adplus-dvertising

Pandami dan Mengingatkan Kembali Kesadaran Sosial

Efriza, telisik indonesia
Minggu, 25 April 2021
858 dilihat
Pandami dan Mengingatkan Kembali Kesadaran Sosial
Efriza, Direktur Eksekutif Pusat Studi Kemanusiaan dan Pembangunan (PSKP). Foto: Ist.

" Apa yang dilakukan presiden Jokowi adalah upaya pemerintah untuk terus menggugah kesadaran sosial masyarakat. "

Oleh: Efriza

Direktur Eksekutif Pusat Studi Kemanusiaan dan Pembangunan (PSKP)

PANDEMI telah berlangsung selama satu tahun lebih, tetapi Presiden Joko Widodo (Jokowi) masih terus mengingatkan kepada semua pihak, jika pandemi COVID-19 itu nyata dan masih berlangsung di Indonesia. Sehingga, Presiden Jokowi juga terus meminta masyarakat tetap waspada.


Tindakan Jokowi ini dilakukan bukan tanpa sebab. Preseden yang bisa dilihat adalah di Negara India. Usai sempat mereda, kini India dilanda tsunami kasus virus COVID-19. Per Sabtu (17/4/2021), India melaporkan 260.778 kasus baru COVID-19 berdasarkan catatan Worldometers, (detik.com, Minggu 18 April 2021).

Indonesia pun sampai hari ini jumlah pasien yang terjangkit COVID-19 tepatnya 24 April 2021 kini tercatat 1.636.792 orang dengan penambahan 4.544 orang. Meski di saat yang sama juga menunjukkan ada penambahan pasien sembuh sebanyak 4.953 orang dalam 24 jam terakhir, (kompas.com, 24 April 2021).

Apa yang dilakukan presiden Jokowi adalah upaya pemerintah untuk terus menggugah kesadaran sosial masyarakat. Rasa jenuh tentu saja sudah menghinggapi masyarakat, apalagi pandemi ini juga menyebabkan terjadinya kemerosotan ekonomi masyarakat, rasa kekhawatiran sehingga apa yang terjadi di India memang bisa saja terjadi di Indonesia.

Pemerintah Memilih Tak Populer

Presiden Jokowi hingga kini memang memilih kebijakan tak populer. Ia masih tetap konsisten mengingatkan masyarakat, di tengah kejenuhan masyarakat. Tetapi pilihan kebijakan Presiden Jokowi ini, penulis rasa ini memang baik.

Baca juga: Reshuffle Kedua di Periode Kedua Presiden Jokowi

Pandemi COVID-19 ini sebenarnya telah menghadirkan nilai baru dalam berperilaku di masyarakat. Nilai-nilai itu berupa penerapan protokol kesehatan 3M, memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

Nilai ini semestinya, tetap terus diterapkan, karena pandemi ini diprediksi tidak akan cepat sirna, bahkan di prediksi minimal empat tahun, jika mematuhi protokol kesehatan, (kompas.com, 20 Januari 2021).

Sehingga, terus mengingatkan kembali kesadaran sosial adalah upaya minimal yang terbaik dari peran pemerintah.

Saat ini, memang mudah dijumpai bahwa segelintir masyarakat mulai menurunkan kewaspadaan, apalagi di lingkungan tempat tinggalnya. Kita akan mudah menemui di ruang publik, beberapa orang merasa santai saja tidak memakai protokol kesehatan. Bahkan ketika berkerumun, kembali berhadapan tanpa jarak, layaknya hal biasa dilakukan sebelum pandemi.

Saat ini proses vaksin masih terus berlangsung, tetapi negara India dapat dijadikan contoh. Ketika proses vaksin juga berjalan, bahkan negara sudah berhasil mencapai herd imunity.

Namun, karena euforia yang berlebihan dari masyarakat, terlena yang berlebihan, merasa bahwa virus itu telah hilang, malah yang terjadi adalah gelombang infeksi virus COVID-19 yang lebih buruk, bahkan melampaui Brasil yang juga mengalami gelombang baru corona.

Baca juga: Menyoal Suksesi Kepemimpinan Megawati Soekarnoputri

Situasi ini memang yang dikhawatirkan oleh Presiden Jokowi, adanya varian baru corona yang dapat menular lebih cepat, juga tetap mengintai kelengahan masyarakat, makanya kewaspadaan tetap perlu dipelihara.

Saat ini, pandemi situasi COVID-19 memang secara kurva sudah lebih baik. Tetapi kurva yang menurun ini, akan dapat menyebabkan kewaspadaan mengendur.

Sehingga dapat naik secara drastis, jika kita lengah dan tak waspada, inilah yang mendasari Presiden terus konsisten mengingatkan masyarakat akan kondisi pandemi.

Menghadapi Situasi Tak Pasti

Perjuangan melawan virus COVID-19 tidaklah mudah. Kesadaran sosial dari masyarakat memang tetap perlu didorong. Sebab vaksinasi COVID-19 tanpa disertai disiplin protokol kesehatan, dianggap tak akan efektif. Sehingga dalam kurun waktu beberapa bulan bahkan tahun ke depan, nilai-nilai baru ini semestinya juga tetap dijalankan.

Vaksin yang saat ini tentu saja diprediksi juga tidak begitu efektif melawan varian baru dari virus COVID-19 yang lebih menular. Sehingga pengembangan dan memodifikasi untuk melawannya adalah pekerjaan yang semestinya diperhatikan oleh pemerintah, agar tidak terjadi kehidupan kita selalu di belakang virus yang mengembangkan diri ini.

Oleh karena itu, ketidakpastian memang masih melanda dunia ini ke depan. Kehidupan kita saat ini hingga ke depan adalah kemungkinan terbesar tetap bersama dengan COVID-19, upaya tetap mematuhi protokol kesehatan adalah langkah efektif kita menjaga kesehatan bersama. (*)

TAG:
Artikel Terkait
Baca Juga