BAUBAU, TELISIK.ID - Bagi masyarakat Buton, La Bolontio merupakan momok yang sangat menakutkan. Bagaimana tidak, bajak laut asal Tobelo itu kerap mengancam keamanan masyarakat Buton pada masa kerajaan atau sekitar 600 tahun lalu.

Banyak versi sejarah Buton menceritakan tentang kisah tragis terbunuhnya bajak laut asal Tobelo itu. Namun, untuk memastikan La Bolontio yang tewas saat itu, pembunuh harus mempersembahkan salah satu organ tubuh La Bolontio.

Terlepas dari organ apa yang dipersembahkan, semua sependapat bahwa pembunuh bajak laut bermata satu itu adalah Raja Buton ke enam yang juga Sultan Buton Pertama, La Kilaponto atau Sultan Murhum.

Pembunuhan itu terjadi melalui sayembara terbuka oleh raja kelima Buton, La Molae. Hadiah dalam sayembara itu adalah tahta. Artinya, siapa saja yang berhasil membunuh La Bolontio maka dialah pengganti La Molae menjadi raja keenam di Buton.

Dalam catatan sejarah Buton, kisah heroik La Kilaponto itu terjadi di teluk Kapontori, Desa Bone Tiro, Kecamatan Kapontori, Kabupaten Buton. Dengan tehnik melemparkan pasir menggunakan kaki tepat di mata, La Bolontio roboh dengan sabetan pedang La Kilaponto.