Mahasiswa UHO Kendari Raih Medali Perak di Malaysia Lewat Inovasi Terumbu Karang Ramah Lingkungan

Erni Yanti, telisik indonesia
Kamis, 04 Juni 2026
0 dilihat
Mahasiswa UHO Kendari Raih Medali Perak di Malaysia Lewat Inovasi Terumbu Karang Ramah Lingkungan
SUSTAINABLE Team Universitas Halu Oleo (UHO) usai meraih medali perak pada ajang 5th International Youth Summit 2026 di Universiti Putra Malaysia, Kuala Lumpur, Malaysia. Foto: Ist.

" Mahasiswa UHO yang tergabung dalam SUSTAINABLE Team berhasil meraih Silver Medal (Medali Perak) pada ajang 5th International Youth Summit yang berlangsung di Universiti Putra Malaysia, Kuala Lumpur, Malaysia, pada 29 Mei hingga 1 Juni 2026 "

KENDARI, TELISIK.ID - Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari.

Mahasiswa UHO yang tergabung dalam SUSTAINABLE Team berhasil meraih Silver Medal (Medali Perak) pada ajang 5th International Youth Summit yang berlangsung di Universiti Putra Malaysia, Kuala Lumpur, Malaysia, pada 29 Mei hingga 1 Juni 2026.

Kompetisi internasional tersebut diselenggarakan oleh Sentosa Foundation bekerja sama dengan Self Access Learning, Student Access Learning, serta Centre for Entrepreneurial Development and Graduate Marketability (CEM) Universiti Putra Malaysia.

Kegiatan ini mempertemukan pemuda dari berbagai negara, seperti Indonesia, Malaysia, Pakistan, Filipina, Maroko, Turkmenistan, dan Sudan Selatan untuk berkompetisi sekaligus bertukar gagasan mengenai inovasi dan pembangunan berkelanjutan.

Tim UHO yang meraih penghargaan tersebut terdiri atas Rony Febryan (Ilmu Komunikasi, FISIP angkatan 2023), Julian Ardi (Pendidikan Matematika FKIP angkatan 2023), Naila Cahya Anugerah (Fakultas Hukum angkatan 2023), Wa Ode Zahra Ar-Raihana (Fakultas Kedokteran angkatan 2024), dan Rizaldo (FKIP angkatan 2024).

Dalam kompetisi mereka memperkenalkan inovasi bertajuk Trapezoidal Artificial Reef, yakni terumbu karang buatan berbentuk trapesium yang dibuat menggunakan material beton ramah lingkungan dengan memanfaatkan berbagai jenis limbah sebagai bahan penyusunnya.

Baca Juga: SMKN 2 Kendari Buka SPMB 2026, Siapkan Kuota 720 Siswa di 14 Konsentrasi Keahlian

Material yang digunakan antara lain fly ash, cangkang kerang, dan sabut kelapa yang diolah menjadi konstruksi terumbu buatan yang kuat, berkelanjutan, serta berpotensi mendukung restorasi ekosistem pesisir dan laut.

Inovasi tersebut lahir sebagai respons terhadap kerusakan terumbu karang dan tingginya volume limbah yang belum termanfaatkan secara optimal.

Melalui pendekatan ekonomi sirkular, tim berupaya mengubah limbah yang selama ini dianggap tidak bernilai menjadi solusi nyata bagi pemulihan lingkungan pesisir.

Ketua tim, Rony Febryan, mengungkapkan bahwa perjalanan menuju kompetisi internasional tersebut penuh tantangan, terutama dalam membagi waktu antara perkuliahan dan persiapan lomba yang cukup intensif.

"Tantangan terbesar kami adalah mengatur waktu antara kuliah dan persiapan kompetisi. Selain itu, hampir seluruh anggota tim baru pertama kali mengikuti kegiatan di luar negeri, sehingga kami juga harus beradaptasi dengan lingkungan baru dan komunikasi menggunakan bahasa Inggris maupun bahasa Malaysia selama berada di sana," ujarnya kepada telisik.id, Kamis (4/6/2026).

Rony juga menceritakan awal terbentuknya tim yang akhirnya berhasil mengharumkan nama Indonesia di tingkat internasional.

Ia mengaku pertama kali mengetahui informasi mengenai kompetisi tersebut melalui media sosial Instagram.

Melihat peluang yang ada, ia kemudian mengajak sejumlah sahabat yang dinilai memiliki kemampuan berbeda namun saling melengkapi.

"Saya pertama kali mengetahui informasi lomba ini dari Instagram. Setelah itu saya mencari teman-teman yang menurut saya memiliki kompetensi yang bisa saling melengkapi. Ada yang memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik, ada yang unggul dalam komunikasi dan presentasi, serta ada yang kuat dalam pengembangan ide dan riset," kata Rony.

Menurutnya, keberhasilan tim meraih medali perak tidak terlepas dari kekompakan seluruh anggota yang berasal dari berbagai disiplin ilmu. Perbedaan latar belakang justru menjadi kekuatan utama dalam menyusun inovasi yang mampu bersaing di hadapan dewan juri internasional.

"Kami sudah sering berdiskusi dan berkolaborasi dalam berbagai kegiatan. Karena itu, komunikasi dalam tim berjalan dengan baik. Kolaborasi lintas jurusan menjadi keunggulan kami dan membuat tim semakin solid hingga mampu meraih prestasi ini," tambahnya.

Baca Juga: Delegasi APEKSI Susuri Wajah Kendari, Dari Bank Sampah hingga Pesona Pantai Nambo

Sementara itu, anggota tim Julian Ardi mengatakan tidak ada kendala berarti dalam pembagian tugas karena seluruh anggota saling mendukung dan memahami materi yang menjadi tanggung jawab masing-masing.

"Kami tidak mengalami kendala dalam pembagian tugas karena seluruh anggota tim saling mendukung dan memahami materi masing-masing. Tantangan terbesar justru terletak pada penyelarasan jadwal, mengingat kami berasal dari lintas jurusan dengan jadwal kuliah yang berbeda. Karena itu, kami sering memanfaatkan waktu malam untuk berdiskusi dan mengembangkan prototipe proyek," kata Julian.

Menurutnya, dukungan dari dosen pembimbing, keluarga, dan orang tua menjadi faktor penting yang mendorong semangat tim selama proses persiapan hingga pelaksanaan kompetisi.

"Beruntung, kami mendapat dukungan penuh dari dosen pembimbing, keluarga, dan terutama orang tua. Dukungan tersebut membuat kami semakin yakin untuk terus berproses dan menghadapi setiap tantangan dengan optimisme," tambahnya.

Diketahui mahasiswa tersebut merupakan alumni SMA Negeri 2 berhasil menorehkan prestasi internasional bersama rekan-rekannya di UHO. (B)

Penulis: Erni Yanti

Editor: Mustaqim

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga