adplus-dvertising

Paket Calon Alternatif Koalisi PDIP-Gerindra Pilpres 2024

Efriza, telisik indonesia
Minggu, 19 Desember 2021
881 dilihat
Paket Calon Alternatif Koalisi PDIP-Gerindra Pilpres 2024
Efriza, Dosen Ilmu Politik Beberapa Kampus dan Owner Penerbitan. Foto: Ist.

" Pasca Pemilu 2019, Prabowo dan Partai Gerindra memilih bergabung dalam pemerintahan, tidak lagi sebagai oposisi. Sejak bergabung dengan pemerintah maka hubungan PDIP dan Gerindra romantis kembali "

Oleh: Efriza

Dosen Ilmu Politik Beberapa Kampus dan Owner Penerbitan

PRABOWO Subianto masih menjadi magnet dalam survei calon presiden di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Nama Prabowo dalam uji elektabilitas masih menduduki peringkat ketiga besar.


Pasca Pemilu 2019, Prabowo dan Partai Gerindra memilih bergabung dalam pemerintahan, tidak lagi sebagai oposisi. Sejak bergabung dengan pemerintah maka hubungan PDIP dan Gerindra romantis kembali.

Romantisme masa lalu menjadi konsumsi yang diumbar kepada publik. Prabowo Subianto dengan Puan Maharani diwacanakan untuk diusung sebagai paket pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden di Pilpres 2024 mendatang. Paket Prabowo-Puan saat ini memang belum mencerminkan kebulatan keputusan untuk dideklarasikan pada Pilpres 2024.

Kebulatan keputusan ini sulit dengan waktu yang cepat, sebab kedua partai politik ini memiliki surplus kader, calon-calon alternatif dengan elektabilitas yang juga tinggi. PDIP dipusingkan oleh popularitas Puan Maharani kalah dengan popularitas Ganjar Pranowo.

Sedangkan Gerindra, meski popularitas Prabowo masih tertinggi, tetapi harapan proses regenerasi dan memberikan kesempatan kepada kader muda partai untuk diusung telah mencuatkan nama Sandiaga Uno.

Realitas ini merupakan hal positif dari perspektif kaderisasi kepartaian, sebab PDIP dan Gerindra menunjukkan tidak kehabisan stok calon pemimpin untuk jabatan eksekutif.

Baca Juga: Kutak-Katik Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden

Meski begitu, popularitas Ganjar di PDIP, dan Sandiaga Uno di Gerindra, harus disikapi dengan penuh kehati-hatian oleh kedua partai ini, sebab kedua nama ini bukan representasi dari personalisasi di tubuh partai itu sendiri.

Dilema Mengusung Prabowo-Puan

Prabowo masih memesona sebagai representasi kalangan militer. Kesuksesan Prabowo sebagai Menteri Pertahanan saat ini, juga turut mendongkrak elektabilitasnya dan popularitas dirinya sebagai menteri.

Sebagai figur dari representasi militer, menunjukkan Prabowo dianggap akan mampu mewujudkan rasa keamanan di masyarakat, memperkuat persatuan dan kesatuan, dan juga pemerintahan dianggap cenderung lebih stabil jika dipegang oleh calon presiden dari militer. Ini adalah perspektif figur militer, yang juga selalu disematkan terhadap sosok diri Prabowo sebagai calon presiden.

Prabowo tak bisa diabaikan sebagai figur dari representasi calon presiden golongan tua, sekaligus representasi kekuatan politik lama, ini juga modal popularitasnya. Poin plus sebagai representasi dari golongan tua ini, tentu juga memberikan kontribusi negatif terhadap Prabowo.

Ia dianggap terlalu berambisi akan kekuasaan sebagai calon presiden, padahal ia memiliki catatan trend negatif dengan realitas angka kekalahannya mencetak hattrick (plesetan) sejak mengikuti kompetisi pada Pilpres 2009 lalu.

Sebagai representasi golongan tua, Prabowo juga dianggap kurang memiliki kepekaan diri, cenderung egois, karena golongan-golongan tua sudah mulai memilih di balik layar, ia masih berambisi. Sedangkan di Pilpres 2024 mendatang, dianggap sudah waktunya memberikan kesempatan kepada yang muda-muda untuk menjadi calon dan/atau Presiden ke depannya.

