apakah menguntungkan atau tidak. Para kandidat Pilkada 2024 mulai saat ini harus sering hadir saat ada undangan, baik itu kegiatan  pernikahan, sunatan serta undangan kelahiran, apakah dikenal atau tidak tetapi yang pasti harus hadir, untuk berusaha menyempatkan diri untuk hadir di tengah-tengah keluarga.

Begitu juga jika ada warga yang meninggal dunia maka wajib hadir dikegiatan melayat dan takziah. Terakhir sering duduk di warung kopi yaitu duduk bersama dan berkumpul membicarakan permasalahan yang terjadi baik sosial, politik, budaya, kemasyarakatan dan sebagainya sambil makan dan minum.  

Aktivitas sosial kemasyarakatan harus dibangun oleh para kandidat Pilkada 2024 untuk mendekatkan diri kepada masyarakat dan agar dikenal masyarakat. Karena menjadi pemimpin harus dekat dengan masyarakat karena dengan cara begitu ia akan mendapatkan kepercayaan dari para pemilih.

Pendekatan yang dilakukan yaitu sholat berjamaah dan mendatangi pengajian. Blusukan melalui sholat berjamaah dilakukan di masjid-masjid dengan berpindah-pindah (safari Ramadan). Sholat berjamaah dilakukan sebagai bentuk memperkenalkan diri kepada masyarakat.

Dengan semakin banyak melakukan sholat berjamaah maka semakin banyak orang yang mengenal sosok kandidat  dan namanya akan akrab di telinga masyarakat. Hal ini diyakini akan dapat meningkatkan popularitas dan elektabilitas dalam memperoleh suara pada saat pemungutan suara.

Pendekatan kedua yaitu melalui kelompok pengajian dan kelompok masyarakat. Kelompok ini dianggap potensial karena mayoritas beragama Islam penduduk di Sultra. Hanya sayang masih banyak kandidat Pilkada 2024 yang tidak bertemu langsung masyarakat dan sekedar pasang baleho di mana-mana.

Jangan Anda berharap dipilih kalau tetap jaga jarak dan tidak mau bertemu langsung dengan para calon pemilih karena memposisikan diri orang terhormat dan berpendidikan tinggi. Pada dasar dalam  pencalonan masyarakat tidak melihat dari segi pendidikannya namun masyarakat melihat dari segi pendekatannya dan komunikasinya kepada masyarakat bagaimana beliau hadir di tengah masyarakat sebagai tempat keluh kesah mereka selama ini.

Namun, tidak semua calon pemimpin percaya diri bertemu langsung masyarakat ada juga yang tidak percaya diri disebabkan karena adanya kecemasan berkomunikasi yang disebabkan perasaan takut atau tingkat kegelisahan dalam transaksi komunikasi.

Kecemasan berkomunikasi memiliki variabel yang memiliki jenjang rendah sampai tinggi. Dalam penerapan praktisnya, persoalan tentang kecemasan berkomunikasi ini dapat diatasi dengan perlakuan-perlakuan tertentu (treatable) kepada individu yang mengalaminya. Solusi yang sebaiknya dilakukan untuk mengatasi atau mengurangi kecemasan berkomunikasi dengan orang lain adalah melalui berbagai upaya individu untuk melibatkan diri secara sosial (Lewis & Slade, 1994).  

Menurut Berger, ketika kita berkomunikasi, kita membut rencana untuk mencapai tujuan kita. Kita menyusun rencana komunikasi kita dengan orang lain berdasarkan pada tujuan kita seperti halnya penggunaan informasi yang kita miliki tentang orang lain. Semakin kita merasa tidak pasti, kita menjadi semakin waspada dan kita akan semakin bergantung pada data yang tersedia bagi kita dalam situasi tersebut.

Baca Juga: Menerka Hubungan Tak Harmonis PDI-P, Luhut dan Jokowi

Pada keadaan ketidakpastian yang sangat tinggi kita menjadi semakin sadar dan berhati-hati dengan rencana yang kita lakukan. Ketika kita merasa sangat tidak pasti tentang orang lain, kita cenderung kurang yakin akan rencana kita dan membuat rencana-rencana darurat, atau cara-cara alternatif dalam merespon hal tersebut.  

Pengurangan kecemasan pada individu dari budaya yang berbeda dipengaruhi oleh faktor-faktor pengalaman dan penguasaan bahasa. Untuk itu, strategi untuk mengurangi kecemasan para kandidat adalah menguasai bahasa lokal maka kemampuan bahasa tersebut dapat membantu kita dalam mentoleransi pada hal-hal yang bersifat ambigu.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan pengalaman dan penguasaan bahasa berarti meningkatkan percaya diri dan tidak terlalu panik untuk bertemu dengan seseorang dari kelompok yang berbeda sehingga kita akan berkerja dengan baik dan dapat menggali informasi dan mengurangi ketidakpastian (Littlejohn, 2002).

Bila para kandidat banyak bertemu langsung dengan masyarakat, maka mereka akan banyak memperoleh data dan akan banyak mendapatkan curhatan para calon pemilih. Modal ini akan bermanfaat bagi kandidat Pilkada 2024, utamanya saat debat calon yang diselenggarakan KPU Sultra.

Sehingga mimpi saya dan juga pasti warga Sultra bahwa kedepan saat debat calon gubernur Sultra di tahun 2024 kita akan melihat perdebatan ide dan gagasan yang dasarnya dari data-data di lapangan saat mereka blusukan, dan bukan hanya saling menyerang pribadi masing-masing dari para kandidat atau hanya bernostalgia saat masih menjabat di posisi sebelumnya. (*)

Artikel Terkait
Baca Juga