adplus-dvertising

Politisi Berempati, Bukan Pencitraan

M. Najib Husain, telisik indonesia
Rabu, 22 April 2020
5112 dilihat
Politisi Berempati, Bukan Pencitraan
Dr. M. Najib Husain, dosen FISIP UHO. Foto: Ist.

" Proses politik tidak akan dapat berlangsung tanpa adanya komunikasi (Eric Louw dan Almond). "

Dr. M. Najib Husain

Dosen FISIP UHO  

Proses politik tidak akan dapat berlangsung tanpa adanya komunikasi  


(Eric Louw dan Almond)

Riset tahun 2018 tentang manajemen komunikasi bencana di Provinsi Sulawesi Tenggara yang kami lakukan menunjukkan bahwa dari tiga tahapan dalam komunikasi bencana, yaitu komunikasi prabencana, komunikasi saat terjadi bencana dan komunikasi pascabencana.

Hasilnya kita sangat lemah dalam tahapan pertama yaitu komunikasi prabencana yang tidak lain merupakan tahapan mitigasi bencana, yang merupakan masa persiapan jika terjadi bencana, respons yang diberikan jika bencana itu datang dan tidak kalap ataupun sembrono dalam bertindak dan pemulihan situasi agar dapat memberikan rasa tenang pada saat bencana jika komunikasi prabencana itu dijalankan.

Jujur kita harus mengakui bahwa sekali lagi  kita gagal dalam mengantisipasi masuknya virus corana di Indonesia, padahal dalam tahapan pertama komunikasi prabencana dapat dilakukan dengan pendekatan soft power dan hard power dalam menangani covid-19.

Seharusnya sebelum Presiden Joko Widodo mengumumkan pada 2 Maret 2020, bahwa ada dua pasien orang Indonesia yang positif corona sudah harus ada langkah-langkah konkret yang dapat dilakukan oleh pemerintah yaitu pendekatan soft power adalah mempersiapkan kesiagaan masyarakat melalui sosialisasi dan pusat pemberitaan informasi yang legal tentang bencana covid-19.

Sehingga berita-berita hoax yang menurut Kemenkominfo hari ini ada 554 berita hoax tidak perlu terjadi dan hard power pembangunan fisik seperti membangun sarana komunikasi dan media center sebagai pusat informasi yang sudah mempersiapkan siapa yang akan jadi jubir (mereka yang paham dengan ilmu humas) jika bencana itu datang.

Sehingga argumentasi apa pun yang kita gunakan bahwa pemerintah sudah bertindak dan mengantisipasi covid-19 dalam kenyataan di lapangan semua dapat terbantahkan karena terjadi kegaduan baik di pusat maupun di daearah.

Saat ini sudah ada 6.248 orang yang positif corona yang sehat 631 orang dan yang meninggal 535 orang, dengan angka-angka ini Indonesia menempati posisi pertama untuk kasus corona di Asia Tenggara. Itu semua terjadi karena saat Indonesia belum ada kasus positif corona para pemimpin kita lebih asyik bermain kata-kata tentang kekuatan negara ini yang tidak akan ditembus oleh virus corona.

Saat awal virus ini masuk kita lebih banyak bermain dengan slogan baik itu lockdown, karatina wilayah, darurat sipil, darurat kesehatan sampai pada pembatasan sosial berskala besar (PSBB), dan kita lebih banyak saling menyalahkan.

Kesimpulannya sekali lagi kita adalah bangsa yang reaktif pada setiap persoalan dan bukan bangsa yang proaktif. Kalau kita sudah gagal di tahapan pertama masih ada dua tahapan yaitu tahapan saat terjadi bencana dan tahapan pascabencana yang tidak boleh gagal.

Pada tahapan saat terjadi bencana covid-19 sangat dibutuhkan uluran tangan semua pihak, termasuk para politisi yang saat sekarang ini sudah saatnya berempati pada masyarakat yang terdampak covid-19.

Baca juga: Politik Tak Hanya Pukul, Rangkul tapi Tafakur

Politisi berempati adalah politisi yang dapat ikut merasakan apa yang dirasakan oleh masyarakat yang terdampak covid-19 dan tidak melihat lagi dari partai politik apa, dari dapil apa mereka dan pendukungnya siapa semua hilang saat mereka sudah turun di lapangan dan memberikan bantuan.

Sehingga tidak perlu lagi ada sentilan di masyarakat bahwa saat masa kampanye semua sangat dekat dengan masyarakat, namun saat terjadi bencana virus corona semua hilang.  

Akhir-akhir ini di Sulawesi Tenggara para politisi sudah turun langsung ke lapangan untuk memberikan bantuan dan tidak ada berputar dan bertahan pada 3 fungsi dewan, walaupun persentase masih kecil dibanding para politisi yang ada di Senayan, provinsi maupun kabupaten/kota.

Maupun para kandidat yang akan bertarung pada Pilkada 2020 ini adalah lahan terbaik untuk berbuat baik, bukan kemudian menjauhi masyarakat. Banyak bantuan yang dapat dilakukan para kandidat jika tidak bisa secara langsung, maka para kandidat dapat memanfaatkan media sosial untuk menyampaikan pesan–pesan edukasi kesehatan maupun dengan meme politik yang bernuansa edukasi tentang pentingnya partisipasi masyarakat untuk tetap tinggal di rumah.

Jangan berpikir bahwa Pilkada 2020 belum jelas lalu perjuangan juga dihentikan, proses politik untuk pertarungan di 7 kabupaten tetap jalan dengan strategi yang lebih kreatif utamanya memanfaatkan ruang di dunia maya karena masyarakat yang tinggal di rumah sudah pasti sangat memanfaatkan kehadiran fasilitas-fasilitas komunikasi yang dimiliki.  

Dengan cara berempati maka politisi dapat memfasilitasi terjadinya proses berbagi dan mengkomuniksikan rasa yang dialami oleh masyarakat yang hidup susah saat ini terhadap pemerintah, bantuan yang diberikan baik dalam bentuk paket sembako, pemberian masker, membagi sabun pencuci tangan maupun APK bagi para pejuang kesehatan.

Bantuan–bantuan tersebut sangat dibutuhkan bagi masyarakat yang tidak punya pekerjaan tetap, masyarakat yang tidak punya gaji tetap setiap bulan yang hari ini harus “terpaksa”  tinggal dirumah.

Namun, yakin dan percaya bahwa kehadiran para politisi di tengah-tengah masyarakat yang membutuhkan bantuan bukan sekadar politik pencitraan, karena dalam praktik politik, dikenal bahwa politik pencitraan menjadi bagian strategi komunikasi politik yang bertujuan untuk meningkatkan elektabilitas.

Hilangkan semua prasangka negatif karena saat ini dibutuhkan adanya kerjasama dan kepedulian sosial semua pihak dan semua elemen agar masyarakat di Sulawesi Tenggara tetap aman dan terhindar dari covid-19. Semoga badai ini cepat berlalu. (*)

Artikel Terkait
Baca Juga