Calon-calon muda sebagai trend figur calon Presiden dan Wakil Presiden di Pilpres 2024 mendatang, sudah bermunculan seperti Ganjar Pranowo, Sandiaga Uno, Anies Baswedan, dan Ridwan Kamil.

Wajar akhirnya dorongan dari publik adalah mengharapkan Prabowo lebih memilih menempatkan diri sebagai sosok negarawan sebagai “king maker,” ia berada di belakang layar tetapi yang berperan mendorong, menyiapkan, dan memajukan calon Presiden dari golongan muda.

Prabowo memang memiliki kans sebagai “king maker,” sehingga keputusan Prabowo untuk Pilpres 2024 mendatang begitu ditunggu-tunggu oleh publik. Penjelasan di atas menunjukkan perspektif dari sisi Prabowo dengan Gerindra.

Sedangkan, Puan Maharani tentu saja membuat agak “gaduh” dan kekhawatiran di tingkat internal PDIP sendiri. Secara loyalitas, pilihan Puan Maharani ataupun Ganjar Pranowo tetap disambut dengan kerja semangat dari kader-kader PDIP, sebab kader PDIP disatukan oleh semangat loyalitas terhadap Megawati Soekarnoputri.

Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, adalah simbol kekuatan dan loyalitas kader terhadap PDIP. Ditambah lagi dengan realitas kultur dan mekanisme internal di PDIP, mengenai calon Presiden dan Wakil Presiden diserahkan kepada Megawati selaku ketua umum berdasarkan Kongres V di Bali pada 2019 lalu.

Asumsi yang dapat ditafsirkan antara PDIP dengan Gerindra adalah pilihan terhadap Puan Maharani dibandingkan Ganjar Pranowo sekalipun, hanya akan membuat kader PDIP sekadar ‘gondok’ di hati, ‘gerutu’ di lisan semata antar kader, tetapi dalam bekerja tetap bersemangat memenangkan Puan Maharani.

Contoh ini bisa dilihat dari keputusan Megawati Soekarnoputri yang memilih Basuki Tjahaja Purnama pada Pilkada 2017 lalu, meski cenderung menolak tetapi kader-kader PDIP tetap semangat memenangkan Ahok walaupun dengan dilema di hati sekalipun.  

Situasi ini tentu saja akan berbeda di internal Gerindra. Hanya saja, Sandiaga Uno adalah sosok yang menghargai Prabowo. Meski ada hasrat ingin kembali dalam pertarungan di Pilpres mendatang, tetapi syahwat ini cenderung akan ditekan seminimalisir oleh Sandiaga Uno. Sehingga, gejolak di internal Partai Gerindra tidak terjadi bahkan meluas.

Memperhitungkan Koalisi

Paket Prabowo Subianto-Puan Maharani tentu saja membutuhkan mitra koalisi untuk mendukung pasangan calon ini di Pilpres 2024 mendatang. Meski secara “matematika” Pilpres, PDIP sendiri juga bisa mengusung paket calon Presiden dan Wakil Presiden, tetapi jika ditambah dengan Partai Gerindra menunjukkan lebih baik, sedangkan jika diusung oleh banyak partai tentu saja cenderung juga lebih baik, karena realitas sistem kepartaian kita adalah sistem multipartai ekstrem.  

Meski Ganjar Pranowo tidak diusung sebagai calon Presiden/Wakil Presiden oleh PDIP, tetapi melihat kultur kader PDIP dapat diyakini bahwa Ganjar tidak akan memilih meninggalkan PDIP. Elektabilitas Ganjar Pranowo yang masuk dalam tiga besar sebagai calon presiden potensial, tentunya menarik bagi partai-partai lain untuk menggodanya agar pindah ke “lain hati” seperti di tawarkan oleh Partai Golkar.

Kalkulasi nama calon Presiden/Wakil Presiden dari PDIP kemungkinan besar memang mengerucut terhadap dua nama calon Puan Maharani dan Ganjar Pranowo. Meski keputusan di tangan Megawati Soekarnoputri, selaku ketua umum, tetapi keputusan di luar dari ekspektasi publik sepertinya cenderung minim terjadi, sebut saja tiga kali pemilihan terhadap figur Jokowi dan juga figur Ahok di Pilkada 2017 lalu, dapat menjadi contoh nyata.

Apalagi nama-nama yang potensial dari internal PDIP sebagai calon alternatif seperti Tri Rismaharini dan Basuki Tjahaja Purnama, tidak begitu besar elektabilitas suaranya dibandingkan Ganjar Pranowo, tetapi kedua nama itu cenderung menyimpan potensi kerugian/kegagalan lebih besar jika dibandingkan Ganjar Pranowo.

Bila dibandingkan Ganjar Pranowo, meski Puan Maharani dalam ekspektasi dari keinginan publik lebih kecil peminatnya dibandingkan Ganjar, namun, Puan adalah sosok trah dari simbol PDIP seperti Megawati maupun Soekarno, tentunya nama Puan dihadirkan sebagai bagian dari bingkai loyalitas dan konsolidasi kader-kader PDIP sekaligus juga mempersiapkan regenerasi dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

Hal yang sama juga terjadi di Gerindra, Prabowo sebagai personalisasi partai, simbol Gerindra, juga berusaha untuk tak cepat-cepat mengambil keputusan terkait Pilpres 2024 mendatang. Prabowo memiliki berbagai alternatif dalam mengambil keputusan untuk dirinya dan/atau Partai Gerindra, sebagai Calon Presiden, Wakil Presiden, maupun sebagai king maker.

Wajar akhirnya, Prabowo tidak terburu-buru mengambil keputusan, yang malah nantinya akan menurunkan popularitas dari Partai Gerindra. Prabowo saat ini, akan berjuang untuk membuktikan diri dengan unjuk prestasi sebagai Menteri Pertahanan.

Jabatan Menteri adalah pengalaman pertama dan bernilai presitisius untuk mendongkrak elektablitas dan popularitas dirinya yang turut berimbas pada popularitas Gerindra, dan juga semakin mengukuhkan dirinya adalah representasi dari kalangan militer.

Prabowo juga diyakini sedang berjuang keras merebut simpatik masyarakat dari basis pemilih Presiden Joko Widodo (Jokowi) maupun PDIP. Apalagi telah jelas bahwa Presiden Jokowi pada tanggal 13 Juli 2021 lalu, telah menyatakan, akan ada saatnya, ia akan berbicara dan mengarahkan kemudi “kapal besar” relawan Jokowi kepada pasangan calon.

Ini menunjukkan bahwa Presiden Jokowi akan turut bermain sebagai king maker untuk Pilpres 2024 mendatang, melalui kekuatan para relawan yang telah memenangkannya dalam dua kali Pilpres. Potensi inilah yang memaksa Prabowo untuk lebih sabar agar dapat merebut hati dan memperoleh dukungan dari Presiden Jokowi dan juga massa pendukung Presiden Jokowi.

Prabowo saat ini juga tengah berhitung antara peluang dan kesempatan. Prabowo berhitung peluang kemenangan dengan berkalkulasi melalui simulasi pasangan calon, elektabilitas nama-nama yang mencuat dari hasil survei, dan melakukan penjajakan-penjajakan untuk berkoalisi.

Gerindra lebih memiliki posisi yang tidak stabil dibandingkan dengan PDIP saat ini. PDIP dapat bertindak egois, karena dapat mengusung paket calon presiden dan wakil presiden sendiri.

Sedangkan Gerindra, jika tetap mengusung Prabowo kans kemungkinan kalah empat kali juga tetap besar, perlu kehati-hatian karena Prabowo akan memegang rekor sebagai pemegang rekor “quattrick” (plesetan) dalam kekalahan di Pilpres.

Di sisi lain, Gerindra juga perlu mempersiapkan simulai dalam merancang koalisi, seperti tetap berkoalisi dengan PDIP semata, menambah mitra koalisi, bahkan menjadi pengarah dari koalisi di Pilpres ke depan jika kemungkinan koalisi dengan PDIP malah tak menemui kesepakatan.

Paket Pasangan Capres Alternatif

Berdasarkan dilema-dilema tersebut, maka pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden alternatif dihadirkan dalam bingkai kemungkinan koalisi PDIP-Gerindra. Pasangan Ganjar Pranowo-Sandiaga Uno merupakan pilihan alternatif dan juga potensial dipilih oleh publik.

Sosok Prabowo yang merupakan golongan tua dan sudah “hattrick” dalam kekalahan di Pilpres akan menimbulkan kejengahan di publik. Tawaran terhadap figur Sandiaga Uno dari Gerindra, meski ada kemungkinan “brace” kekalahan, tetapi Sandiaga Uno adalah sosok figur muda alternatif lainnya, ia memesona dari segi penampilan, juga dianggap saat ini berhasil dalam pekerjaan sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf).  

