adplus-dvertising

Mengenal Kampung Janda, Bikin Laki-Laki Malas Pulang

Muhammad Israjab, telisik indonesia
Jumat, 04 Desember 2020
4189 dilihat
Mengenal Kampung Janda, Bikin Laki-Laki Malas Pulang
Kampung Janda wanitanya, rata-rata usianya adalah 25 sedangkan umur maksimalnya sekitar 50 tahun ke atas. Foto: Repro winnetnews.com

" Tapi menariknya, kampung yang memiliki nama sebenarnya yakni Kampung Batuah ini sudah selama 10 tahun terakhir dipenuhi oleh janda dari berbagai umur. "

BANJARBARU, TELISIK.ID - Beberapa tahun terakhir di Indonesia, ada banyak sekali nama kampung yang baru bermunculan.

Ini bisa terjadi mungkin karena adanya perubahan keadaan tempat dan orang-orangnya yang memang memiliki kebiasaan unik.

Maka, jangan heran kalau di setiap kota di Indonesia ada beberapa daerah dengan sebutan yang tak biasa alias unik. Seperti di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Kalsel) ada sebuah kampung yang memiliki nama unik, yakni Kampung Janda.


Pasti di antara kamu sekalian langsung menebak kenapa kampung tersebut dinamakan demikian? Tapi biar kamu makin jelas, ada beberapa hal yang menarik juga loh tentang Kampung Janda di Banjarbaru ini.

Dilansir dari berbagai sumber, awalnya Kampung Janda, sama saja dengan kehidupan di kampung yang ada di Indonesia.

Kampung yang dihuni kurang lebih 35 kepala keluarga ini juga memiliki aktivitas yang tak jauh berbeda dengan kampung lain.

Para lelaki mencari kerja dan kaum wanitanya melakukan pekerjaan di rumah.

Tapi menariknya, kampung yang memiliki nama sebenarnya yakni Kampung Batuah ini sudah selama 10 tahun terakhir dipenuhi oleh janda dari berbagai umur.

Kebanyakan umurnya 25 tahun ke atas, dan punya alasan bermacam-macam kenapa akhirnya memilih menjanda.

Ada yang karena suaminya meninggal, bercerai, ada juga yang janda dari beberapa suami kini tinggal satu lelaki saja. Sehingga kampung disini memang menganut paham poliandri.

Baca juga: Hasil Penelitian: Bekerja dari Rumah Tingkatkan Kinerja Karyawan di Indonesia

Jika seorang perempuan sudah berstatus janda, kadang dipandang negatif oleh sebagian orang.

Padahal sebenarnya itu bukan keinginan si wanitanya sendiri. Tapi entah kenapa masyarakat di Indonesia banyak yang mencemooh status tersebut.

Seperti yang terjadi pada kampung ini. Berawal dari bencana banjir yang pernah terjadi dan salah satu warga diwawancarai wartawan.

Tak sengaja warga yang bernama Nurhansyah ini mengatakan jika banyak korban yang sebagian besar adalah janda.

Nah, dari situ wartawan menyimpulkan bahwa tempat tersebut dijuluki Kampung Janda dan kemudian menyebar luas kemana-mana.

Nurhansyah pun merasa gerah dan ingin melaporkan ke polisi terkait dengan penyebutan tempat tinggal tercintanya ini.

Namun orang-orang di kampung itu tak setuju dan menyuruh membiarkan saja. Oleh karena itu, sampai sekarang sebutan Kampung Janda melekat pada lokasi itu.

Memang tak ada yang menyangka jika sebutan itu seperti menjadi doa bagi kampung yang ada di Banjarbaru ini.

Bagaimana tidak? Dari hari ke hari semakin banyak janda yang tersebar di setiap sudut kampung. Sampai-sampai bisa dihitung rumah yang tak ada jandanya.

Ketua RT menyebutkan bahwa hanya sekitar tiga rumah saja yang tak terisi janda.

Baca juga: Kendari Undercover: Penyesalan Wanita yang Termakan Rayuan Pacar hingga Lepas Keperawanan

Selain itu kebanyakan setiap rumah memiliki dua sampai tiga wanita yang menyandang status tersebut. Ada yang sebagai kepala keluarga dan anak dari janda yang telah menjadi bujang juga.

Di zaman sekarang, janda memang tak mengenal usia. Karena banyak pernikahan yang terjadi di antara umur 20 sampai 24 tahun.

Entah karena apa wanita tersebut menjadi janda di usia yang sangat belia, mungkin saja disebabkan perceraian atau sang suami meninggal.

Ketua RT setempat mengatakan, bahwa di kampung ini usia minimal janda adalah 25 sedangkan umur maksimalnya adalah sekitar 50 tahun ke atas.

Karena di sini banyak yang telah ditinggal suami, entah meninggal atau karena cerai sehingga membuat para wanita-wanita tangguh di kampung itu bekerja sebagai tulang punggung keluarga.

Lantaran mereka memiliki banyak anak, jadi ibu-ibu ini tidak bisa bekerja jauh dari rumah. Oleh karena itu, para janda di sana memutar otak agar bisa mencari uang di rumah saja.

Pada prosesnya, mereka lalu membuat oleh-oleh khas untuk wisatawan yang berkunjung ke sana.

Cinderamata yang disuguhkan adalah kain khas banjar yaitu Sasirangan, ada juga batu mulia, termasuk jajanan ringan seperti Amplang dan Dodol Kandangan.

Perubahan yang ada pada Kampung Janda ini awalnya memang tak enak untuk didengar. Kata janda yang disandang memang menunjukkan kesan negatif pada daerah tersebut.

Tetapi semuanya berubah semenjak para ibu yang ditinggal suaminya ini membuktikan bahwa kampungnya tak seburuk yang dikira orang-orang pada umumnya. (C)

Reporter: Muhammad Israjab

Editor: Haerani Hambali

Artikel Terkait
Baca Juga