adplus-dvertising

Panas, COVID-19 Disebut Sengaja Dikembangkan di Lab Wuhan dan Didanai Amerika

Ibnu Sina Ali Hakim, telisik indonesia
Kamis, 22 Juli 2021
5697 dilihat
Panas, COVID-19 Disebut Sengaja Dikembangkan di Lab Wuhan dan Didanai Amerika
Pemandangan udara laboratorium Institut Virologi Wuhan, China. Foto: Repro AFP

" Sidang Senat Amerika Serikat (AS) yang pada Selasa, berlangsung panas. "

WASHINGTON, TELISIK.ID - Sidang Senat Amerika Serikat (AS) yang pada Selasa, (20/7/2021), berlangsung panas.

Dalam sidang tersebut, senator AS dari Partai Republik Rand Paul menuduh ahli virologi yang juga penasehat medis Gedung Putih Dr. Anthony Fauci berbohong soal dana untuk penelitian di Institut Virologi Wuhan China.

Senator dari Kentucky tersebut mengatakan, penelitian itu mungkin berperan dalam mengembangkan virus corona baru atau COVID-19 di Lab Wuhan.


"Jika ketahuan berbohong kepada Kongres, KUHP AS menciptakan kejahatan dan hukuman lima tahun," kata Paul kepada Fauci selama persidangan, seperti dilansir Tempo.co.

Fauci, yang sebagian besar tenang dan diplomatis membalas dengan mengatakan, "Senator Paul, saya tidak pernah berbohong di depan Kongres, (dan) Anda tidak tahu apa yang Anda bicarakan."

Asal usul virus Corona baru telah menjadi isu yang memanas di Amerika Serikat. Partai Republik mendesak penyelidikan lebih lanjut apakah virus COVID-19 dikembangkan di laboratorium di Wuhan, Cina.

Biden pada akhir Mei, meminta para pembantunya untuk menyelidiki asal-usul virus dan melaporkan kembali dalam waktu 90 hari. Teori yang lebih umum adalah bahwa virus itu berasal dari hewan, mungkin kelelawar, dan ditularkan ke manusia.

Varian Delta yang lebih menular pertama kali ditemukan di India awal tahun ini. Sejak itu menjadi versi virus yang dominan di Amerika Serikat dan banyak negara lain.

Baca juga: Setelah Jadi Muslim, Mike Tyson Rajin Pakai Kopiah

Baca juga: Amerika Serikat Gagal Capai Target Vaksinasi, Facebook Tak Ingin Disalahkan

Kasus COVID-19 di 90 negara di seluruh dunia disumbang oleh varian Delta. Kematian akibat COVID-19 di Amerika Serikat rata-rata 239 per hari selama seminggu terakhir, hampir 48 persen lebih tinggi dari minggu sebelumnya.

Hal itu diungkapkan Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS Rochelle Walensky mengatakan selama persidangan.

Janet Woodcock, penjabat direktur Administrasi Makanan dan Obat-obatan AS mengatakan, sejumlah negara bagian masih memiliki persediaan vaksin. Produsen sedang bekerja menentukan masa simpan vaksin.

Sejumlah besar persediaan vaksin di Amerika Serikat yang tidak terpakai, bakal kedaluwarsa dalam beberapa minggu mendatang jika masa simpan tidak diperpanjang.

Menurut Fauci, CDC sedang meninjau data dari beberapa kelompok orang yang divaksinasi untuk menentukan berapa lama perlindungan dari suntikan COVID-19 berlangsung. Informasi itu akan digunakan untuk menentukan peran potensial suntikan booster tambahan.

Sebelumnya, dilansir Merdeka.com, Kepala WHO menyampaikan penyelidikan asal usul pandemi COVID-19 di China terhambat kurangnya data mentah hari-hari pertama penyebaran virus di negara tersebut dan mendesak China agar lebih transparan.

Tim yang dipimpin WHO bersama peneliti China menghabiskan empat pekan di kota Wuhan dan sekitarnya dan mengatakan dalam sebuah laporan bersama pada Maret bahwa virus kemungkinan ditularkan dari kelelawar ke manusia melalui hewan lain.

Laporan tersebut juga menyebutkan teori virus berasal dari kebocoran laboratorium tidak memungkinkan, namun sejumlah negara seperti Amerika dan para ilmuwan tidak puas dengan hasil tersebut.

“Kami meminta China transparan dan terbuka dan kooperatif,” kata Dirjen WHO, Tedros Adhanom dalam konferensi pers, dikutip dari South China Morning Post, Jumat (16/7/2021). (C)

Reporter: Ibnu Sina Ali Hakim

Editor: Fitrah Nugraha

Baca Juga