Hasil Survei Indonesia Political Opinion (IPO) pada Desember 2021 ini, menunjukkan elektabilitas Prabowo sedang mengalami penurunan. Justru Sandiaga Uno sebagai rekan Prabowo di Gerindra sedang mengalami kenaikan elektabilitas, dengan perbandingan Prabowo elektabilitasnya sebesar 8,4 persen sedangkan Sandiaga Uno sebesar 13,8 persen.

Dalam posisi skema tokoh menteri paling disukai, Sandiaga Uno juga menduduki posisi teratas dengan tingkat kepuasan publik mencapai 86 persen, sedangkan Prabowo berada di posisi ketiga dengan tingkat popularitas 77 persen.

Ini menunjukkan dari sisi elektabilitas dan penerimaan sosok potensial oleh Publik, antara Sandiaga Uno dan Prabowo, menampakkan Prabowo perlahan mulai kehilangan pamornya dan beralih ke Sandiaga Uno yang mulai merangkak naik menggantikan Prabowo.

Meski begitu, popularitas Sandiaga Uno masih kalah dibanding Prabowo, sebab Prabowo masih menjadi tokoh menteri yang tingkat popularitas tertinggi sebesar 94 persen, sedangkan Sandiaga Uno menempati urutan kedua sebesar 87 persen, (solopos.com, 4 Desember 2021).

Baca Juga: Amnesia Politik

Menguatnya pasangan calon Presiden-Wakil Presiden alternatif Ganjar Pranowo-Sandiaga Uno ini, menunjukkan kedua partai yakni PDIP dan Gerindra sama-sama surplus kader dibandingkan partai-partai lain.

Di lain sisi, pasangan alternatif ini juga memberikan pesan bahwa mengajukan pasangan Prabowo-Puan adalah pilihan dilematis ketika cenderung lebih sulit untuk mengupayakan kemenangannya.

Fgur Prabowo yang mulai cenderung ditinggalkan dan juga tak bisa diabaikan bahwa berdasarkan IPO juga menunjukkan bahwa ceruk persentase yang tidak suka Prabowo sekitar 15-17 persen, yang tidak suka Prabowo ini akan rentan mempromosikan anti-prabowo, (solopos.com, 4 Desember 2021).

Di sisi lain, Puan dengan elektabilitas yang masih di bawah 5 persen, tentu beresiko besar mengalami kekalahan. Jika Puan diposisikan sebagai Wakil Presiden, sedangkan sosok presidenya adalah Prabowo, ini menunjukkan PDIP malah memberikan porsi panggung besar kepada Gerindra.

Lingkaran Survei Indonesia (LSI) telah memberikan peringatan, akan terjadinya kegagalan hattrick pemenang Pemilu 2024 diraih oleh PDIP, dan malah Gerindra berpotensi menjadi pemenang Pemilu menggeser posisi PDIP, meski kecil kemungkinan (cnnindonesia.com, 17 Juni 2021).

Inilah yang ditenggarai hadirnya pasangan calon presiden dan wakil presiden alternatif dari koalisi PDIP-Gerindra yakni Ganjar Pranowo-Sandiaga Uno. Figur kedua eksekutif dari tingkat pusat dan daerah, dengan elektabilitas yang juga tinggi, sosok-sosok muda yang dianggap berhasil oleh publik sebagai pemimpin, tampaknya perlahan-lahan akan menguat dibandingkan pasangan Prabowo Subianto-Puan Maharani.

Meski begitu, nama pasangan calon Prabowo Subianto-Puan Maharani tetap beredar. Pasangan Prabowo-Puan disinyalir untuk menguatkan loyalitas dan konsolidasi di tingkat internal kepartaian masing-masing. Sekaligus sebagai alat ukur perbandingan antar pasangan dari koalisi PDIP-Gerindra dalam persentase besar penerimaan publik yakni apakah Ganjar-Sandiaga atau Prabowo-Puan yang akan membesar diterima oleh publik.

Dapat dipastikan kedua partai ini, dalam pengambilan keputusan antara Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto bahwa masing-masing juga akan menunggu moment dan waktu yang tepat untuk mengambil keputusan tentang berbagai kemungkinan menuju Pilpres 2024 mendatang. Keputusan itu cenderung tidak cepat disampaikan kepada publik. (*)

Artikel Terkait
Baca Juga