MBG Resmi Disalurkan 5 Hari Sekolah, Berikut Daerah Tak Terpengaruh
Ahmad Jaelani, telisik indonesia
Senin, 30 Maret 2026
0 dilihat
Program MBG kini disalurkan lima hari, dengan pengecualian wilayah tertentu. Foto: Repro InfoBanknews
" Langkah baru distribusi gizi anak sekolah mulai diterapkan, dengan skema berbeda di sejumlah wilayah "


JAKARTA, TELISIK.ID - Langkah baru distribusi gizi anak sekolah mulai diterapkan, dengan skema berbeda di sejumlah wilayah.
Pemerintah resmi menetapkan penyaluran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi anak sekolah dilakukan selama lima hari dalam sepekan. Keputusan tersebut diumumkan dalam Rapat Koordinasi Tingkat Atas yang digelar secara virtual bersama Presiden pada Sabtu, 28 Maret 2026.
Kebijakan ini menyesuaikan dengan pola kegiatan belajar mayoritas sekolah yang berlangsung lima hari.
Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menjelaskan bahwa penerapan lima hari penyaluran MBG berlaku untuk sekolah dengan jadwal belajar serupa. Namun, terdapat pengecualian bagi wilayah tertentu yang masih membutuhkan intervensi lebih intensif terkait pemenuhan gizi anak.
"Pemberian MBG di hari Sabtu untuk daerah dengan risiko stunting tinggi merupakan langkah strategis memastikan anak-anak menerima gizi yang cukup setiap hari," jelasnya, seperti dikutip dari Detik, Senin (30/3/2026).
Baca Juga: Purbaya Pangkas MBG jadi 5 Hari Bisa Hemat Rp 40 Triliun, Begini Penjelasannya
Ia menambahkan, skema penyaluran program tetap fleksibel mengikuti kondisi sekolah di masing-masing daerah. Sekolah yang masih menjalankan kegiatan belajar enam hari dalam sepekan tetap akan menerima manfaat MBG selama enam hari.
"Jika sekolah lima hari, maka mereka akan mendapatkan MBG lima hari, sementara jika ada sekolah yang enam hari, maka MBG diberikan enam hari. Berdasarkan data yang ada, mayoritas lama sekolah lima hari," imbuhnya.
Pengecualian kebijakan lima hari ini berlaku khusus untuk wilayah 3T-terdepan, terluar, dan tertinggal-serta daerah dengan tingkat stunting tinggi. Pemerintah menilai, kelompok wilayah tersebut membutuhkan perhatian lebih agar kebutuhan gizi anak tetap terpenuhi secara optimal.
Dalam pelaksanaannya, Badan Gizi Nasional terus melakukan pendataan berbasis wilayah. Data tersebut mengacu pada Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang dirilis Kementerian Kesehatan, terutama untuk mengidentifikasi daerah prioritas intervensi gizi, termasuk di kawasan Indonesia timur.
Selain itu, koordinasi lintas sektor juga diperkuat dengan melibatkan dinas pendidikan dan dinas kesehatan di daerah. Pendataan mencakup jumlah sekolah, jumlah siswa, hingga tingkat prevalensi stunting di masing-masing wilayah.
"Integritas data sangat penting, karena program ini menyangkut kesehatan dan masa depan generasi muda. Kami tidak ingin ada anak yang tertinggal dari pemenuhan gizi," ujar Dadan.
Di sisi lain, Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, sebelumnya mengungkapkan adanya opsi efisiensi dalam pelaksanaan program MBG. Salah satu langkah yang dipertimbangkan adalah pengurangan frekuensi penyaluran dari enam hari menjadi lima hari dalam sepekan.
"Jadi ada efisiensi juga dari MBG. Jadi ada pengurangan cukup banyak tuh, yang dia bilang saja Rp 40 triliun hitungan pertama kasar, tetapi bisa lebih. Bukan saya motong ya, memang dia melakukan sendiri, karena dia (BGN) bilang masih bisa ada efisiensi dengan keadaan seperti sekarang ini," katanya.
Meski demikian, Presiden Prabowo Subianto memastikan bahwa program MBG tetap menjadi prioritas pemerintah di tengah kebijakan efisiensi anggaran. Ia menegaskan bahwa kondisi global, termasuk dampak konflik di Timur Tengah, tidak akan menghentikan program tersebut.
Baca Juga: Heboh Aturan Siswa Belajar di Rumah Mulai April 2026 dan MBG Tetap Jalan, Begini Penjelasannya
"Jadi, jangan ke arah oke ada krisis nanti kita hentikan MBG. Iya kan? Masih banyak cara lain yang kita bisa hemat. Masih banyak. Saya haqul yakin saya berada di jalan yang benar. Uang kita ada. Uang kita ada. Saya pertaruhkan kepemimpinan saya 2029 kita lihat," kata Prabowo.
Program MBG diposisikan sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia, terutama dalam menekan angka stunting. Selain berdampak pada kesehatan anak, program ini juga dikaitkan dengan penguatan ekonomi melalui rantai pasok pangan dan penyerapan tenaga kerja di sektor terkait.
Dengan skema baru ini, pemerintah menekankan bahwa penyaluran MBG tetap adaptif terhadap kebutuhan daerah. Wilayah dengan kerentanan tinggi tetap mendapatkan perlakuan khusus, sehingga tujuan pemerataan gizi bagi anak sekolah dapat berjalan sesuai rencana. (C)
Penulis: Ahmad Jaelani
Editor: Kardin
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS